Part 2
Beberapa
bulan setelah kisah cinta Fatimah kandas bersama Aris. Fatimah mulai bangit
dari keterpurukan, butuh waktu untuk menghilangkan rasa perihnya.
Berangsur-angsur pulih meski masih membekas. Masih ada bayang-bayang masa lalu
yang kerap menggelayuti pikirannya. Fatimah mencoba menepis semua itu,
membiarkan pudar seiring berjalannya waktu.
Fatimah
kini menyibukkan diri dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Di samping mengajar
Madrasah Diniyah, dia juga mulai sering mengikuti kajian-kajian setiap
minggunya. Kecintaan akan dunia tulis pun disalurkan lewat komunitas menulis.
Gejolak hatinya benar-benar mereda dari yang dulu amat menyesakkan. Tak ada
lagi senyum yang dipaksakan untuk kisah masa lalu itu.
Drrtt...
Dering ponsel milik Fatimah nyaring terdengar.
“Assalamu’alaikum, Dek.” Suara Putra,
Kakak Fatimah.
“Waalaikumussalam,
ada apa Kak? sahut Fatimah.
“Nanti ba’da zuhur kamu ikut Kakak
ya ke panti asuhan untuk acara bakti sosial.”
“Insyaa
Allah, iya Kak.”
Pada hari Ahad tanggal 20 Oktober 2019 SMAN 1 Jambi, tempat kakak Fatimah bekerja akan berkunjungan ke Panti Asuhan Yatim Piatu Darul 'Aitam di kawasan 16, kota Jambi. Kegiatan ini merupakan acara tahunan SMAN 1 Jambi untuk mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penyelenggaraan bakti sosial ini akan dilaksankan pada pukul 13.30 – 15.00 WIB.
Pada hari Ahad tanggal 20 Oktober 2019 SMAN 1 Jambi, tempat kakak Fatimah bekerja akan berkunjungan ke Panti Asuhan Yatim Piatu Darul 'Aitam di kawasan 16, kota Jambi. Kegiatan ini merupakan acara tahunan SMAN 1 Jambi untuk mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penyelenggaraan bakti sosial ini akan dilaksankan pada pukul 13.30 – 15.00 WIB.
Ahad ini Fatimah tidak ada jadwal apapun sehingga dia menerima ajakan kakaknya.
Percakapan lewat telepon itu tidak lama, hanya sepuluh menit, saling bertanya
kabar, kesibukkan masing-masing dan kesepakatan untuk nanti bertemu jam berapa.
Putra adalah kakak satu-satunya Fatimah, dia sekarang telah menikah dan tinggal
bersama keluarga istri. Hanya jika ada waktu luang menyempatkan bertandang untuk
menjenguk orang tuanya.
“Siapa
tadi yang meneleponmu, Nduk? Ibu Fatimah bertanya
“Kakak,
Bu. Dia minta ditemani ke panti asuhan ba’da zuhur nanti.”
“Oh
ya sudah, bilang nanti ke Kakakmu, kalau sempat mampir ke sini.”
“Iya
nanti Fatimah sampaikan, Bu.”
Tepat
pukul satu siang Fatimah telah sampai ke tempat yang di maksud kakaknya. Sesaat
setelah menunggu, kakak Fatimah datang. Namun tidak sendirian, kakaknya datang
dengan seorang lelaki.
“Sudah
lama kamu menunggu, Dek? tanya Putra setelah sampai di dekat Fatimah.
“Baru
beberapa menit yang lalu, Kak.”
“Oh
iya ini Abdullah, teman satu kerja Kakak.” Putra mengenalkan Abdullah pada Fatimah.
Lelaki
itu, Abdullah tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Fatimah
pun membalas senyum Abdullah. Yang sebenarnya Fatimah sudah mengenal Abdullah,
lelaki yang selama ini dia kagumi diam-diam. Hanya berteman lewat sosial media,
namun hanya Fatimah yang mengenal Abdullah sebelumnya, dan tahu tentang
aktifitasnya menjadi seorang penulis.
“Ayo
masuk, acara bakti sosialnya sebentar lagi di mulai.” Putra mengjak mereka
untuk segera masuk.
Mereka
bertiga masuk menyelusuri lorong panti asuhan untuk sampai di ruang acara
penyambutan. Sepanjang lorong hanya Putra dan Abdullah yang banyak bercerita,
sesekali membicarakan masalah pekerjaan. Sedang Fatimah, sibuk menenangkan
debaran hatinya yang sedari tadi membuncah saat pertama kali melihat Abdullah datang.
“Apa
Fatimah sudah mempunyai calon, Putra? Tiba-tiba Abdullah menanyakan perihal itu
ke kakaknya.
“Sepertinya
belum, memang kenapa? sahut Putra.
“Aa
... akuuu ...”
Bruk!!!
_Bersambung

2 komentar:
Bruuukkk...lalu bersambung. Btw, bangit itu apa ya?
Di bagian mana ya mas
Posting Komentar