Kamis, 24 Oktober 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah_4

Part 4

Usai melaksanakan salat, Fatimah termenung. Ingat kali pertama mengenal Abdullah lewat sosial media, membaca tulisan-tulisannya membuat Fatimah tersentuh. Banyak tulisan yang memotivasi dan menginspirasi. Hanya lewat aksara saja dia telah membuat Fatimah jatuh hati. Berharap jika suatu saat dipertemukan dengan Abdullah.
Hari ini terjawab sudah harapan Fatimah. Lelaki berwajah teduh dengan tulisan-tulisan yang menyentuh, lelaki yang amat dia kagumi. Kini berdiri dihadapannya dengan senyum yang nyata. “Sungguh beruntung sekali wanita yang kelak mendapatkan Abdullah.” Fatimah bergumam.
“Hey! Assalamu’alaikum, Fatimah.” Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundak Fatimah. Refleks, kaget dan gugup dia menjawab salam.
“Wa ... waalaikumussalam, masya Allah Rifa, kamu buat aku terkejut saja.” Fatimah mengelus dada.
“Habis kamu melamun terus dari tadi aku panggil-panggil nggak nyaut-nyaut.” Sungut Rifa, sahabat Fatimah di kampus dulu.
“Iyakah aku melamun? Ya Allah maafin aku, Fa.”
“Hem ... kamu mikirin apa hayo? Jangan banyak pikiran nanti cepat tua, belum menikah lagi, he he.”
“Bisa saja kmu, Fa.” Eh kok kamu di sini? tanya Fatimah.
“Aku tadi temani Mama, ngasih donasi bulanan untuk panti ini, dan kebetulan sudah asar jadi aku salat dulu, eh ketemu kamu lagi melamun.” Sahut Rifa menjelaskan.
“Terus mana Mamamu?
“Lagi di toilet sepertinya. Eh iya aku mau salat dan kamu jangan pulang dulu. Mumpung ketemu di sini, ada yang mau aku sampaikan ke kamu.”
“Tentang apa itu? Fatimah berrtanya, penasaran.
“Makanya kamu jangan pulang dulu, nanti aku kasih tahu.”
“Kebiasaan kamu, Fa. Selalu buat aku penasaran.”
“Ya sudah aku salat dulu.”
Obrolan terjeda antara mereka, bersamaan dengan itu ponsel Fatimah berdering. Panggilan dari kakaknya.
“Iya kak ada apa? Setelah menjawab sapaan di seberang sana.
“Kamu masih di dalam masjid? Ayo kita pulang, Kakak tunggu di depan.”
“Kakak pulang duluan saja, aku ketemu dengan Rifa, ada yang mau dia omongin ke aku tapi sekarang dia lagi salat, jadi aku nunggu dia, Kak.” Jelas Fatimah.
“Oh baiklah, Kakak pulang dulu dengan Abdullah.”
“Iya Kak hati-hati, oh ya kata Ibu, kalau Kakak sempat mampir ke rumah.” Fatimah ingat pesan ibunya tadi.
“Sudah sore, Dek. besok saja sepulang Kakak kerja, Mbakmu nelepon barusan katanya Kia nanyain Kakak terus.”
“Ya sudah kalau begitu, Kak.”
Sambungan telepon terputus, ada rasa sesal di diri Fatimah karena tidak sempat melihat Abdullah menjelang mereka puang. Tapi dia juga penasaran apa yang akan di sampaikan oleh Rifa. Beberapa saat menunggu, Rifa telah selesai salat.
“Nggak masalahkan kamu pulang agak sorena? Soalnya ini penting.” Rifa membuka percakapan setelah membereskan mukenanya.
“Iya nggak masalah, Fa. Memang apa yang mau kamu sampaikan? Aku sudah penasaran dari tadi.” Sahut Fatimah dengan wajah penasaran.
Rifa mengeluarkan beberapa lembaran kertas dari tasnya dan menyerahkan pada Fatimah.
“Itu ada yang menitipkan Cv ta’aruf sama aku, untuk di sampaikan ke kamu. Dia sepupuku, orangnya humoris dan yang pasti sholeh. Insya Allah cocok untuk kamu.” Terang Rifa menjelaskan.
“Tapi Fa ... ucapan Fatimah terpotong.
“Kamu pikir-pikir dulu dan istikharah, minta petunjuk. Jika sudah mantap, kabari aku secepatnya ya.”
“Aamiin, insya Allah, akan aku pertimbangkan dulu, Fa. Mohon doanya juga ya.”
“Semoga dia jodoh terbaik untukmu. Aamiin. Jangan lupa kabri aku bagaimana selanjutnya.”
“Iya, Insya Allah, Fa.”
Obrolan berlanjut panjang lebar, maklum sudah lama tidak bertemu. Sampai waktu hampir beranjak senja, akhirnya merekapun memutuskan untuk pulang. Berpelukan melepas perpisahan dan saling berucap hati-hati di jalan. Rifa dan mamanya lebih dulu meninggalkan Fatimah dengan taksi online yang dipesannya.
Sedangkan Fatimah, hatinya gamang atas apa yang terjadi hari ini. Kebahagian bertemu orang yang selama ini dia tunggu pertemuannya sekaligus bingung dengan Cv ta’aruf yang dia terima dari Rifa. Dengan langkah gontai dia menuju parkiran, menaiki motor bebeknya dan menstater. Pulang adalah jalan kembali untuk pikiran segera tenang.


_Bersambung

4 komentar:

yogi riyansyah mengatakan...

Di sambung terus bisa bisa jadi novel itu kak ceritanya 😁

Aysafitri114 mengatakan...

Pengennya si gitu hehe

lely mengatakan...

setia nunggu part selanjutnya, udah gak sabar kak

Aysafitri114 mengatakan...

Udah ada lanjutannya mbak

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...