Halaman

Rabu, 30 Oktober 2019

Bisikan Membawa Maut_3


Par: Korban Selanjutnya

Keluar dari lift menyelusri lorong panti jompo, setelah tadi bertemu receptionis yang mengarahkannya ke lantai dua. Sepanjang lorong berjejer kamar-kamar para lansia, antara pintu satu dan lainnya saling berhadapan. Hanya berjarak enam kamar dari pintu lift. Kamar ketujuh berada di ujung lorong adalah tempat yang dia tuju.
Sejenak dia ragu untuk mengetuk pintu kamar bernomor 77 itu. Takut kalau-kalau penghuni kamar langsung mengusirnya atau yang lebih parah dia telah pikun. Kemungkinan itu bisa saja terjadi, tapi apa boleh buat Alex harus tetap masuk dan memastikan jika penghuni kamar itu adalah ibu korban.
“Tok  Tok  Tok.” Akhirnya Alex memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu.
“Tok Tok Tok.” Hening. Tak ada respon dari penghuni kamar.
“Permisi! Apa ada orang di dalam? Alex mengeraskan volume suaranya.
“Tuk Tuk Tuk.” Suara tongkat beradu dengan lantai.
“Ceklek”
Muncul seorang wanita berusia 70-an dengan kaca mata yang menjuntai talinya sampai ke dada.
“Permisi, Nyonya. Apa Anda sibuk? Bolehkah aku meminta waktumu untuk mengobrol sebentar?” Alex bersikap sopan dengan orang tua itu.
“Heh? Kau bicara apa, anak muda? Aku tak bisa mendengar apa yang kau katakan.” ujarnya sambil memasang kaca mata.
Satu masalah telah di hadapi Alex. Dia harus berhadapan dengan lansia yang tuli. Tidak sopan bukan berbicara keras kepada yang lebih tua. Namun itulah kenyataanya, semoga dia hanya tuli dan tak lebih parah dari itu. Akan menghambat penyidikannya jika berlarut-larut berhadapan dengan lansia tuli.
“Aku ingin meminta waktumu sebentar, Nyonya!” Alex pun mengeraskan volume suaranya.
“Aku tidak tuli! Tidak sopan berbicara dengan orang tua dengan nada keras.” Gerutunya sembari memukul kaki Alex dengan tongkat yang di pegangnya.
“Ma ... Maaf, Nyonya. Apa boleh meminta waktumu sebentar? Alex menurunkan kembali volume suaranya.
“Kau bicara apa? Aku tak mendengarnya.” Kembali kaki Alex menjadi sasaran pukulan tongkat.
“Oh Tuhan. Seperti inikah rasanya berhadapan dengan orang tua?” Alex bergumam dalam hati, tangannya membuka tas yang di bawa. Mengambil book note dan pena, menulis kalimat yang sedari tadi dia ulang. Lalu menyobek secarik kertas hasil tulisannya dan memberikan pada orang tua itu.
Orang tua itu menyipitkan mata ketika membaca tulisan Alex. Tersenyum tipis, menyerahkan kembali kertas itu pada Alex.
“Mari silahkan masuk.” Akhirnya upaya terakhirnya berhasil. Orang tua itu mengajak masuk kamarnya. Alex menguntit dari belakang.
“Apa kau seorang dokter? tanyanya setelah mempersilahkan Alex duduk pada kursi tamu yang tersedia di kamarnya.
“Bukan, Nyonya. Memang kenapa? Kening Alex berkerut tak mengerti.
“Tulisanmu tadi, layaknya seorang dokter yang memberikan resep obat kepada pasiennya.” ujar orang tua itu sambil menahan tawa.
Alex sedikit kebingungan dengan apa yang dikatakan orang tua itu. Berpikir sejenak, membuka kertas tulisan tadi yang masih dia genggam.
“Astaga! Ha ha... Begitu berantakan sekali tulisanku, Nyonya. Gelak tawa pecah dari mulutnya.
“Baiklah. Apa tujuanmu menemuiku, anak muda? Orang tua itu mengambil alat dengarnya yang terletak di atas meja dan memasangnya.
“Sykurlah, orang tua ini  mengenakan alat pendengaran.” Gumam Alex dalam hati.
“Perkenalkan namaku Alex, utusan pihak kepolisian. Apa benar Nyonya bernama Lucy? Istri dan Ibu dari orang-orang yang terpampang dalam foto ini?” Alex mengeluarkan selembar foto dari tasnya, menyerahkan pada orang tua itu.
“Keduanya benar. Namaku Lucy, istri dan Ibu dari mereka.” Orang tua itu, Lucy. Mengamati lamat-lamat foto yang dipegangnya. Kaca matanya berembun, menandakan bulir air mata akan jatuh.
“Maaf, Nyonya. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, dan aku turut berduka cita atas kepergian putramu.” Air muka Alex berubah prihatin yang sebelumnya sumringah ketika mengetahui Lucy adalah benar ibu korban.
“Aku sudah perkirankan ini akan terjadi. Bahkan mungkin nanti giliranku.” ujar Lucy kemudian melepas kaca matanya dan menghapus bulir air mata yang sempat jatuh.
“Maksud Nyonya? tanya Alex tak mengerti.
“Apa tujuanmu menemuiku untuk memecahkan kasus atas terbunuhnya putraku?” Lucy balik bertanya.
“Benar, Nyonya. apa Anda tahu siapa pembunuhnya dan atas dasar apa putra Anda terbunuh dengan tragis.”
“Dendam.” Satu kata membuat Alex tercekat menahan nafas.
“Dendam” kepada keluarga Nyonya. Kenapa? Tolong ceritakan padaku.” Pinta Alex memohon.
“Baiklah. Aku akan menceritakan semua kejadian di balik semua ini.” Lucy memperbaiki posisi duduknya.
Alex siap mendengarkan dengan seksama, mencatat point-point penting dalam book note-nya.
                                                                   ***
            “Tidak ... Tidak ... Siapa kau?! Teriak seorang wanita bergigil ketakutan.
“Kau harus mati.” ujar orang itu yang mengenakan tutup kepala hanya mata yang tampak, lengkap dengan pakainan serba hitam.
“Apa salahku? Wanita berambut ikal itu makin tersudut.
“Kau sama saja dengan yang lain, kau pembunuh!” Sambil mencekal leher wanita itu dengan sekuat tenaga menghempaskan kepalanya ke dinding.
“Bug.”
Benturan keras sukses mengucurkan darah dari tempurung kepala bagian belakang. Terhuyung jatuh dengan masih setengah sadar, tendangan bertubi-tubi pada perut wanita itu hingga matanya terpejam tak berkutik. Tewas.
“Ha ha ha.” Koleksiku akan bertambah lagi, sepasang bola mata.” Gelaknya menyeringai.
Dengan lihai orang itu tidak meninggalkan jejak. Setelah berhasil melakukan aksinya, dia keluar dari kamar jenazah dengan memakai pakaian dan masker khusus perawat. Tidak ada yang curiga dengan gelagatnya, karena telah berganti pakaian lagi layaknya orang biasa. Sampai dia keluar dari rumah sakit itu dan menaiki sebuah taksi online.
Taksi online melaju membelah kemacetan jalan. Penumpang duduk santai dengan senyuman kemenangan yang terlukis jelas pada raut wajahnya. Orang itu merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Menghungi seseorang di seberang sana. “Kau juga ingin bermain-main denganku.” Gumamnya setelah mengakhiri telepon.

_Bersambung

2 komentar: