Part 6
Selang
beberapa hari, Fatimah beraktifitas seperti biasa. Mengajar di waktu siang
dengan anak-anak yang super aktif. Sungguh menguras emosi dan butuh kesabaran
ekstra. Bagi mereka yang aktif belajar bisa saja melesat jauh pemikirannya.
Namun untuk anak yang perlu bimbingan, perlu ketelatenan dalam memprosesnya.
Tetapi
dari mereka Fatimah banyak belajar. Bagaimana mengatur emosi, cara memotivasi
mereka, dan yang paling penting adalah perhatian yang adil. Kelak Fatimah juga
akan menjadi seorang ibu, tentu harus banyak belajar dari sekarang. Cara
mendidik anak yang berkarakter baik sesuai agama.
Sementara
di rumah Fatimah. Empat orang sedang asyik mengobrol. Kedua orang tuanya,
kakaknya dan satu lagi teman satu kerja kakak Fatimah. Abdullah. Iya, sepulang
kerja tadi kakak Fatimah mampir ke rumah dengan membawa Abdullah. Kebetulan
hari Sabtu jam kerjanya hanya sampai pukul dua.
“Jadi
langsung saja, Pak, Bu. Maksud kedatangan saya ke sini yang pertama, untuk
bersilahturahim dengan keluarga Bapak. Karena saya sudah lama mengenal Putra
selaku teman kerja saya. Maka ingin pula saya mengenal Bapak dan Ibuk. Yang ke
dua, saya bermaksud meminta izin kepada Bapak, untuk berta’aruf dengan Fatimah,
putri Bapak.”
Akhirnya
kalimat itu terucap juga. Susah payah Abdullah menyiapkan agar tidak salah
ucap. Debaran jantungnya yang tadi berpacu hebat, kini mulai bisa di kontrol.
Tangan Abdullah berkeringat dingin menahan gerogi. Hanya beberapa kata namun
sulit jika sudah berurusan dengan perasaan.
Selama
ini sudah berbagai ikhtiar dijalani, menitipkan Cv ta’ruf kepada ustaznya. Dan
yang paling penting, Abdullah tidak pernah menutup diri jika ada perempuan yang
mengajukan ta’ruf padanya. Lewat email, meminta menemui abinya, bahkan ada yang
ibunya menelepon Abdullah menawarkan anaknya. Namun belum ada yang cocok bagi
Abdullah.
Bukan
tanpa alasan mengapa Abdullah seberani itu. Hanya sosok Fatimah yang
akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Hati terus membuncah, apa lagi ingat
pertemuannya dengan Fatimah Ahad kemarin. Ingin rasa berucap langsung pada
Fatimah, namun lidah terasa kelu. Maka dari itu dia menyampaikan lewat Putra,
kakak Fatimah.
“Nak
Abdullah sudah lama mengenal Fatimah?”
“Belum,
Pak. Saya hanya mengenal sedikit dari sosial media, yang ternyata Fatimah
adalah adik Putra. Saya juga mendengar tentang Fatimah melalui Putra.”
Menepuk
pundak anaknya, Putra.
“Kamu
kok ndak cerita-cerita le, ada yang ingin dekat dengan adikmu.”
“Biar
jadi kejutan, Pak. sahut Putra sambil senyum sumringah.
“Memang aku sudah kenal lama dengan Abdullah.
Sekitar setahun yang lalu saat dia pindah kerja dari Pekanbaru ke Jambi. Tetapi
baru-baru minggu lalu tahu, kalau dia kenal juga dengan Fatimah, Pak.” Lanjut
Putra menjelaskan.
“Oalah
... ngono to Nduk? Alhamdulillah,
kita di pertemukan oleh Allah dengan cara yang indah.” Ibunya Putra ikut
berbicara.
“Enggih, Bu Alhamdulillah. Tapi maaf saya
baru sekarang main ke sini” jawab Abdullah tersipu malu.
“Ya
nggak masalah bagi kami ya kan, Pak?” Ibunya Putra melirik ke suaminya.
“Wong membawa niat baik-baik kok di tolak.
Pamalih itu.” sambung Ayahnya Putra.
“Insya
Allah aku akan jadi Kakak iparmu. Ha hah. Putra menyikut Abdullah.
“Alhamdulillah
jika Bapak dan Ibu menerima kedatangan saya, dan insya Allah rekan kerja saya
ini akan berubah menjadi Kakak ipar saya.” Menjawab omomgan kedua orang tua
Putra dan melirik sebentar ke Putra melayangkan candaannya.
Ketegangan
berubah menghangat. Abdullah bersyukur keluarga Fatimah begitu ramah mau
menerima niat baiknya.
“Abdullah ini selepas acara bakti sosial Ahad
kemarin cerita kalau ingin mengajukan ta’aruf dengan Fatimah. Jelas aku kaget
sekaligus seneng, karena diam-diam selama ini Abdullah tertarik dengan Fatimah.
Jadi mumpung ada waktu luang juga, aku bawa di ke rumah, Pak.” Kembali Putra menjelaskan
pada orang tuanya.
“Kalau
Bapak sama Ibu setuju-setuju saja, ya kan Bu.” Ayah Putra meminta persetujuan
istrinya.
“Iya
Nak Abdullah. Kami seneng akhirnya putri bungsu kami ada yang ingin berniat
serius.” Ibunya Putra juga menyetujui niat baik Abdullah.
“Tapi
ya semuanya tergantung bagaimana Fatimah. Karena dia yang akan menjalankannya
nanti. Berhubung Fatimah belum pulang dari mengajar, sore dia baru pulang. Atau
Nak Abdullah mau menjalin komunikasi dulu dengan Fatimah?” ujar ayah Fatimah
menawarkan.
“Emm
... sepertinya Fatimah bakal malu Pak kalau chattingan dengan Abdullah. Biar
lewat aku saja bagaimana keputusan Fatimah.”
“Ya
sudah, bagaimana baiknya saja. Nanti kalau sudah pulang mengajar akan Bapak
sampaikan ke Fatimah. Biar dia kabari lewat Putra.”
“Ayo
monngo Nak di minum lagi tehnya sama itu
ada kue jangan di anggurin.” Ibunya Fatimah mempersilahkan.
“Enggih, Bu.” Abdullah mengambil segelas
teh yang sedari tadi hanya terminum sedikit untuk menetralkan perasaanya.
Bercengkrama
sebentar lalu Abdullah izin pamit, begitu juga Putra. Dia pulang ke rumah
mertuanya bersama Abdullah. Tergopoh-gopoh ibunya Putra membawa dua kresek
putih berisi pisang. Satu di serahkan pada Putra dan satu lagi untuk Abdullah.
Abdullah yang menerima itu tersanjung sekali.
Pukul
setengah lima sore Fatimah telah sampai di rumah. Memarkirkan motornya dan
masuk ke rumah sambil mengucap salam. Terlihat kedua orang tuanya duduk santai
di ruang tamu sambil bercengkrama. Fatimah menghampiri dan mencium takzim
tangan kedua orang tuanya.
Setelah mandi badan Fatimah terasa segar,
beban pikiran hari ini pudar. Dia ingin menyampaikan sesuatu kepada orang
tuanya. Bagaimana hasilnya nanti pasrah lillahita’ala. Ini sudah keputusan yang
di ambilnya. Meski berat memilih harus merelakan satu di antara lelaki yang selama
ini dia suka.
“Pak,
Bu.” Fatimah menyapa dan duduk di seblah ibunya.
“Tadi
Kakakmu ke sini loh, Nduk.” Belum sempat
Fatimah mengutaran, ibunya sudah membahas kedatangan kakaknya.
“Iya
... tapi sama temennya.” sambung bapaknya.
“Siapa,
Pak? tanya Fatimah.
