Rabu, 11 Maret 2020

Tulang Rusuk yang Patah


1
Kenangan dari Stik Es Krim

Hening. Hanya degup jantungku yang terdengar. Deru napas memburu sejurus kaki telanjang menapaki rumput hijau bermandi embun. Aroma bunga setaman menyeruak sesaki penciuman. Kupu-kupu bergerombol kabur saat aku melintasi.

Retina mengedar pandang menangkap sosok yang tak asing bagiku. Duduk manis membelakangi, menengadah awan yang saling berarak. Kudekati perlahan, gaun putih panjang menyibak keringkan embun pada rerumputan.

Desau angin menyapa lembut. Bias cahaya putih menyelimutinya. Semakin mendekat, terlihat jelas. Jemari keriput berpegang pada tongkat tua. Rambut putihnya ikut melambai terbawa angin. Kerut pada kening tak memudarkan rona wajah pucatnya.

Sekejap beradu pandang. Segaris senyum mengembang. Senyum itu lama sekali tak terlukis dibibirnya. Terakhir lenyap bersamaan dengan kelopak mata yang kompak mengatup. Aku tak percaya bisa menikmatinya lagi sekarang.

Aku ingin berlama-lama dengannya. Binar mata itu selalu menghangatkan, meski kurasa sejuk saat jemari saling bertautan. Sosok yang selama ini kurindukan saat malam menjelang, rindu akan celoteh bisingnya yang membuatku kabur ambil langkah seribu.

"Apa kabar, Kek?" sapaku menatapnya penuh rindu.

"Kabar Kakek baik, sangat baik." Kakek balas menatap sambil jemarinya mengelus lembut pucuk kepalaku.
“Aku ingin ikut Kakek, ya.” Aku memohon.

“Jangan, teruslah jalani kehidupanmu, jadi anak yang membanggakan Ibu dan Ayah. Anak sholeha kelak akan membawa kedua orang tuanya ke surga. Kita akan berkumpul di sana nanti.” Jawab kakek seraya berdiri.

“Kek ... Kakek ...!” seruku memanggil kakek yang begitu saja menghilang.

Aku terbangun, keringat sebesar biji jagung membanjiri dahi. Mimpi itu seperti begitu nyata. Seketika rindu ini kembali menyeruak dalam hati. Seperti baru kemarin aku kehilangan kakek yang begitu aku sayangi. Kembali memori ingatan berputar otomatis mengulang peristiwa duka itu.

Bendera kuning berkibar di depan rumah, orang-orang silih berganti berdatangan dengan raut wajah sendu penuh duka. Bisik-bisik lembut tersambung dari mulut ke mulut, jerit tangis pecah saat ambulans memasuki pekarangan dengan sirinenya yang menggaung menambah suasana duka makin terasa. Pintu ambulans dibuka, brangkar segera mungkin mereka usung ke dalam rumah, tubuh itu telah tertutup kain putih, wajah cerahnya dulu kini berganti pucat dan dingin.

Tubuhku berontak saat para tetangga berusaha menenangkan.

“Kakek belum meninggal, Kakek pasti hidup kembali. Kenapa tubuhnya ditutupi kain putih!” Aku berusaha menyibak tangan orang yang memelukku.

Kata sabar tak cukup membendung tangisku. Meski sekarang tubuhku mulai kehabisan tenaga terus berontak. Kulihat ibu lebih terpukul. Ibu meraung-raung di samping tubuh kakek. Memeluk kakek begitu eratnya. Sedang ayah hanya bisa mengusap-usap punggung ibu, berusaha menguatkan.

Kabar kepergian kakek jelas mengejutkan kami. Bagaimana tidak? Kakek tak pernah sakit parah. Tubuhnya masih segar bugar meski berusia 70 tahun. Masih bisa bekerja keras di kebun, masih bisa berdagang di pasar. Kakek memang perokok berat, tapi bukan rokok yang biasa terjual bebas di toko-toko. Ia meracik sendiri tembakau yang digulung pada selembar kertas rokok.

Bukan hanya kami yang sangat merasa kehhilangan, seluruh masyarakat desa Kemuning turut merasakannya. Meski kakek sangat dihormati dan dipandang sebagai tokoh desa yang sangat mengayomi, murah hati dan sangat peduli. Kakek tak pernah berbesar hati.

Kakek terbaring sakit tak lebih dari dua hari di rumah sakit. Siang itu aku dan ibu berencana untuk membesuk kakek. Semua perlengkapan sudah siap tinggal berangkat. Tapi urung saat kakakku mengabari kalau kakek sudah baik-baik saja, tak perlu khawatir. Kemungkinan besok sudah boleh pulang ke rumah.

Apalah daya jika takdir berkehendak lain. Kakek memang pulang, pulang ke rahmatullah dengan tenang. Kata ayah, kakek begitu senang saat melahap sepotong jeruk. Nyatanya itu jeruk terakhir yang kakek makan.

