Part: Hujan Awal November
Sepuluh tahun yang
lalu. Tepat awal bulan November, dini hari pukul tiga waktu setempat kota Tokyo
diguyur hujan lebat. Orang-orang semakin terlelap di dalam selimut tebalnya.
Begitu juga yang dilakukan oleh salah satu keluarga yang memiliki rumah
termewah di kompleks rumah Tokyo. Meringkuk bersama lebatnya hujan.
Tapi tidak bagi keluarga yang rumahnya paling terpencil
diantara lainnya. Rumah itu sangat sederhana, bahkan ubin keramiknya retak sana
sini. Masih syukur hujan lebat kali ini tidak membanjiri seisi rumah. Gaji
paruh waktu yang mereka dapat tak begitu cukup untuk memperbaiki rumah.
Untuk memenuhi kebutuhan rumah, mereka terbelit hutang
yang lumayan banyak kepada orang terkaya di kompleks rumah Tokyo. Malam ini
anak bungsu mereka demam tinggi. Mau tidak mau mereka harus meminjam uang lagi
kepada keluarga kaya itu untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
Berangkatlah
sang ayah ditemani putranya menerobos hujan yang lebat, hanya dengan
menggunakan payung seadanya. Guntur menggelegar di langit hitam. Terseok-seok
mereka menerjang air hujan dengan badan kedinginan. Butuh waktu dua puluh menit
untuk sampai di tujuan, dan berharap semoga putrinya tidak mengalami hal buruk.
Sesampainya mereka di depan gerbang rumah mewah itu. Para
penjaga malam sedang tidak ada di tempat. Ini kesempatan yang bagus untuk
mereka, dengan tekad dan berhati-hati mereka menaiki gerbang besi yang berujung
lancip. Perlahan turun dan mendekati pintu rumah.
“Tuan Yutaka, Tuan tolong buka pintunya! Teriak sang ayah
sambil menggedor-gedor pintu besar itu.
“Tuan tolonglah keluar sebentar. Aku ada perlu denganmu!”
Anaknya tak kalah keras suaranya berteriak.
“Tok Tok Tok!!”
Gedoran pintu semakin keras mereka ketuk, bel rumah
berkali-kali dibunyikan. Mendengar kegaduhan dari luar dengan terpaksa tuan
rumah beranjak menuju sumber suara. Keluar kamar menuruni anak tangga dengan
menggerutu.
“Tuan Yu-“ suara dari luar terputus saat pintu besar itu
terbuka.
“Heh orang miskin! Mau apa kalian ke rumahku? tanyanya
dengan wajah merah padam.
“Ma ... maaf, Tuan. Tujuanku ke sini untuk meminjam uang.”
Kata sang ayah memberanikan diri.
“Apa? Hujan-hujan seperti ini kau ke sini hanya untuk
meminjam uang! Menganggu aku tidur saja.” Gerutunya kesal.
“Aku mohon, Tuan. Kasihanilah kami, adikku sedang sakit,
kami perlu uang untuk membawanya berobat.
“Uang yang lalu saja belum kau kembalikan! Itu sudah
terlalu banyak dengan bunganya.” Suaranya beradu dengan derasanya hujan.
“Tolonglah, Tuan. Ini untuk yang terakhir kali.” Melas
sang ayah.
“Tidak! Tidak akan aku meminjami kalian uang lagi.”
“Tapi, Tuan-“
“Pergi dari rumah sekarang juga!” hardiknya kasar.
Ayah dan anak itu saling pandang, tatapannya penuh arti. Mereka
menerjang Tuan Yukata sekuat tenaga hingga terpental ke dalam rumah. Sang anak
melihatnya tersungkur cekatan memegang kedua tangannya dan mengunci sampai tak
berkutik. Sang ayah dengan brutal menendang, meninju seluruh bagian tubuh Tuan
Yukata.
Suaranya melemah, dengan segala umpatan tak menyangka
mereka akan sebrutal ini. untuk melawan dia sudah tak berdaya, tubuhnya remuk
redam atas perlakuan mereka. Sang ayah berhenti sejenak dari aktifitasnya. Melirik
pedang yang tersimpan dalam guci tempat payung. Kilatan tajamnya pedang
bersamaan guntur yang memecah di tengah hujan.
“Ja ... Jang ... Jangaaan! Ap ... Aappa yang ingin kau
perbuat dari pedang itu? suaranya terbata-bata.
“Kau tak mau mengasihani keluargaku, begitupun aku, tak
ingin mengasihanimu! Gertak sang ayah.
“Jleb”
“Aaaaaarhhggg”
Pedang terhunus ke dalam perut Tuan Yukata bersamaan
dengan teriakan sang Istri yang baru dari tangga.
“Apa yang kalian lakukan dengan suamiku!” wajah kemarahan
bercampur takut dari istri Tuan Yukata.
“Ambil satu lagi pedang di dalam sana.” Perintah sang ayah
kepada anaknya, yang di jawab dengan angggukan kepala.
“Kalian tega sekali! ujar sang istri sembari menghampiri mayat
suaminya.
“Kini giliranmu, Nyonya.” Sang istri yang memeluk mayat
suaminya tertodong pedang.
“Apa yang kalian ingin?” tanyanya dengan nada ketakutan.
“Aku ingin membunuhmu juga, Nyonya.” pedang itu kini
telah menggores urat lehernya.
“Ke ... Kejj .. Ke ...” suara Nyonya itu terputus
bersamaan dengan terputusnya urat nadi hasil sayatan pedang.
