Pukul
enam pagi waktu setempat. Tokyo masih lengang dari aktifitas penduduk,
kendaraan hanya satu-dua yang lewat. Para petugas penyapu jalan dan tukang
sampah bersliweran. Taman depan kantor kepolisian masih bermandi embun. Tampak petugas
jaga mulai berdatangan.
Dalam
ruangan ber-Ac, terlihat kepulan uap kopi panas yang terletak di atas meja
kerja. Kertas-kertas berserakan tertindih topangan sepasang kaki bersepatu
pentofel. Sambil memijit pelipis mata, dia mendongak menerawang jauh. Kantor masih
sepi pegawai, pagi ini dia sengaja datang lebih awal.
Deringan
ponsel berkali-kali tak digubris. Entah sengaja atau memang tak mendengar, tertera
di layar ponsel nama seorang wanita. Hembusan nafas berat keluar dari
hidungnya. Menurunkan kaki dari meja, mengusap kasar wajahnya yang telah kusut
sepagi ini. Melirik sebentar ke arah ponsel, namun tak di sentuh.
Beranjak
dari duduk, menghampiri jendela besar yang menyuguhkan pemandangan lalu lintas
kota Tokyo. Termenung sejenak dengan melipat kedua tangan di dada. Seperkian menit,
kembali lagi ke depan meja kerjanya. Mengambil selembar kertas dan pena warna,
melingkari bagian penting dan mencatat list kegiatan hari ini.
Ponsel
kembali berdering yang ke lima kali. Menghentikan aktifitas menulisnya,
mengangkat telepon dan menjawab sapaan di seberang sana.
“God
morning to, Darling.” jawabnya dengan nada tak bersemangat.
“Aku
berkali-kali menelepon tak kunjung kau jawab.”
tanya wanita di seberang telepon.
“Maaf
... aku tak mendengarnya.” Masih dengan nada tak bersemangat.
“Masih
pagi, suaramu terdengar sudah tak bersemangat. Apa ada masalah, Darling? Wanita
itu bertanya dengan nada cemas.
“Aku
sedang menghadapi kasus rumit.” Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Hmmm ... baiklah. Itu artinya kau tak bisa
menemaniku terapi hari ini? Terdengar menghembuskan nafas kecewa.
“Pukul
berapa terapinya?”
“Pukul
sembilan nanti, di rumah sakit biasa.”
Berpikir
sejenak.
“Maaf,
Darling. Aku tidak bisa menemanimu, bertepatan ada jadwal rapat penting untuk
membahas kasus rumit ini.”
“Tidak
masalah, Darling. Aku bisa sendiri.”
“Kau
yakin?
“Iya.
Sangat yakin. Bekerjalah dan tetap semangat dan jika ada waktu luang, ceritakan
padaku kasus rumit itu. Siapa tahu aku bisa membantumu.” ujar wanita itu
memberi semangat kekasihnya dan menawarkan bantuan.
“Big
thank’s, Darling. Baiklah, hati-hati dan kabari aku bagaimana perkembangan
terapimu hari ini.” Seulas senyum akhirnya mengembang dari bibirnya.
Sambungan
telepon terputus. Dia kembali duduk menyandarkan tubuh dengan mata terpejam. “Klek”.
Membuatnya terkejut dan membuka mata. Pintu terbuka dari luar. Muncul rekan
kerjanya menghampiri.
“Hey
... Tuan Alex! Kusut sekali kau? Baru pukul tujuh pagi.” tanya Thomson sembari
meletakkan berkas baru di atas meja.
“Aku
lelah, tapi tak bisa tidur.” jawabnya dengan senyum tipis.
“Ha
ha ha ... kau terlalu larut berkencan semalam? Gurau Thomson yang sudah duduk
di kursi tamu.
“Tebakanmu
salah Tuan Thomson.” Sambil menyilangkan kedua tangan.
“Oke-oke
... Kau pasti memikirkan kasus itu sampai berlarut-larut.” Thomson menatap
serius Alex.
“Kau
tahu aku seperti apa orangnya, Tuan Thomson. Sekarang berkas apa lagi ini? tanyanya
mengambil berkas yang diletakkan Thomson tadi.
“Itu
berkas indentitas korban yang kau minta kemarin. Pelajarilah dulu, aku ingin
menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di lantai bawah. Dan jangan lupa pukul
sembilan kita ada rapat penting.” Beranjak dari duduk.
“Terima
kasih, Tuan Thomson.” Menjabat tangan rekannya dan mengantar sampai ke depan
pintu.
Lima
belas menit berkutat dengan berkas baru di tangan. Senyum sumringah terlihat
jelas di wajahnya. Meraih telepon kantor, memberi kabar sekretaris Thomson
untuk memundurkan jadwal rapat menjadi pukul setengah sepuluh. Tak lupa memberi
penjelasan kenapa meminta jadwal rapat diundur waktunya.
Selesai
urusan dengan sekretaris Thomson. Alex bergegas menyambar jas hitamnya yang bertengger
pada sandaran kursi dan kunci mobil di atas meja. Menyesap kopi dinginngya lalu
keluar dari ruangan. Menuju lift lantai bawah, dia tak mau terlambat menuju
tempat sasaran kali ini.
Setengah
berlari menuju tempat parkiran mobil. Sampai-sampai teguran dari seorang satpam
tidak dia tanggapi. Pikirannya hanya ingin cepat sampai ke tempat itu. Sebuah
panti jompo yang berada tidak jauh dari kantor kepolisian tempatnya bekerja. Mobil
keluaran terbaru itu pun meluncur sigap membelah jalanan yang telah padat
aktifitas penduduk.
“Ini
sungguh petunjuk baru yang cepat sekali ditemukan. Ternyata Ibu korban masih
hidup dan sekarang terkurung di panti jompo.” Gumam Alex seorang diri.
Dua
puluh menit Alex sampai tujuan. Memarkirkan kendaraan dengan rapi, melepas
sabuk pengaman lalu keluar dari mobil. Baru selangkah beranjak, matanya
menangkap sosok wanita yang tak asing baginya. Namun sosok wanita itu begitu
cepat melesat, hingga Alex tak sempat mengejarnya.
“Wanita
itu, bukankah? Alex bertanya dengan dirinya sendiri, melanjutkan langkah untuk masuk
ke panti jompo.
_Bersambung.

4 komentar:
Semakin seru. Lanjut
Tetap semangat untuk cerbung selanjutnya ya kakak 😁
Iya mbak
Oke2 hehe
Posting Komentar