Jumat, 25 Oktober 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah_5

Part 5

            Selepas makan malam Fatimah berkumpul dengan kedua orang tuanya di ruang tamu. Canda tawa sesekali menyelingi obrolan mereka. Fatimah anak bungsu, Putra adalah kakak satu-satunya. Jadi Fatimahlah yang selalu menemani kedua orang tuanya di rumah. Entah bagaimana nanti kalau Fatimah sudah menikah dan tinggal dengan suaminya. Sepi.
            “Bagaimana tadi acara bakti sosialnya, Fatimah? tanya Bapak Fatimah.
            “Alhamdulillah lancar, Pak. Seru juga ramai.” sahut Fatimah yang sedang mengupas pisang.
            “Loh Kakakmu Ndak di suruh mampir to, Nduk? Ibunya datang dari dapur membawa segelas kopi untuk bapak Fatimah.
“Tadi sudah aku bilang ke Kakak, Bu. Katanya sudah sore, besok saja mampirnya pulang dari kerja.” Fatimah menjelaskan, sesaat pisang yang di kupas tadi telah habis di lahapnya.
“Itu ada banyak pisang sudah mateng-mateng, nanti keburu busuk. Biasanya Kakakmu paling suka.”
“Ya sudah, Bu. Besok kan dia ke sini, masih tahan kok pisangnya nggak bakal busuk.” Bapaknya Fatimah menyahut.
“Iya asal jangan di habisin sama Bapak pisangnya.” Ibunya Fatimah melirik suaminya yang ingin mencomot pisang yang masih tersisa dalam piring.
Diletakkannya kembali pisang yang ingin bapaknya Fatimah ambil. “Nggak-nggak, Bu. Baru juga makan tiga biji.”
“Tiga, Pak? Terus yang tadi sebelum makan, ngambil pisang siapa ya? Fatimah menyelidik Bapaknya yang cengar-cengir.
“Tuh kan Bapak!” Ibunya Fatimah mendengus kesal dengan suaminya.
Fatimah yang melihat kejadian itu hanya geleng-geleng kepala sambis tertawa. Hanya soal pisang saja bisa menjadi bahan keributan untuk mereka. Tapi itulah yang menjadi bumbu penyedap sebuah rumah tangga. Tak apa ribut asal mengundang kelucuan dari pada ribut mengundang kekacauan.
Selesai perkara pisang mereka beranjak menunaikan salat isya. Usai salat Bapaknya Fatimah memilih menonton televisi di temani ibunya. Fatimah pamit ke kamar untuk istirahat. Kegiatan hari ini cukup menguras tenaga, juga pikiran. Sebelum bersiap tidur, dia ingat Cv ta’aruf yang di berikan Rifa. Membuka tas ransel dan mengeluarkan isinya.
Dengan mengucap basmalah perlahan Fatimah membaca Cv yang di pegang. Tangannya gemetar, debaran jantung berpacu lebih cepat dari mulut yang membaca. Terlihat semu merah di kedua pipi. Perasaan seketika ingin terbang begitu tahu siapa orang yang ingin berta’aruf dengannya.
Al - Fariz atau biasa di panggil Fariz. Kakak tingkat Fatimah sewaktu kuliah, satu jurusan dengannya. Sosok lelaki yang pertama kali Fatimah suka pada pandangan pertama, sebelum dia berhubungan serius dengan Aris. Fariz yang dulu menjadi kakak voluntir  Fatimah pada saat masa Ospek jurusan.
Fariz adalah sosok lelaki yang humoris, tak jarang Fatimah mencuri pandang saat sedang bercengkrama dengan teman-temannya. Berpawakan sedang, hitam manis, hidung yang mancung dengan alis yang tebal. Tak pelak setiap bertemu Fariz, Fatimah selalu beristigfar. Cepat-cepat menundukkan pandangan.
Semasa kuliah, Fatimah dan Fariz tidak banyak bertemu. Apa lagi obrolan panjang, jarang sekali terjadi. Berpapasan hanya saling berbalas senyum. Pernah ketahuan tentang perasaan Fatimah kepada Fariz. Gara-gara teman Fatimah yang lumayan akrab dengan Fariz, usil berbicara lewat pesan bahwa Fatimah  menyukai Fariz.
Pesan itu tidak begitu di respon oleh Fariz, mungkin dia menganggapnya hanya candaan biasa. Tapi Fatimah, sejak kejadian itu dia sangat malu jika berpapasan dengan Fariz. Perlahan mulai menyurutkan rasanya. Meski belum benar-benar surut. Setiap kali bersitatap dengan Fariz debaran hatinya tidak dapat di kontrol. Dulu.
Dan sekarang, rasa itu kembali menyerbu hati Fatimah. Seakan lupa kejadian tadi siang saat bertemu dengan Abdullah. Lelaki yang juga dia suka, walau baru beberapa bulan yang lalu. Benar-benar tidak di sangka oleh Fatimah, seindah ini jalan Allah kabulkan keinginan yang pernah dia mohon.
Di sepertiga malam, Fatimah terbangun. Bayangan dua sosok lelaki yang sama-sama dia sukai kembali muncul. Menggugah Fatimah untuk segera memohon petunjuk kepada yang Maha Cinta. Usai mengambil air wudu, Fatimah menggelar sajadah. Mulai bercengkrama dengan Rabnya.
Terhanyut dalam suasana heningnya malam, begitu damainya hati jika sudah memasrahkan segala yang dirisaukan. Memohon kemantapan hati, kelancaran dan  jalan yang diridhai-Nya. Jika berjodoh serumit apapun, pasti akan menemukan jalan untuk pertemuan, begitupun jika tidak berjodoh, seindah apapun pasti akan menemukan jalan perpisahan.
Tidak hanya sekali dua Fatimah beristikharah. Setelah hatinya yakin dan mantap atas petunjuk-Nya. Hilang semua beban yang bergelayut di pikirannya selama ini. Mengembuskan nafas ketenangan setelah Fatimah memberi kabar lewat pesan kepada Rifa. Inilah pilihan yang terbaik dari Allah untuknya. Semoga.



_Bersambung

13 komentar:

Riban Toples Satir dan Narasi mengatakan...

Semoga pilihan kali ini, jatuh pada seseorang yang tepat

https://heninyi.blogspot.com/2019/09/belajar-menulis-puisi.html mengatakan...

Ya kita hanya berencana...

Aysafitri114 mengatakan...

Aamiin insya Allah

Aysafitri114 mengatakan...

Allah lah yg menentukan

Lilis Fauzi-Odop7 mengatakan...

😉👍

Anis Hidayati mengatakan...

1. Ceritanya nyantai dan keren
2. Di yg diikuti kata kerja hrs tdk terpisah, ex: disatukan, dilakukan
Jadi bukan di satukan, di lakukan dst

Aysafitri114 mengatakan...

Mkasih mbak ilmunya

Restanti mengatakan...

Fatimah sosok perempuan yang tangguh

Aysafitri114 mengatakan...

He emm mbak

niozaharani mengatakan...

Yes, kita cuma disuruh milih, Allah yg menentukan😁

Aysafitri114 mengatakan...

Iya bner

karya ROSE mengatakan...

Kutunggu cerita selanjutnya

Aysafitri114 mengatakan...

Sudah ada lanjutannya mbak

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...