Par: Korban Selanjutnya
Keluar
dari lift menyelusri lorong panti jompo, setelah tadi bertemu receptionis yang
mengarahkannya ke lantai dua. Sepanjang lorong berjejer kamar-kamar para
lansia, antara pintu satu dan lainnya saling berhadapan. Hanya berjarak enam
kamar dari pintu lift. Kamar ketujuh berada di ujung lorong adalah tempat yang
dia tuju.
Sejenak
dia ragu untuk mengetuk pintu kamar bernomor 77 itu. Takut kalau-kalau penghuni
kamar langsung mengusirnya atau yang lebih parah dia telah pikun. Kemungkinan itu
bisa saja terjadi, tapi apa boleh buat Alex harus tetap masuk dan memastikan
jika penghuni kamar itu adalah ibu korban.
“Tok Tok Tok.” Akhirnya Alex memberanikan diri untuk mengetuk pintu
kamar itu.
“Tok Tok Tok.” Hening. Tak ada respon dari penghuni kamar.
“Permisi!
Apa ada orang di dalam? Alex mengeraskan volume suaranya.
“Tuk
Tuk Tuk.” Suara tongkat beradu dengan lantai.
“Ceklek”
Muncul
seorang wanita berusia 70-an dengan kaca mata yang menjuntai talinya sampai ke
dada.
“Permisi,
Nyonya. Apa Anda sibuk? Bolehkah aku meminta waktumu untuk mengobrol sebentar?”
Alex bersikap sopan dengan orang tua itu.
“Heh?
Kau bicara apa, anak muda? Aku tak bisa mendengar apa yang kau katakan.” ujarnya
sambil memasang kaca mata.
Satu
masalah telah di hadapi Alex. Dia harus berhadapan dengan lansia yang tuli. Tidak
sopan bukan berbicara keras kepada yang lebih tua. Namun itulah kenyataanya,
semoga dia hanya tuli dan tak lebih parah dari itu. Akan menghambat
penyidikannya jika berlarut-larut berhadapan dengan lansia tuli.
“Aku
ingin meminta waktumu sebentar, Nyonya!” Alex pun mengeraskan volume suaranya.
“Aku
tidak tuli! Tidak sopan berbicara dengan orang tua dengan nada keras.” Gerutunya
sembari memukul kaki Alex dengan tongkat yang di pegangnya.
“Ma
... Maaf, Nyonya. Apa boleh meminta waktumu sebentar? Alex menurunkan kembali
volume suaranya.
“Kau
bicara apa? Aku tak mendengarnya.” Kembali kaki Alex menjadi sasaran pukulan
tongkat.
“Oh
Tuhan. Seperti inikah rasanya berhadapan dengan orang tua?” Alex bergumam dalam
hati, tangannya membuka tas yang di bawa. Mengambil book note dan pena, menulis
kalimat yang sedari tadi dia ulang. Lalu menyobek secarik kertas hasil
tulisannya dan memberikan pada orang tua itu.
Orang
tua itu menyipitkan mata ketika membaca tulisan Alex. Tersenyum tipis,
menyerahkan kembali kertas itu pada Alex.
“Mari
silahkan masuk.” Akhirnya upaya terakhirnya berhasil. Orang tua itu mengajak
masuk kamarnya. Alex menguntit dari belakang.
“Apa
kau seorang dokter? tanyanya setelah mempersilahkan Alex duduk pada kursi tamu
yang tersedia di kamarnya.
“Bukan,
Nyonya. Memang kenapa? Kening Alex berkerut tak mengerti.
“Tulisanmu
tadi, layaknya seorang dokter yang memberikan resep obat kepada pasiennya.” ujar
orang tua itu sambil menahan tawa.
Alex
sedikit kebingungan dengan apa yang dikatakan orang tua itu. Berpikir sejenak,
membuka kertas tulisan tadi yang masih dia genggam.
“Astaga!