Tanpa ampun mereka membabi buta mencincang-cincang
korban. Layaknya mengeksekusi daging sapi, potongan tubuh kedua korban
bergelimpangan dengan kucuran darah segar. Puas dengan itu, mereka mencuri
semua harta benda milik Tuan Yukata, barang-barang berharga ludes mereka raup.
“Setelah ini, kita keluar kota dan menghilangkan jejak.” ujar
sang ayah pada putranya.
“Semoga tidak ada yang curiga kalau kita pelakunya.” Tanggap
sang anak.
Mereka keluar rumah masih diguyur hujan, namun dengan
hati yang bergembira. Mendapatkan harta yang berlimpah sekaligus melenyapkan
Tuan kaya itu dan istrinya. Potongan mayat bergelimpangan, hanya menyisakan
seorang gadis berumur 12 tahun yang sejak tadi bersembunyi dalam lemari.
Melalui celah pintu lemari, matanya menjadi saksi atas
kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Tangis yang sejak tadi dia tahan
akhirnya pecah. Gadis itu meraung-raung menangisi mayat kedua orang tuanya, dan
bersumpah dalam hati akan membalas dendam kepada mereka yang telah membunuh
suatu saat nanti.
***
Alex dan Thomson serta polisi lainnya telah sampai di
lokasi kejadian. Mereka terkejut dengan apa yang dilihat. Korban belum
dievakuasi, masih tergeletak di ruang jenazah, pihak rumah sakit menunggu
kepolisian untuk penyidikan. Alex dan tim penyidik segera bertindak, mengamati
korban dan hal lain yang berada di sekitarnya.
“Dugaan sementara, setelah melihat wajah korban ternyata
dia seorang wanita yang sama dengan di foto bersama kakak dan kedua orang
tuanya. Kemungkinan korban sedang melihat jenazah Kakaknya yang masih di ruangan ini. Dan pembunuh
itu telah mengincar korban, setelah lengah pembunuh mengeksekusi korban.” Alex
memaparkan temuannya.
“Yang tragis, korban memiliki ciri-ciri kematian sama
dengan Kakaknya. Sepasang bola mata yang di cungkil oleh pembunuh.” Polisi di
sebelah Alex ikut memberi keterangan.
“Bagaimana dengan kamera pengintai menuju ruangan ini?
tanya Thomson.
“Setelah pengecekan di kamera pengintai, seseorang masuk
dengan menggunakan pakaian serba hitam dan keluar dengan pakaian perawat.” Pihak
rumah sakit menjelaskan.
“Ciri-cirinya laki-laki atau perempuan?” Kembali Alex
bertanya.
“Jelas perempuan, saat dia keluar mengenakan pakaian
perawat wanita, masker dan kaca mata.”
“Baik. Segera autopsi korban, aku akan menyelidiki
identitas korban.” Alex memberi perintah.
“Drrtt”
“Hallo. Ada apa? Thomson sedang berbicara di ponselnya.
“Astaga! Dalam hitungan jam telah terjadi pembunuhan
lagi? Dia mendapat kabar dari kanto.
“Baik. Tim kami akan ke sana.” Menyudahi sambungan telepon.
“Korban pembunuhan di Panti Jompo Okayama, seorang wanita
tua tewas di kamar mandi kamarnya bernomor 77.” Thomson menjelaskan kepada
rekan-rekannya.
Alex tercekat, nafasnya seakan terhenti. Baru beberapa
jam yang lalu dia dari sana, berjanji padanya akan kembali lagi besok. Sekarang
cepat sekali mendengar kabar kalau wanita tua itu sudah terbunuh. Lucy. Alex
tak percaya, begitu cepat pula pembunuh itu beraksi.
“Aku akan kembali lagi ke panti jompo. Tuan Thomson dan
yang lain selesaikan masalah di sini, sebagian ikut aku.” alex berujar memberi
perintah.
Alex begegas dengan timnya menuju panti jompo. Dalam pagi
ini, belum sampai tengah hari telah dua korban berjatuhan. Apa mungkin Lucy
mengalami nasib yang sama seperti dua anaknya? Lalu bagaimana dengan suami Lucy
yang sekarang masih kritis di rumah sakit? Pikiran Alex terus melayang sejalan
dengan mobil yang membawanya melaju.
“Astaga! Kenapa aku sebodoh ini? Dari penjelasan Lucy,
suaminya berada di rumah sakit yang aku datangi tadi.” Gerutu Alex dalam
hatinya. Pikirannya tadi hanya tertuju pada anak Lucy dan Lucy.
Segera dia menghubungi Thomson, meminta kamar sakura
tempat suami Lucy di rawat terjaga ketat oleh petugas kepolisian. Dia tidak
ingin kali ini kalah cepat dengan pembunuh itu. Pasti pembunuh itu akan kembali
lagi, harus ada siasat untuk menjebaknya. Sepanjang perjalanan menuju panti
jompo Alex memikirkan siasat apa yang tepat.
***
“Sudah saatnya kau
membunuh orang yang terakhir” Bisikan itu tergiang di telinga saat dia
menyaksikan reporter membawakan berita dua korban pembunuhan pagi ini.
“Ha ha ha.” Gelak tawa meyeringai.
_Bersambung.

Ayo di lanjutkan lagi mbak.
BalasHapusSampai pelaku pembunuhan tertangkap 😁
Besok endingnya
HapusEh ending nya bukan ditangkap tapi bunuh diri dengan surat dan bukti pembunuhannya hi hi hi🤔🤔🤔
BalasHapusEng ing eng tunggu saja endingnya mbak hehe
Hapus