Halaman

Senin, 24 Februari 2020

Biografi Jakob Oetama

Judul Buku    : Syukur Tiada Akhir Jejak Langkah Jakob Oetama
Penyusun       : St. Sularto
ISBN               : 978-979-709-952-7
Penerbit          :  Kompas
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman: 478 halaman

 Hasil gambar untuk buku syukur tiada akhir


Pada umumnya, buku ini menceritakan tentang perjalanan Jakob Oetama dalam membangun dan mempertahankan Kompas bersama Ojong dan rekannya yang lain. Buku yang berisi 478 halaman ini dibagi menjadi 9 bab. Berikut adalah 10 pembahasan yang menurut saya menarik.
1.      Tiga Titik Balik Yang Menentukan
Menceritakan tentang perubahan cita-cita Jakob yang semula ingin menjadi pastor namun sekarang menjadi pendiri surat kabar yang sukses.
2.       Titik Balik I :
Pilihan tegas meskipun dengan berat hati untung menandatangani surat pernyataan dan kesetiaan agar harian Kompas bisa terbit kembali pada tanggal 6 Februari 1978.
3.      Titik Balik II:
Perubahan profesi yang semulanya Jakob sempat menjadi guru pada tahun 1963. Namun niatnya yang awalnya menjadi guru harus berubah menjadi wartawan dan perubahan itu yang membawa Jakob sukses sampai saat ini.
4.       Titik Balik III:
Kepergian P.K Ojong, rekan perintis dan pendiri Kompas Gramedia tanggal 30 Mei 1980, dari yang semula lebih bertanggung jawab menangani pengembangan sisi redaksional ke sisi bisnis juga.
5.      Dari “Sang Pemula”ke “Sang Pengibar Bendera”
Sebutan “Sang Pemula”bagi majalah Intisari disampaikan pertama kali oleh Jakob Oetama dalam perayaan 40 tahun majalah itu, tahun 2003. Sebutan Kompas sebagai “Sang Pengibar Bendera”baru muncul beberapa waktu kemudian. Yang pertama disampaikan secara resmi, yang kedua disampaikan dalam berbagai kesempatan tidak resmi, bahkan cenderung sambil lalu. Tetapi, di kalangan karyawan Kompas Gramedia, khususnya wartawan Kelompok Majalah dan Kelompok Surat Kabar khususnya Kompas, kedua sebutan itu menempel dan ditabalkan sebagai nama diri karya-karya awal duet pendiri/perintis P.K. Ojong-Jakob Oetama. Intisari ibarat biji sesawi, Kompas mengibarkan bendera usaha Kompas Gramedia.
6.      Kemanusiaan Yang Beriman
Merefer apa yang pernah disampaikan pada menjelang usia Jakob Oetama 70 tahun, Sindhunata menulis “humanisme akan roboh dengan sendirinya jika tempat di mana ia dihidupkan adalah tanah yang miskin dan berkekurangan secara materi.” Itulah sebagian besar tanah perjuangan yang harus ditapaki dan dihadapi Kompas. Mau tidak mau Kompas menghayati humanisme sebagai pro yustitiae, perjuangan demi keadilan.
7.       Profesi Jurnalistik
Ketika menyampaikan pidato pengukuhan Doktor Kehormatan dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 5 September 2014, Jakob Oetama menyinggung peran yang dicoba dikembangkan Kompas menuju 50 tahun ke depan. “Ketika memberikan ruang perdebatan bagi berbagai pemikiran, ia sudah mengambil peran politiknya. Karena melalui perdebatan itu lahir kebijakan public yang membuat masyarakat yang menikmati situasi semakin adil dan setara dalam kesempatan,”tegasnya dalam pidato yang dibacakan Irwan Oetama, putra sulungnya.
8.      Manajemen Kompas Gramedia
Penerbitan pers harus memosisikan diri secara strategis dalam eksistensinya dan interdepensinya dengan Negara, masyarakat, dan bisnis. Manajemen penertbitan pers, teristimewa grup pers, meyadari tanggung jawab sosialnya sebagai pelayan dari masyarakat (servant of the public) dan jufa sebagai pelayan dari para pelayan (the servant of the servants) dalam konteks pengabdian dan loyalitasnya kepada Negara dan masyarakat.
9.      Bagaimanakah Pers Bekerja?
Jakob menggolongkan media sebagai commited observer, pengamat yang mempunyai komitmen terhadap kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negaranya. Kemajuan ekonomi, di samping meningkatkan tingkat hidup rakyat, sekaligus membawa permasalahannya seperti kesenjangan. Permasalahan itu menjadi lebih besar karena ukuran penduduk dan Negara kepulauan Indonesia.
10.   Bekerja Itu “All Out”
Jakob Oetama sangat menghargai makna kerja keras dan tidak jemu-jemu mengingatkan. Perusahaan yang dirintisnya bersama P.K. Ojong juga berkembang berkat kerja keras. Tidak setengah-setengah. All Out. Selain kerja keras, juga kerja bersama (sinergik), itulah dua kata kunci yang dipegang erat-erat agar berhasil dalam usaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar