Halaman

Kamis, 31 Oktober 2019

Bisikan Membawa Maut_4



Part: Wanita Tua Yang Malang 

       Keadaan hening. Satu jam telah berlalu, dua orang saling terpekur dalam diam. Satu diantaranya masih terisak tangis. Sedang yang satu lagi menghembuskan nafas perlahan, mencoba menetralkan perasaan yang masih sulit di percaya. Deringan ponsel memecahkan keheningan, beranjak dari duduk agak menjauh dari lawan bicaranya tadi.
    “Hallo, Darling.” Menyapa seseorang yang meneleponnya.
“Apa kau sedang sibuk? tanyanya di ujunng telepon.
“Aku baru selesai mewawancarai Ibu korban.” sahut Alex sumringah.
“Waw! Kau sangat cekatan sekali. Baru tadi pagi mengeluh sekarang kau tampak bersemangat.”
“Iya. Dari Lucy, Ibu korban. Aku mengetahui semua kejadian di balik kasus ini.”
“Baiklah aku tidak akan menganggumu hari ini. Pasti kau sangat sibuk.”
“Maaf. Aku belum ada waktu untukmu.”
“Tidak masalah, Darling.”
“Lalu bagaimana hasil terapimu hari ini?”
“Cukup memuaskan. Butuh beberapa kali lagi baru benar-benar sembuh.”
“Syukurlah. Jaga pikiranmu, tak usah berpikir yang negatif.” ujar Alex mengingatkan kekasihnya.
“Oh ya di mana kau sekarang? tanya kekasih Alex
“Di Panti Jompo Okayama. Tidak jauh dari kantor polisi tempatku bekerja. Ada apa?
“Tidak. Aku hanya ingin tahu saja.”
“Baiklah. Nanti kuhubungi lagi jika da waktu. Aku akan segera pamit dari sini, menuju kantor lagi. Rapat tadi ku tunda menjadi pukul setengah sepuluh.” Alex memberi penjelasan pada kekasihnya.
“See you, Darling.” ucapnya manis di ujung telepon.
Usai mengakhiri telepon, Alex pamit kepada Lucy. Dia berjanji besok akan mengunjunginya lagi. Masih ada yang akan dibahas. Lucy mengantar Alex sampai depan pintu, kembali ke tempat duduknya. Tatapannya kosong, menerawang jauh, teringat putranya yang beberapa hari lalu bertemu dan menjadi perpisahan terakhir.
Di kantor kepolisian, Thomson telah menunggu Alex dengan rekannya sejak sepuluh menit yang lalu. Sesaat, Alex muncul dengan nafas yang memburu. Dia terlambat dari waktu yang di tentukan, menarik kursi kosong di sebelah kiri Thomson, duduk lalu meneguk air mineral yang telah tersedia. Beberapa kali tegukan, tandas juga air dalam gelas itu.
“Tenanglah Tuan Alex. Kau tampak seperti baru saja di kejar hantu.” Thomson tergelak melihat Alex.
“Ada berita penting mengenai kasusu pembunuhan ini.” Alex tak mau membuang-buang waktu, langsung pada inti permasalahan.
“Apa itu Tuan Alex.” tanya polisi yang duduk di sebelah kiri Alex.
“Aku baru saja menemuui Ibu korban. Dia masih hidup dan sekarang berada di panti jompo Okayama.” Alex memberi penjelasan.
“Apa kau telah tuntas membaca berkas yang aku berikatn tadi pagi, Tuan Alex? tanya Thomson memastikan.
“Sudah. Dari identitas, korban berinisial A, dengan keluarga korban Ayah berinisial D, Ibu berinisial L, dan adik perempuan berinisial E.” Alex menguraikan informasi yang di dapat.
“Menurut keterangan tetangga sekitar rumah, korban tinggal sendiri sejak enam bulan yang lalu.” ujar polisi lainnya.
“Benar. Itu juga yang disampaikan oleh ibu korban padaku.” ucap Alex sambil membuka book note-nya.
“Lalu apa sebenarnya yang terjadi di balik semua ini? tanya Thomson penasaran.
“Ceritanya berawal dari sepuluh tahun yang lalu.” Alex memulai cerita, sedang yang lainnya mendengarkan.

               ***

            “Kita ke panti jompo Okayama, Pak.” seru penumpang kepada sopir.
            “Baik.” jawab sang sopir pendek.
            Memutar arah, taksi online itu membawa mereka ke sebuah panti jompo yang di maksud.
“Kau pintar sekali, membunuh mereka satu persatu dengan cara yang sadis.” Bisikan itu kembali berdenging di telinganya.
Sekarang dia telah terbiasa mendengar bisikan-bisikan itu. Setiap kali bisikan muncul saat itu juga hasrat ingin membunuh menyeruap di hatinya. Bisikan yang mengingatkan kembali pada kejadian kelam yang pernah dia alami. Menghasutnya untuk menghabisi semua nyawa yang terlibat dalam kejadian itu.
Tiga puluh menit, taksi online yang membawanya ke panti jompo telah sampai di depan gerbang masuk. Keluar dari mobil setelah membayar argo. Langkahnya santai sembari melihat-lihat sekeliling. Tampak olehnya para lansia sedang bersantai ria di taman dan saling bercengkrama. Sampai pintu masuk menuju receptinois.
“Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa receptionis ramah.
“Apa aku bisa bertemu seseorang yang bernama Nyonya Lucy? tanya wanita itu bersikap manis.
“Nona siapanya, Nyonya Lucy?
“Aku kerabatnya dari jauh. Mendengar kabar anaknya meninggal aku langsung ke sini untuk berbela sungkawa.”
“Baiklah. Kamar Nyonya Lucy ada di lantai dua nomor 77 ujung lorong.” Jelas receptionis.
“Terima kasih.” Berlalu meninggalkan receptionis dengan senyuman penuh arti.
Sebelumnya dia masuk ke toilet, mengganti pakaiannya agar tidak ada yang mencurigai. Usai sudah penyamarannya, bergegas menuju lift untuk ke lantai dua. Di dalam lift hanya dia seorang. “Bunuh dia.” Bisikan itu sesaat berdenging lagi ditelinganya. Sesungging senyum dengan sorot mata tajam. “Benar kau harus mati!” Gumamnya.
Pintu lift terbuka. Lorong lengang seperti tak berpenghuni. Matanya jeli melirik sana sini. Sampai dia temukan kamar bernomor 77. Sebelum masuk tangannya merogoh tas, mengambil sebuah sapu tangan dan membelit gagang pintu, agar tidak meninggalkan jejak. “Klek.” Pintu kamar terbuka dengan leluasa. Si empunya kemungkinan lupa mengunci pintu.
Masuk perlahan dan menutup pintu tak lupa untuk menguncinya. Tampak seorang lansia tengah duduk termenung membelakanginya. Tak sadar jika ada orang yang masuk kamarnya. Merogoh kembali tasnya, menyimpan sapu tangan tadi dan mengeluarkan sapu tangan lainnya yang telah dia beri obat bius yang sangat mematikan dalam hitungan detik.
“Huft.” Baru setengah putar lansia itu menoleh, menyadari ada seseorang yang masuk kamarnya diam-diam. Namun matanya langsung terpejam tak sadarkan diri. Mulut dan hidungnya telah terserang obat bius.
Dengan cekatan dia memakai sarung tangan dan menyeret lansia itu ke dalam kamar mandi, disandarkannya pada dinding. Sejenak dia keluar mengambil pisau buah yang tergeletak di atas meja tamu.
Bergegas kembali ke kamar mandi. Ritualnya dimulai dengan mengawali goresan pisau ke pipi lansia itu. Lelehan darah mulai membanjirinya. Sayatan bertubi-tubi menghancurkan wajah. Sampai di bagian ekor mata sebelah kanan, kembali dia menyayatkan pisau lebih dalam lagi, membuat tulang pipinya terlihat.
Perlahan ujung pisau itu masuk ke dalam bola mata dan mencungkilnya. Kedua tangannya penuh kucuran darah. Hal yang sama dia lalukan pada bola mata sebelah kiri. Sangat profesional, sehingga sepasang bola mata itu utuh tak ikut tersayat pisau.
Sepasang bola mata itu satu persatu dia balut dengan menggunakan tisu toilet. Kemudian dengan penuh hati-hati di masukkan dalam sebuah plastik hitam. Setelah di rasa aman, tasnya siap menjadi wadah sepasang bola mata itu.
Guyuran air membersihkan sisa-sisa darah yang melekat pada tubuhnya. Sedang lansia itu dia biarkan duduk mematung dengan kelopak mata masih meneteskan darah, mengatup ke dalam rongga mata.
Usai di rasa semua beres. Dia keluar dari kamar mandi, tak lupa berganti pakaian yang tadi dia kenakan sebelum masuk panti jompo. Seolah tak terjadi apa-apa, masuk lift menuju lantai bawah. Kembali dia bertemu receptionis saat telah sampai lantai bawah, menyapa dan tersenyum ramah.

                         ***

“Sebentar, Tuan Alex. Ponselku berbunyi panggilan dari sekretaris.” Thomson menjeda Alex bercerita mengenai kasus pembunuhan itu.
“Apa!! Seruan Thomson mengejutkan rekan-rekannya.
“Ada apa, Tuan Thomson? tanya Alex penasaran.”
“Pembunuhan kembali terjadi. Korban di temukan tewas dalam ruang jenazah rumah sakit The University of Tokyo Hospital.” Thomson menjelaskan setelah menerima kabar dari sekretarisnya.
“Kita harus bergerak cepta ke sana.” ujar salah seorang polisi.
Serentak mereka menganggguk setuju. Meninggalkan rapat yang belum tuntas, bergegas menuju lokasi kejadian.

_Bersambung


2 komentar: