Aku
hanya seorang Guru Madrasah Diniyah (swasta). Dari pertenghan tahun 2015,
tepatnya setelah ramadhan. Aku resmi menjadi seorang pendidik. Awalnya masih
sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan, terutama dengan para murid. Meski jumlah
mereka tidak sebanyak di bandingkan sekolah lain. Tapi cukup menguji kesabaran
di setiap hari.
Tingkah,
sikap, karakter mereka yang berbeda-beda membuatku belajar memahami, mengerti
dan pandai membawa diri di hadapan mereka. Perbandingan yang begitu jauh
berbeda dengan zaman sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah. Dulu, aku takut
melawan guru, takut bolos sekolah, takut terlambat masuk kelas, dan masih
banyak lagi ketakutanku terhadap guru.
Tidak
semua mereka seperti itu, ada beberapa di antaranya yang sangat menghargai
gurunya. Tahu posisi antara guru dan murid. Sekarang aku mulai terbiasa
beradaptasi dengan mereka. Bahkan kedekatan guru dan murid layaknya kakak dan
adik. Berbagi cerita, tertawa bersama. Sampai suatu hari, aku mendapat
pelajaran yang begitu menyentuh hati. Seketika tersadar, aku harus mensyukuri apa
yang telah kumiliki sekarang.
Saat
itu, pelajaran terakhir telah usai dan waktunya pulang. Para murid berhamburan
keluar kelas. Tinggalah aku dan kedua teman yang juga seprofesi. Satu di antara
temanku mempunyai adik yang juga bersekolah di sini. Sebelum pulang, kami
menyempatkan sedikit waktu untuk mengobrol. Berbagi cerita tentang apa saja
yang terjadi hari ini. Tidak terasa waktu telah beranjak sore, kami memutuskan
untuk pulang.
“Ayo
pulang Bu, rutinitas sore sudah menunggu di rumah.” kata temanku yang mempunyai
adik.
“Ayo....”
jawab kami serentak.
“Ibu
iya enak ada Mamanya yang memasak di rumah, saya nggak punya Mama lagi. Jadi
Kakak saya yang memasak.” Sambung adik temanku.
Sejenak
tubuh ini kaku, lidah terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata, hatiku serasa
tertusuk jarum amat pilu mendengar kalimat yang dilontarkan adik temanku itu. Aku
hanya bisa berbicara dengan hatiku. Bahwa betapa bersykurnya aku masih diberi
orang tua yang cukup. Sampai melihat anaknya dewasa seperti sekatang ini.
Aku
hanya membalas dengan senyum, aku tahu begitu sulit kehilangan orang yang
disayang. Apa lagi orang itu adalah yang telah melahirkan kita ke dunia. Kesedihan
dengan air mata bisa di hapus kapanpun. Namun kesedihan hati, tidak akan bisa
yang menghapusnya. Meski terlihat santai dia mengatakan kalimat itu, tetapi
kuyakin amat sedih hatinya harus mengingat di saat kehilangan.
Semoga
kau menjadi anak yang selalu tegar ya Nak. Tegar dalam menghadapi apa yang
telah ditetapkan oleh sang Maha Pencipta. Jadilah anak yang sholeh, agar engkau
bisa membawa kedua orang tuamu masuk surga. Jadilah adik yang menurut akan
nasihat dari kakakmu. Kelak kau dewasa, jadilah seseorang yang bertanggungjawab
untuk diri sendiri maupun orang lain. Dan aku sudah menganggapmu seperti adikku
sendiri. Karena kita selalu dekat, tertawa lepas seakan hidup tidak ada beban.
Untuk
kita semua, terutama yang masih mempunyai orang tua cukup. Mari bersama kita
doakan agar mereka diberi kesehatan, keberkahan dan diberi umur yang panjang
sehingga kita bisa merawat mereka di hari tuanya. Tidak banyak yang bisa
melakukan itu, tidak sesempurna dengan apa yang mereka perlakukan terhadap kita
sewaktu dulu hingga sekarang.
Kita
harus selalu bersykur masih bisa merasakan hangatnya dekapan mereka. Nasihat-nasihat
mereka yang terkadang tidak begitu kita dengar. Suatu saat kita akan rindu
dengan hal itu. Berusaha menjadi anak yang bisa membawa kedua orang tuanya
masuk surga adalah impian bagi setiap anak. Menjadi orang tua yang bisa
menjadikan anaknya ladang pahala adalah usaha dan impian setiap orang tua.

16 komentar:
Huwa bikin baper ini, kadang masih suka jengkel dengan ibu dan bapak
😍 bagus bgt Kak Ayu👍
Mantappp 👍👍👍
Oya silahkan mampir juga di blog saya ya 😊🙏🙏🙏
Sama 😢
Big thanks 😃
😊😊
Oke 😁
Guru.... Pahlawan tanpa tanda jasa
Sskt sj,, " di" yg disambung kata kerja atau "di+kata kerja+ akhiran, nulisnya disambung ya...
Isi cerita mengandung pesan moral yg apik
😍😍
kerennn
Big thanks mbak
Aaminn insya Allah
Hehe
Big thanks
Posting Komentar