Selasa, 29 Oktober 2019

Bisikan Membawa Maut_2

Par: Petunjuk

Pukul enam pagi waktu setempat. Tokyo masih lengang dari aktifitas penduduk, kendaraan hanya satu-dua yang lewat. Para petugas penyapu jalan dan tukang sampah bersliweran. Taman depan kantor kepolisian masih bermandi embun. Tampak petugas jaga mulai berdatangan.
Dalam ruangan ber-Ac, terlihat kepulan uap kopi panas yang terletak di atas meja kerja. Kertas-kertas berserakan tertindih topangan sepasang kaki bersepatu pentofel. Sambil memijit pelipis mata, dia mendongak menerawang jauh. Kantor masih sepi pegawai, pagi ini dia sengaja datang lebih awal.
Deringan ponsel berkali-kali tak digubris. Entah sengaja atau memang tak mendengar, tertera di layar ponsel nama seorang wanita. Hembusan nafas berat keluar dari hidungnya. Menurunkan kaki dari meja, mengusap kasar wajahnya yang telah kusut sepagi ini. Melirik sebentar ke arah ponsel, namun tak di sentuh.
Beranjak dari duduk, menghampiri jendela besar yang menyuguhkan pemandangan lalu lintas kota Tokyo. Termenung sejenak dengan melipat kedua tangan di dada. Seperkian menit, kembali lagi ke depan meja kerjanya. Mengambil selembar kertas dan pena warna, melingkari bagian penting dan mencatat list kegiatan hari ini.
Ponsel kembali berdering yang ke lima kali. Menghentikan aktifitas menulisnya, mengangkat telepon dan menjawab sapaan di seberang sana.
“God morning to, Darling.” jawabnya dengan nada tak bersemangat.
“Aku berkali-kali menelepon tak kunjung kau jawab.”  tanya wanita di seberang telepon.
“Maaf ... aku tak mendengarnya.” Masih dengan nada tak bersemangat.
“Masih pagi, suaramu terdengar sudah tak bersemangat. Apa ada masalah, Darling? Wanita itu bertanya dengan nada cemas.
“Aku sedang menghadapi kasus rumit.” Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
 “Hmmm ... baiklah. Itu artinya kau tak bisa menemaniku terapi hari ini? Terdengar menghembuskan nafas kecewa.
“Pukul berapa terapinya?”
“Pukul sembilan nanti, di rumah sakit biasa.”
Berpikir sejenak.
“Maaf, Darling. Aku tidak bisa menemanimu, bertepatan ada jadwal rapat penting untuk membahas kasus rumit ini.”
“Tidak masalah, Darling. Aku bisa sendiri.”
“Kau yakin?
“Iya. Sangat yakin. Bekerjalah dan tetap semangat dan jika ada waktu luang, ceritakan padaku kasus rumit itu. Siapa tahu aku bisa membantumu.” ujar wanita itu memberi semangat kekasihnya dan menawarkan bantuan.
“Big thank’s, Darling. Baiklah, hati-hati dan kabari aku bagaimana perkembangan terapimu hari ini.” Seulas senyum akhirnya mengembang dari bibirnya.
Sambungan telepon terputus. Dia kembali duduk menyandarkan tubuh dengan mata terpejam. “Klek”. Membuatnya terkejut dan membuka mata. Pintu terbuka dari luar. Muncul rekan kerjanya menghampiri.
“Hey ... Tuan Alex! Kusut sekali kau? Baru pukul tujuh pagi.” tanya Thomson sembari meletakkan berkas baru di atas meja.
“Aku lelah, tapi tak bisa tidur.” jawabnya dengan senyum tipis.
“Ha ha ha ... kau terlalu larut berkencan semalam? Gurau Thomson yang sudah duduk di kursi tamu.
“Tebakanmu salah Tuan Thomson.” Sambil menyilangkan kedua tangan.
“Oke-oke ... Kau pasti memikirkan kasus itu sampai berlarut-larut.” Thomson menatap serius Alex.
“Kau tahu aku seperti apa orangnya, Tuan Thomson. Sekarang berkas apa lagi ini? tanyanya mengambil berkas yang diletakkan Thomson tadi.
“Itu berkas indentitas korban yang kau minta kemarin. Pelajarilah dulu, aku ingin menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di lantai bawah. Dan jangan lupa pukul sembilan kita ada rapat penting.” Beranjak dari duduk.
“Terima kasih, Tuan Thomson.” Menjabat tangan rekannya dan mengantar sampai ke depan pintu.
Lima belas menit berkutat dengan berkas baru di tangan. Senyum sumringah terlihat jelas di wajahnya. Meraih telepon kantor, memberi kabar sekretaris Thomson untuk memundurkan jadwal rapat menjadi pukul setengah sepuluh. Tak lupa memberi penjelasan kenapa meminta jadwal rapat diundur waktunya.
Selesai urusan dengan sekretaris Thomson. Alex bergegas menyambar jas hitamnya yang bertengger pada sandaran kursi dan kunci mobil di atas meja. Menyesap kopi dinginngya lalu keluar dari ruangan. Menuju lift lantai bawah, dia tak mau terlambat menuju tempat sasaran kali ini.
Setengah berlari menuju tempat parkiran mobil. Sampai-sampai teguran dari seorang satpam tidak dia tanggapi. Pikirannya hanya ingin cepat sampai ke tempat itu. Sebuah panti jompo yang berada tidak jauh dari kantor kepolisian tempatnya bekerja. Mobil keluaran terbaru itu pun meluncur sigap membelah jalanan yang telah padat aktifitas penduduk.
“Ini sungguh petunjuk baru yang cepat sekali ditemukan. Ternyata Ibu korban masih hidup dan sekarang terkurung di panti jompo.” Gumam Alex seorang diri.
Dua puluh menit Alex sampai tujuan. Memarkirkan kendaraan dengan rapi, melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil. Baru selangkah beranjak, matanya menangkap sosok wanita yang tak asing baginya. Namun sosok wanita itu begitu cepat melesat, hingga Alex tak sempat mengejarnya.
“Wanita itu, bukankah? Alex bertanya dengan dirinya sendiri, melanjutkan langkah untuk masuk ke panti jompo.


_Bersambung.

4 komentar:

Restanti mengatakan...

Semakin seru. Lanjut

yogi riyansyah mengatakan...

Tetap semangat untuk cerbung selanjutnya ya kakak 😁

Aysafitri114 mengatakan...

Iya mbak

Aysafitri114 mengatakan...

Oke2 hehe

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...