“Abdullah,
Nduk.” Ibunya yang menjawab.
“Loh
kok tumben Kakak bawa temennya ke rumah, Bu?” Kening Fatimah berkerut
penasaran.
“Itu
dia mau berta’aruf sama kamu, Nduk.” Ujar
bapaknya menjelaskan.
Fatimah
tercekat, kaget bukan main. Nafas seakan berat dia hembuskan. Terjebak kebingungan,
lantaran dia akan menyampaikan bahwa telah menerima tawaran ta’aruf dengan
seseorang. Sekarang Abdullah muncul di saat dia telah menerima tawaran itu. Meski
telah mempertimbangkan mana yang dia pilih. Tetap saja ada desiran tak enak di
hatinya.
“Bagaimana
menurutmu, Nduk? Pertanyaan ibunya membuyarkan lamunannya.
“Tapi
... maaf Pak, Bu ... aku sudah terlanjur menerima tawaran ta’aruf lebih dulu
dari lelaki lain. Besok mau bersilahturahim ke sini. Dia sepupu Rifa, temanku. Lelaki
itu namanya Al - Fariz. Tadinya aku mau menyampaikan itu sama Bapak dan Ibu. Dan
maaf baru memberi tahu soal ini.” Fatimah tertunduk, melilin ujung jilbabnya.
“Yo wis ndak masalah, Nduk. Bapak ikuti
saja mana yang menurut hatimu sreg.” Ucapan
bapaknya menenangkan.
“Ibu
juga ndak masalah, Nduk. Selama itu baik dan membahagiakanmu,
Ibu juga akan ikut bahagia.” Ibunya mengelus pucuk kepala Fatimah.
“Kasih
kabar Kakakmu, Nduk. Jelaskan sama
dia kalau kamu sudah menerima tawaran ta’aruf laki-laki lain. Nanti Kakakmu
yang akan menyampaikan sama Abdullah.”
“Terima
kasih, Pak Bu ... selalu mendukung untuk kebahagianku.” Mata Fatimah
berkaca-kaca.
“Iyo,
Nduk.” jawab ibunya sambil tersenyum begitu juga bapaknya.
Usai
menelepon sang kakak di hadapan kedua orang tuanya, Fatimah izin ke kamar. Menghempaskan
tubuh mungilnya ke ranjang menatap nanar langit-langit kamar. Sejak tadi dia
bendung air yang ingin menganak sungai di matanya. Kini tak kuat lagi bendungan
itu, tumpah bebas ke pipi. Hatinya di antara bahagia sekaligus sedikit sesal
menyeruap.
Mungkin
sedikit lebih cepat saja Abdullah mengajukan ta’aruf kepada Fatimah, pasti
sudah dia terima tanpa mempertimbangankan yang lain. Atau jika saja Fatimah
tidak bertemu Rifa, dia tidak akan menerima Cv ta’aruf itu. Qadarullah. Sebuah jalan
yang telah Allah tunjukan pada Fatimah untuk bertemu jodohnya.
“Jika kamu mencintai dua orang
dalam waktu yang sama, pilihlah yang kedua. Karena jika kamu memilih yang
pertama, kamu tidak akan jatuh cinta pada yang kedua.”
Fatimah
bergumam membaca quotes yang tertera pada layar ponselnya. Berawal dari
pertemuan dengan Abdullah dan di susul oleh kemunculan lelaki yang telah lama
dia pendam rasanya, Fariz. Debaran hebat hati Fatimah telah menunjukkan ke mana
arah yag dituju.
Dia
telah memilih Fariz untuk menjadi kepingan hatinya. Kepingan hati yang telah
lama hilang kini kembali pada Fatimah. Sekeping hati untuk Fatimah telah terpaut
dalam untaian doa dan harapan. Bahagia menyelimuti di sekeping hati, smpai akhir hayat memisahkan diri.
_End??

2 komentar:
Serius sudah end?
Mau dilanjutin y hehe
Posting Komentar