Sinopsis
Aisyah kecil dengan kuncir kuda tengah berlari-lari di arena perkebunan. Tanpa alas kaki, sesekali tangannya melambai-lambai pada sosok orang tua yang sibuk menyiangi rumput dari tanaman. Peluh bercucuran di tengah terik panas siang itu. Hidup terpencil di tengah kebun tidak menyurutkan keceriaan Aisyah kecil, baginya tinggal di tengah kebun merupakan suatu berkah. Bagaimana tidak? Selain bisa menikmati alam setiap saat, dirinya juga bisa masuk teve! Bukan karena mendadak menjadi artis, tapi karena prestasi yang dicapai sang kakak yang membawa keluarga Ningsih menjadi dikenal banyak orang.
Sampai Aisyah duduk di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama, di sanalah musibah datang. Musibah yang sempat mematahkan semangat hidupnya, wajah cerianya pun berubah suram. Namun dengan sisa tenaga dan umurnya, Ningsih kembali bangkit untuk terus berjuang. Bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi penyemangat hidupnya. Sayang, kebahagiaan itu tak selamanya hadir di kehidupan Ningsih. Ia kembali terpuruk.
Bukan Aisyah namanya jika ia tak bisa kuat. Berkali-kali jatuh dan terpuruk, ia tetap bangkit dan pantang menyerah. Ia yakin semua rasa sakit itu akan sembuh, kesedihan akan berganti kebahagiaan. Sampai ia benar-benar menemukan kebahagiaan yang utuh, menghilangkan semua rasa yang pernah menjadi momok dalam hidupnya.

Apik mbak... Penasaran...
BalasHapusIkutin trus lanjutannya
Hapus