Halaman

Selasa, 10 Maret 2020

Tulang Rusuk yang Patah


Prolog

Aku hanya bisa terduduk lemas saat dokter mengatakan hasil pemeriksaan hari ini. Selama ini aku mengira sakit ini hanya sekadar sakit karena terlalu lelah dengan aktifitas sehari-hari. Nyatanya aku salah besar, kata dokter hanya operasi jalan satu-satunya yang bisa memulihkan aku. Mendengar vonis dokter saja aku sudah kalut, apa lagi untuk menjalani operasi. Ibu, ayah ... Aku tahu kalian sangat merasa terpukul dengan keadaan anakmu ini.

Semenjak kejadian tragis itu, aku masih trauma. Masih jelas di memori ingatan setiap kali aku menatap jalan, kendaraan yang lalu lalang, tempat penyebrangan. Tubuhku digotong ramai-ramai entah siapa saja aku tak melihat jelas. Ingin rasanya aku langsung berdiri dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Apalah daya, kaki tak kuat untuk berpijak.

Ibu, ayah. Anakmu kini telah remaja. Dengan kondisi seperti ini aku sempat merasa minder dengan teman-teman yang sempurna. Mereka memang tak tahu apa yang aku rasakan. Aku bungkam, tak ingin dikasihani. Tapi, saat itu pula perasaan remajaku tak bisa bohong. Kata orang jatuh cinta membuat lupa. Iya, benar. Aku jatuh cinta untuk pertama kali.

Namun semua mengubah segalanya. Awan kelabu masih berarak serentak dengan jatuh rintiknya. Mega biru secerah mentari yang menemani. Seulas senyum keikhlasan membalut perih hatiku, yang sedari tadi hanya duduk terpaku, menunduk. Menahan agar rintik di kelopak matanya tak ikut jatuh. Cuaca hari ini sama persis dengan apa yang kurasa. Gerimis, panas,  mendung, namun masih ada mentari yang menyinari.

Satu tarikan nafas mengucap janji suci telah tunai. Lelaki itu kini telah sah menjadi seorang suami. Uluran tangan untuk menyambut salam takzim dari wanita sahnya. Kecupan hangat mendarat di pucuk kepala, menguarkan desir panas di hati. Sekelabat adegan itu tertangkap oleh ekor mataku yang sedari tadi tak ingin bersitatap. Bulir hangat tak terasa telah merayapi pipi.

Akulah kini seorang diri yang menanggung rasa perih itu. Bertahun-tahun lelaki itu bersamaku, namun bukan dia yang berjabat tangan dengan ayah. Ada tembok yang amat kokoh sehingga aku tak bisa menghancurkannya. Meski sama-sama berkorban merelakan perpisahan terjadi. Hanya aku yang benar-benar merasa kepingan hatinya hancur.

Aris. Lelaki itu tak bisa kumiliki seutuhnya. Keputusan yang amat berat saat Aris berucap orang tuanya  memilih wanita itu di banding aku. Wanita yang kini akan mengantikan posisiku, memiliki Aris seumur hidupnya. Inilah badai terdasyat bagiku. Senyum kebahagiaan mengembang dari pasangan itu. Usai acara aku menguatkan hati dan raga, serta senyum di bibir untuk mendorong kata selamat keluar dari mulutku.

Setidaknya aku bisa berdamai dengan hatiku yang bergejolak menahan semua sesak yang dirasa. Tak terhitung berapa kali aku harus berkata pada hatiku untuk selalu kuat dan sabar. Takdir telah berpihak untuk tidak mengizinkan Aris menjadi milikku. Maka hanya pasrah lillahita’ala yang bisa di perbuat. Akan ada yang lebih baik selepas kehilangan. Kebahagian yang sesungguhnya telah menanti untuk di jemput.

Jatuh cinta yang pada akhirnya membuat aku terluka lagi. Lika-liku hidup kujalani dengan perjuangan tanpa menyerah. Siapa yang tak pernah merasa sedih sampai menangis? Aku akui, aku pernah. Namun uniknya cinta ya seperti itu, datang dan pergi. Jika ada yang datang, tak menutup kemungkinan dia juga akan pergi, biarlah terganti dengan yang baru datang dan menetap sampai akhir nati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar