Usai
melaksanakan salat, Fatimah termenung. Ingat kali pertama mengenal Abdullah
lewat sosial media, membaca tulisan-tulisannya membuat Fatimah tersentuh. Banyak
tulisan yang memotivasi dan menginspirasi. Hanya lewat aksara saja dia telah
membuat Fatimah jatuh hati. Berharap jika suatu saat dipertemukan dengan
Abdullah.
Hari
ini terjawab sudah harapan Fatimah. Lelaki berwajah teduh dengan
tulisan-tulisan yang menyentuh, lelaki yang amat dia kagumi. Kini berdiri
dihadapannya dengan senyum yang nyata. “Sungguh beruntung sekali wanita yang
kelak mendapatkan Abdullah.” Fatimah bergumam.
“Hey!
Assalamu’alaikum, Fatimah.” Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk
pundak Fatimah. Refleks, kaget dan gugup dia menjawab salam.
“Wa
... waalaikumussalam, masya Allah Rifa, kamu buat aku terkejut saja.” Fatimah mengelus
dada.
“Habis
kamu melamun terus dari tadi aku panggil-panggil nggak nyaut-nyaut.” Sungut Rifa,
sahabat Fatimah di kampus dulu.
“Iyakah
aku melamun? Ya Allah maafin aku, Fa.”
“Hem
... kamu mikirin apa hayo? Jangan banyak pikiran nanti cepat tua, belum menikah
lagi, he he.”
“Bisa
saja kmu, Fa.” Eh kok kamu di sini? tanya Fatimah.
“Aku
tadi temani Mama, ngasih donasi bulanan untuk panti ini, dan kebetulan sudah
asar jadi aku salat dulu, eh ketemu kamu lagi melamun.” Sahut Rifa menjelaskan.
“Terus
mana Mamamu?
“Lagi
di toilet sepertinya. Eh iya aku mau salat dan kamu jangan pulang dulu. Mumpung
ketemu di sini, ada yang mau aku sampaikan ke kamu.”
“Tentang
apa itu? Fatimah berrtanya, penasaran.
“Makanya
kamu jangan pulang dulu, nanti aku kasih tahu.”
“Kebiasaan
kamu, Fa. Selalu buat aku penasaran.”
“Ya
sudah aku salat dulu.”
Obrolan
terjeda antara mereka, bersamaan dengan itu ponsel Fatimah berdering. Panggilan
dari kakaknya.
“Iya
kak ada apa? Setelah menjawab sapaan di seberang sana.
“Kamu
masih di dalam masjid? Ayo kita pulang, Kakak tunggu di depan.”
“Kakak
pulang duluan saja, aku ketemu dengan Rifa, ada yang mau dia omongin ke aku
tapi sekarang dia lagi salat, jadi aku nunggu dia, Kak.” Jelas Fatimah.
“Oh
baiklah, Kakak pulang dulu dengan Abdullah.”
“Iya
Kak hati-hati, oh ya kata Ibu, kalau Kakak sempat mampir ke rumah.” Fatimah ingat
pesan ibunya tadi.
“Sudah
sore, Dek. besok saja sepulang Kakak kerja, Mbakmu nelepon barusan katanya Kia
nanyain Kakak terus.”
“Ya
sudah kalau begitu, Kak.”
Sambungan
telepon terputus, ada rasa sesal di diri Fatimah karena tidak sempat melihat
Abdullah menjelang mereka puang. Tapi dia juga penasaran apa yang akan di
sampaikan oleh Rifa. Beberapa saat menunggu, Rifa telah selesai salat.
“Nggak
masalahkan kamu pulang agak sorena? Soalnya ini penting.” Rifa membuka
percakapan setelah membereskan mukenanya.
“Iya
nggak masalah, Fa. Memang apa yang mau kamu sampaikan? Aku sudah penasaran dari
tadi.” Sahut Fatimah dengan wajah penasaran.
Rifa
mengeluarkan beberapa lembaran kertas dari tasnya dan menyerahkan pada Fatimah.
“Itu
ada yang menitipkan Cv ta’aruf sama aku, untuk di sampaikan ke kamu. Dia sepupuku,
orangnya humoris dan yang pasti sholeh. Insya Allah cocok untuk kamu.” Terang Rifa
menjelaskan.
“Tapi
Fa ... ucapan Fatimah terpotong.
“Kamu
pikir-pikir dulu dan istikharah, minta petunjuk. Jika sudah mantap, kabari aku secepatnya
ya.”
“Aamiin,
insya Allah, akan aku pertimbangkan dulu, Fa. Mohon doanya juga ya.”
“Semoga
dia jodoh terbaik untukmu. Aamiin. Jangan lupa kabri aku bagaimana selanjutnya.”
“Iya,
Insya Allah, Fa.”
Obrolan
berlanjut panjang lebar, maklum sudah lama tidak bertemu. Sampai waktu hampir
beranjak senja, akhirnya merekapun memutuskan untuk pulang. Berpelukan melepas
perpisahan dan saling berucap hati-hati di jalan. Rifa dan mamanya lebih dulu
meninggalkan Fatimah dengan taksi online yang dipesannya.
Sedangkan
Fatimah, hatinya gamang atas apa yang terjadi hari ini. Kebahagian bertemu
orang yang selama ini dia tunggu pertemuannya sekaligus bingung dengan Cv ta’aruf
yang dia terima dari Rifa. Dengan langkah gontai dia menuju parkiran, menaiki
motor bebeknya dan menstater. Pulang adalah jalan kembali untuk pikiran segera tenang.
_Bersambung

Di sambung terus bisa bisa jadi novel itu kak ceritanya 😁
BalasHapusPengennya si gitu hehe
Hapussetia nunggu part selanjutnya, udah gak sabar kak
BalasHapusUdah ada lanjutannya mbak
Hapus