Masa-masa sekolah adalah masa yang menyenangkan. Bersyukur tentunya dapat mengeyam dunia pendidikan. Berkumpul dengan teman sebaya dipenuhi dengan canda dan tawa. Banyak diluar sana yang masih terlantar tanpa ilmu. Sungguh miris rasanya melihat kondisi seperti itu dizaman sekarang ini.
Dan aku masih beruntung dan bersykur dibesarkan dalam keluarga yang mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anak. Meski orang tuaku tak mampu bersekolah sampai tingkat tinggi tapi mereka tidak mau melihat anaknya putus sekolah. Mereka menginginkan aku menuntut ilmu setinggi-tingginya
Seiring berjalannya waktu. Wajar bukan seorang pelajar mengalami kejenuhan dalam belajar. Terutama dalam mata pelajaran yang dihadapi. Tidak semua pelajar menyukai pelajaran yang mereka terima. Menyukai tidak menyukai menjadi dampak bagi para pelajar dalam proses pembelajaran berlangsung.
Contohnya aku. Aku sangat menyukai pelajran Bahasa Indonesia, dan tidak menyukai pelajaran Matematika. Aku suka belajar Bahasa Indonesia menurutku banyak cerita-cerita yang menarik. Mulai dari sanalah aku hobby membacaku tumbuh. Dibanding dengan pelajaran Mateamtika yang penuh dengan rumus-rumus membuat jenuh sampai ingin menyerah walau hanya mengerjakan satu soal.
Sampai aku duduk di Sekolah Menengah Atas aku masih tidak tertarik dengan yang namanya pelajaran Matematika. Mulutku pernah berucap "jika nanti aku lulus sekolah dan masuk perguruan tinggi, aku tidak ingin mengambil jurusan yang berbau dengan rumus terutama matematika". Dulu kuanggap ucapanku akan kutepati, tapi nyatanya.
Qadarallah, apalah dayaku. Setelah lulus sekolah dan aku masuk perguruan tinggi, nyatanya aku mengkhianati ucapanku dulu. Aku mengambil jurusan Pendidikan Matematika. Yang kataku dulu tidak ingin mengambil jurusan Matematika apa kabar? Sadarkah apa yang kau ucap dulu sekarang malah kau jalani?
Sedikit kujelaskan apa yang terjadi dibalik semua itu. Berawal dari temanku, dian mengajakku masuk perguruan tinggi yang sama, karena kupikir biaya masuknya masih terjangkau oleh orang tuaku, meski mereka mampu membiayai lebih dari itu tapi aku yang tidak ingin menyusahkan mereka. Dan kupikir tak apa nantinya beda jurusan kan masih satu kampus.
Keinginanku untuk beda jurusan dengan temanku tidak disetujui oleh orang tuaku. Aku harus mengambil jurusan yang sama dengan temanku dengan alasan "supaya pergi dan pulang bareng". Mau tidak mau, suka tidak suka aku menuruti perintah orang tuaku, karena duu aku memang belum berani kemana-mana sendiri.
Jadilah aku mengambil jurusan yang sama dengan temanku yaitu Pendidikan Matematika. Karena dia memang menyukai pelajaran Matematika. Sedangkan aku? Aku harus berjuang semester demi semester perkuliahan kuhadapi dengan usaha dan kemampuanku mengenai Matematika. Tidak mudah rasanya melakukan apa yang tidak kita sukai.
Terkadang ada rasa keterpaksaan, kejenuhan, dan bimbang antara lanjut atau tidak. Tapi seiring berjalannya waktu aku lulus dan selesai sudah aral rintangan selama perkuliahan mengahadapi tumpukan rumus-rumus. Perjuanganku selama ini tidak sia-sia meski harus jatuh bangun mengejar ketertinggalan. Kulakukan semua karena orang tuaku yang juga berjuang susah payah demi aku.
Aku sadar, benar-benar sadar. Tidak boleh mencintai dan membenci sesuatu secara berlebihan. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Boleh jadi apa yang kau cinta tidak baik untukmu dan boleh jadi apa yang kau benci amat baik untukmu. Mencintai sewajarnya dan membenci secukupmya terhadap apapun dan siapapun itu.

10 komentar:
Berlebihan itu 'ter-la-lu', 😂
terlalu membahayakan hh
Aku dulu momok dengan bahasa Inggri 😂 sekarang juga, tetap aduhai kalau harus ngomong english
Tidak suka bukan harus dihindari tapi harus berusaha didekati karena sering bertemu maka timbullah suka
Lama2 jadi suka ciee hh
Aku paling ndak suka matematika ...
Yang berlebihan itu memang nggak ada baik nya
Karena Allah tak menyukai yang berlebih-lebihan 😳😳
Matematika, fisika malesinnnnn 🤣🤣
Terbaik itu adl kehendakNya
Posting Komentar