Aku melirik kotak yang berada di atas nakas. Kubuka perlahan dan mengeluarkan isinya. Sebuah stik es krim. Satu-satunya kenangan dari kakek yang masih aku simpan dengan rapi. Mengenangnya kembali sama saja memutar ingatan tentang cerita dibalik stik es krim itu. Katanya seseorang yang hendak meninggal itu meninggalkan tingkah yang berbeda selama masa hidup. Dan aku baru merasakannya sekarang.

“Ini es krim untuk kamu.” Kakek yang baru pulang dari berdagang di pasar tiba-tiba menyodorkan sebungkus es krim.

“Tumben sekali Kakek membelikan aku es krim. Biasanya selalu melarang kalau aku jajan es krim” Aku menerima es krim itu dengan perasaan heran.

“Sekali ini saja, siapa tahu kamu penasaran seperti apa rasa es krim.” Kakek terkekeh, lucu.

“Terima kasih, Kek,” ucapku girang mendapat sebungkus es krim.

Aku memang jarang sekali makan es krim. Kata ibu, es krim itu menyebabkan aku batuk dan flu. Memang benar, maka dari itu kakek melarang untuk sering-sering jajan es krim.

Tapi es krim dari kakek yang aku makan tidak menyebabkan sakit. Entah kenapa aku tak ingin membuang stik bekas es krim itu. Kusimpan rapi di sebuah kotak. Kakek begitu baik hari ini. Aku bergumam sendiri.

Kakek memang baik, selalu baik padaku, dari kecil aku selalu di sayang olehnya. Namun ada satu kejadian yang membuat kakek marah padaku. Saat aku tak sengaja memecahkan satu botol kecap barang jualan kakek. Tumpahannya berceceran mengotori lantai. Seharian kakek memarahiku. Aku begitu takut karena kakek selama ini tak pernah marah padaku.

Beberapa bulan semenjak kepergian kakek, ibu sudah terlihat semangat lagi. Bagaimana pun kakek adalah satu-satunya orang tua yang ibu miliki. Nenek meninggal ketika aku belum lahir. Sayang sekali, aku tak pernah tahu seperti apa rupa nenek. Pastinya tak jauh dari sifat ibu yang penyabar dan selalu peduli.

“Betapa sedih hati saat ditinggal pergi oleh tulang rusuk Kakek.” Aku dan kakek tengah bersantai berdua di teras rumah.

“Tulang rusuk?” Bukannya tulang rusuk Kakek masih ada.” Begitu polosnya aku saat itu menanggapi curahan hati kakek.

“Ya tentu masih ada di sini.” Kakek tertawa sambil menunjuk dadanya.

“Terus maksud Kakek tadi apa?” Desakku ingin tahu.

“Usiamu masih 12, mungkin belum terlalu mengerti dengan penjelasan Kakek.” Sebatang rokok dihisapnya dalam-dalam, asap mengepul keluar dari mulut.

“Mungkin aku tidak mengerti sekarang, Kek. Tapi suatu saat pasti aku akan mengerti.” Aku menatap dalam mata kakek.

“Baiklah.” Kakek memperbaiki posisi duduknya menghadap aku. Kamu tahu kisah Adam dan Siti Hawa? Adam adalah manusia pertama yang Allah ciptakan. Allah tidak ingin Adam hidup sendiri, kemudian Allah menciptakan seorang perempuan untuk memani Adam. Dan perempuan itu adalah Hawa. Lalu bagaimana Allah menciptkan Hawa?” Aku masih menyimak penjelasan yang kakek sampaikan.

“Hawa diciptakan Allah dari salah satu tulang rusuk Adam. Dengan tujun agar Adam dan Hawa saling melengkapi, berbagi suka duka sebagai pasangan.

“Begitu juga Kakek dan Nenek yang telah ditakdirkan Allah untuk berjodoh, dengan perumpamaan Nenek adalah tulang rusuk Kakek, maka dari itu kami saling melengkapi, berbagi suka duka sampai akhir hayat memisahkan. Kini Kakek sangat merindukan Nenek.” Tatapan mata kakek begitu sendu, lama ia terdiam setelah menuntaskan cerita.

Aku mengerti sekarang, kerinduan kakek selama ini yang membuatnya menjadi jatuh sakit. Meski masih ada kami yang menemani, tentu terasa kurang rasanya jika sang kekasih hati tak ada lagi, sekian lama. Semoga kakek bisa bertemu dengan nenek di surga Allah. Aamiin.

3 komentar:

John Ahmad mengatakan...

Makin bagus

Aysafitri114 mengatakan...

Makasih mas

Gendhuk Gandhes mengatakan...

Waw waw waw ... Emosinya dapet

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...