Beberapa bulan yang lalu kau datang. Perkenalan singkat antara kita membawa rasa tersendiri. Mungkin aku saja yang mudah terbawa suasana. Dan kau mungkin hanya menganggap ini hanya perkenalan biasa.
Sedikit banyak kita sudah saling tahu. Aktifitas sehari-hari misalnya, sampai keranah masa depan. Aku tahu, jarak yang begitu jauh memisahkan. Tak ada dua pasang mata saling tatap, tak ada dua pasang telinga saling dengar. Hanya batin yang saling membaca.
Berjalannya waktu akhirnya berangsur memudarkan kita. Tersadar ini tak baik jika terus berlanjut. Ada hati yang perlu diselamatkan dari rasa yang mungkin belum saatnya untuk saling terpaut. Perlahan aku terbiasa dan tak ingin berpikir lebih tentangmu.
Dan senja ini di saat dia mulai bersembunyi di balik malam. Kau mengejutkanku dengan satu panggilan video yang tak sempat kujawab. Usai terhanyut dengan sang Ilahi, kuberanikan jemari ini untuk menanyakan perihal panggilan itu.
Angin malam bersambut, kau menjawabnya "Jika tidak menganggu, boleh minta waktunya untuk sekadar mengobrol?"
Jelas batin ini berkata "Tumben". Dan akupun meng-iyakan ajakannya.
Tak banyak yang kita bicarakan, Hanya saling bertanya kabar, orang tua, aktifitas sekarang dan gurauan kecil menyelingi perbincangan. Kali pertama dari perkenalan untuk saling dengar suara kita. Yang berlanjut kau meminta panggilan video (lagi).
"Nggak usah malu sama teman sendiri, kan cuma video call. Satu menit aja deh kalau nggak boleh lama-lama, aku ingin melihatmu."
Jelas aku sedikit canggung, dengan permintannya. Dan benar, kau menganggapku hanya teman. Tak lebih. Apa benar kau hadir (lagi) hanya sebatas teman? Aku tak kuasa menanyakan perihal itu padamu.
Satu menitpun berakhir. Obrolan pendek dan kau hanya mengulang pertanyaan yang sudah kujelaskan diawal perkenalan kita. Aneh. Tapi tak apa, yang penting aku tahu sekarang. Kau hanya ingin menjaga jarak denganku.
Seseorang menghilang terkadang bukan benar-benar pergi. Dia hanya bersembunyi. Takut akan perasaan yang dibawa tak terjaga dengan baik. Maka Dialah tempat ternyaman untuk menyembunyikan segala hal yang dirasa.
Biarlah Dia saja yang menyampaikan jika rasa itu baik untuk kita. Akan tetap tersembunyi dan mungkin saja hilang jika rasa itu tak baik. Karena apapun itu hanya Dia yang mendatangkan kebaikan untuk kita kedepannya.
Kita hanya di dunia semu yang tak kunjung temu.

3 komentar:
Uluh uluh... Hanya semu yaa... Di ramu terus itu semu agar lekas mencapai titik temu.
Di ramu menjadi jamu pelepas rindu
Posting Komentar