Senin, 07 Oktober 2019

Satu Kalimat



Aku hanya seorang Guru Madrasah Diniyah (swasta). Dari pertenghan tahun 2015, tepatnya setelah ramadhan. Aku resmi menjadi seorang pendidik. Awalnya masih sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan, terutama dengan para murid. Meski jumlah mereka tidak sebanyak di bandingkan sekolah lain. Tapi cukup menguji kesabaran di setiap hari.

Tingkah, sikap, karakter mereka yang berbeda-beda membuatku belajar memahami, mengerti dan pandai membawa diri di hadapan mereka. Perbandingan yang begitu jauh berbeda dengan zaman sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah. Dulu, aku takut melawan guru, takut bolos sekolah, takut terlambat masuk kelas, dan masih banyak lagi ketakutanku terhadap guru.

Tidak semua mereka seperti itu, ada beberapa di antaranya yang sangat menghargai gurunya. Tahu posisi antara guru dan murid. Sekarang aku mulai terbiasa beradaptasi dengan mereka. Bahkan kedekatan guru dan murid layaknya kakak dan adik. Berbagi cerita, tertawa bersama. Sampai suatu hari, aku mendapat pelajaran yang begitu menyentuh hati. Seketika tersadar, aku harus mensyukuri apa yang telah kumiliki sekarang.

Saat itu, pelajaran terakhir telah usai dan waktunya pulang. Para murid berhamburan keluar kelas. Tinggalah aku dan kedua teman yang juga seprofesi. Satu di antara temanku mempunyai adik yang juga bersekolah di sini. Sebelum pulang, kami menyempatkan sedikit waktu untuk mengobrol. Berbagi cerita tentang apa saja yang terjadi hari ini. Tidak terasa waktu telah beranjak sore, kami memutuskan untuk pulang.

“Ayo pulang Bu, rutinitas sore sudah menunggu di rumah.” kata temanku yang mempunyai adik.

“Ayo....” jawab kami serentak.

“Ibu iya enak ada Mamanya yang memasak di rumah, saya nggak punya Mama lagi. Jadi Kakak saya yang memasak.” Sambung adik temanku.

Sejenak tubuh ini kaku, lidah terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata, hatiku serasa tertusuk jarum amat pilu mendengar kalimat yang dilontarkan adik temanku itu. Aku hanya bisa berbicara dengan hatiku. Bahwa betapa bersykurnya aku masih diberi orang tua yang cukup. Sampai melihat anaknya dewasa seperti sekatang ini.

Aku hanya membalas dengan senyum, aku tahu begitu sulit kehilangan orang yang disayang. Apa lagi orang itu adalah yang telah melahirkan kita ke dunia. Kesedihan dengan air mata bisa di hapus kapanpun. Namun kesedihan hati, tidak akan bisa yang menghapusnya. Meski terlihat santai dia mengatakan kalimat itu, tetapi kuyakin amat sedih hatinya harus mengingat di saat kehilangan.

Semoga kau menjadi anak yang selalu tegar ya Nak. Tegar dalam menghadapi apa yang telah ditetapkan oleh sang Maha Pencipta. Jadilah anak yang sholeh, agar engkau bisa membawa kedua orang tuamu masuk surga. Jadilah adik yang menurut akan nasihat dari kakakmu. Kelak kau dewasa, jadilah seseorang yang bertanggungjawab untuk diri sendiri maupun orang lain. Dan aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Karena kita selalu dekat, tertawa lepas seakan hidup tidak ada beban.

Untuk kita semua, terutama yang masih mempunyai orang tua cukup. Mari bersama kita doakan agar mereka diberi kesehatan, keberkahan dan diberi umur yang panjang sehingga kita bisa merawat mereka di hari tuanya. Tidak banyak yang bisa melakukan itu, tidak sesempurna dengan apa yang mereka perlakukan terhadap kita sewaktu dulu hingga sekarang.

Kita harus selalu bersykur masih bisa merasakan hangatnya dekapan mereka. Nasihat-nasihat mereka yang terkadang tidak begitu kita dengar. Suatu saat kita akan rindu dengan hal itu. Berusaha menjadi anak yang bisa membawa kedua orang tuanya masuk surga adalah impian bagi setiap anak. Menjadi orang tua yang bisa menjadikan anaknya ladang pahala adalah usaha dan impian setiap orang tua.



16 komentar:

Restanti mengatakan...

Huwa bikin baper ini, kadang masih suka jengkel dengan ibu dan bapak

niozaharani mengatakan...

😍 bagus bgt Kak Ayu👍

Sutan D. Al Murhif mengatakan...

Mantappp 👍👍👍

Sutan D. Al Murhif mengatakan...

Oya silahkan mampir juga di blog saya ya 😊🙏🙏🙏

Aysafitri114 mengatakan...

Sama 😢

Aysafitri114 mengatakan...

Big thanks 😃

Aysafitri114 mengatakan...

😊😊

Aysafitri114 mengatakan...

Oke 😁

yogi riyansyah mengatakan...

Guru.... Pahlawan tanpa tanda jasa

Anis Hidayati mengatakan...

Sskt sj,, " di" yg disambung kata kerja atau "di+kata kerja+ akhiran, nulisnya disambung ya...


Isi cerita mengandung pesan moral yg apik

Fitriani Nurul Izzati mengatakan...

😍😍

Coretan Pena Terumbu Karang mengatakan...

kerennn

Aysafitri114 mengatakan...

Big thanks mbak

Aysafitri114 mengatakan...

Aaminn insya Allah

Aysafitri114 mengatakan...

Hehe

Aysafitri114 mengatakan...

Big thanks

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...