Ha ha... Begitu berantakan sekali tulisanku, Nyonya. Gelak tawa pecah dari
mulutnya.
“Baiklah.
Apa tujuanmu menemuiku, anak muda? Orang tua itu mengambil alat dengarnya yang
terletak di atas meja dan memasangnya.
“Sykurlah,
orang tua ini mengenakan alat
pendengaran.” Gumam Alex dalam hati.
“Perkenalkan namaku Alex, utusan pihak kepolisian. Apa benar Nyonya bernama Lucy? Istri dan Ibu dari orang-orang yang terpampang dalam
foto ini?” Alex mengeluarkan selembar foto dari tasnya, menyerahkan pada orang
tua itu.
“Keduanya
benar. Namaku Lucy, istri dan Ibu dari mereka.” Orang tua itu, Lucy. Mengamati lamat-lamat
foto yang dipegangnya. Kaca matanya berembun, menandakan bulir air mata akan
jatuh.
“Maaf,
Nyonya. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, dan aku turut berduka cita atas
kepergian putramu.” Air muka Alex berubah prihatin yang sebelumnya sumringah
ketika mengetahui Lucy adalah benar ibu korban.
“Aku
sudah perkirankan ini akan terjadi. Bahkan mungkin nanti giliranku.” ujar Lucy
kemudian melepas kaca matanya dan menghapus bulir air mata yang sempat jatuh.
“Maksud
Nyonya? tanya Alex tak mengerti.
“Apa
tujuanmu menemuiku untuk memecahkan kasus atas terbunuhnya putraku?” Lucy balik
bertanya.
“Benar,
Nyonya. apa Anda tahu siapa pembunuhnya dan atas dasar apa putra Anda terbunuh
dengan tragis.”
“Dendam.”
Satu kata membuat Alex tercekat menahan nafas.
“Dendam”
kepada keluarga Nyonya. Kenapa? Tolong ceritakan padaku.” Pinta Alex memohon.
“Baiklah.
Aku akan menceritakan semua kejadian di balik semua ini.” Lucy memperbaiki
posisi duduknya.
Alex
siap mendengarkan dengan seksama, mencatat point-point penting dalam book
note-nya.
***
“Tidak ... Tidak ... Siapa kau?! Teriak seorang wanita
bergigil ketakutan.
“Kau
harus mati.” ujar orang itu yang mengenakan tutup kepala hanya mata yang
tampak, lengkap dengan pakainan serba hitam.
“Apa
salahku? Wanita berambut ikal itu makin tersudut.
“Kau
sama saja dengan yang lain, kau pembunuh!” Sambil mencekal leher wanita itu
dengan sekuat tenaga menghempaskan kepalanya ke dinding.
“Bug.”
Benturan
keras sukses mengucurkan darah dari tempurung kepala bagian belakang. Terhuyung
jatuh dengan masih setengah sadar, tendangan bertubi-tubi pada perut wanita itu
hingga matanya terpejam tak berkutik. Tewas.
“Ha
ha ha.” Koleksiku akan bertambah lagi, sepasang bola mata.” Gelaknya menyeringai.
Dengan
lihai orang itu tidak meninggalkan jejak. Setelah berhasil melakukan aksinya,
dia keluar dari kamar jenazah dengan memakai pakaian dan masker khusus perawat.
Tidak ada yang curiga dengan gelagatnya, karena telah berganti pakaian lagi
layaknya orang biasa. Sampai dia keluar dari rumah sakit itu dan menaiki sebuah
taksi online.
Taksi
online melaju membelah kemacetan jalan. Penumpang duduk santai dengan senyuman kemenangan
yang terlukis jelas pada raut wajahnya. Orang itu merogoh tasnya dan mengambil
ponsel. Menghungi seseorang di seberang sana. “Kau juga ingin bermain-main
denganku.” Gumamnya setelah mengakhiri telepon.
_Bersambung

Semakin seru ini.
BalasHapusSemangat untuk episode selanjutnya ya kakak
Sip dah hehe
Hapus