Pukul 06:00 WIB
Rabu, 18 September 2019
Udara pagi yang segar
seharusnya benar-benar segar namun ku hirup terasa menyesakkan dada. Kabut
embun yang dulu menyegarkan kini telah berubah menjadi kepulan kabut asap yang
perlahan meracuni setiap mahkluk yang menghirupya. Ah ... sekarang aku galau
membedakan antara bau asap dan bau bunga durian yang kini tak kalah semerbak
tercium disepanjang pinggir jalan.
Tak begitu peduli
dengan itu semua, ku rasa sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini sepanjang
hari. Toh sudah kehendak-Nya alam seperti ini, hanya manusia perlu memetik
hikmah yang sedang terjadi pada alam yang mereka tempati. Aku harap
tangan-tangan jahil itu segera Tuhan sentuh selembut mungkin agar hatinya
tergerak, tak lagi menyiksa sesama makhluk yang Tuhan ciptakan.
Sudah 25 menit waktuk
berlalu, dan hanya tertulis dua paragraf. Tak tahu apa lagi rasanya yang ingin
ku tulis. Tak apa setidaknya papan ketik untukku menulis bisa istirahat sejenak
sembari aku memikirkan apa yang ingin ku tuangkan dalam tulisan ini. Aku
bukanlah seorang yang pandai berimajinasi dalam menulis. Jadi yang ku tulis ini
adalah apa yang terlintas di pikiranku saja.
Sesekali ku intip pesan
yang masuk dalam gawaiku untuk sedikit mengusir rasa penat. Ku lihat dalam grup
Share Link Batch 7 hanya grup Tokyo
yang belum menyetor tugas harian mereka, termasuk aku. Apa mereka masih galau
dengan apa yang ingin mereka tulis? Aku juga galau memikirkan soal tantangan
yang ODOP berikan kali ini. Tapi aku suka tantangan, bagiku ini saatnya tahu
sejauh mana aku bisa berpikir.
Karena aku bukanlah
seorang yang pandai meliarkan imajinasiku maka ku putuskan untuk tantangan kali
ini aku ingin menulis tentang non-fiksi. Apa yang ada dipikiranku akan ku
tuangkan semurni mungkin tanpa ada imajinasi yang membawa pikiranku ke alam
lain. Dan semoga tulisanku kali ini bisa bermanfaat untuk sesama, memotivasi
untuk setiap pembacanya. Terutama teman-teman ODOP yang sudah berjuang sejauh
ini berpikir dan menulis apa yang mereka ingin.
Sebagai seorang penulis
pasti pernah merasakan bagai terjebak dalam gua yang gelap, buntu tak ada jalan
keluar. Dan pasti juga pernah merasakan hal-hal dibawah ini:
·
Pernah kalah
·
Tapi tak ingin menyerah
Saat-saat
seperti ini ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya, terpuruk, hilang
semangat, dan merasa tidak percaya diri dengan apa yang dihadapi. Disisi lain
kau tak ingin menyerah begitu saja, masih ada keinginan untuk terus berjuang. Bangunkan
monster dalam tubuhmu, berlarilah
dengannya. Jangan pernah mau kalah dan menyerah mengahadapi lawan yang besar sekalipun.
Tanamkan itu dalam hatimu, jika kau yakin kemenangan akan berpihak padamu.
·
Pernah gagal
·
Tapi tak ingin tertinggal
Wajar
bukan, semua orang pernah mengalami kegagalan. Gagal dalam kisah percintaan,
gagal dalam bisnis, gagal dalam meraih prestasi, dan masih banyak lagi
kegagalan-kegagalan yang lain. Dan bagi penulis gagal adalah suatu hal yang
sangat menyedihkan, lebih sakit dan perih rasanya dibanding patah hati. Apalagi
gagal untuk setor tulisan walau hanya tidak menyetor satu hari. Tapi kau tidak
ingin tertinggal bukan? Nyatanya kau masih mampu menulis dua kali lipat untuk
membayar kegagalan hari sebelumnya. Maka dari itu, jika kau tidak ingin gagal
dan tertinggal, sebaik mungkin bertemanlah dengan waktu, ajak dia sejenak
bermain-main dengan pikiranmu. Jadikan kegagalan adalah sebuah kesuksesan yang
tertunda, dan berniat dalam hati bahwa kesuksesan itu akan kau raih secepat
waktu yang berlalu.
·
Pernah jenuh
·
Tapi tak ingin menjauh
Kejenuhan
bisa menghampiri siapa saja, contohnya saja di dalam sebuah grup/kelompok. Semakin
banyak kepala semakin banyak cabang pemikirannya. Kau terkadang tak bisa satu
pemikiran dengan mereka, karena jelas setiap manusia punya pemikiran-pemikiran
sendiri. Dan akhirnya kau merasa jenuh, ditambah terkadang apa yang kau ucap
tak begitu ditanggapi, serasa ada tapi dianggap angin yang hanya sekedar
berlalu, mereka sibuk saling bercengkrama layaknya burung dalam satu keluarga. Tapi
dibalik itu semua kau tak ingin menjauh dari mereka, keakraban yang terkadang
tercipta menimbulkan embun hangat dipelupuk mata. Setidaknya jadikanlah mereka
keluarga barumu, meski kau masih merasa asing, cobalah untuk terus beradaptasi
dengan suasana dan kondisi. Dan semua akan mengalir begitu saja sampai pada
saatnya berkahir.
·
Pernah bosan
·
Tapi masih ada harapan
Tulisan
demi tulisan yang kau kirim di beranda blogmu kian hari kian menyurut tanggapan
dari para pengujungnya. Jangankan tanggapan, pengunjungpun makin sepi layaknya
hati yang menyendiri. Seketika kau merasa bosan, lalu berpikir apa tak layak
tulisanku ini? Apa tak ada peminatnya? Padahal tak meminta bayaran untuk
mengunjungi blogmu, dibanding berselancar di wahana permainan. Pada akhirnya
kau pasrah saja, ada tidaknya pengunjung dan tanggapan dari pengunjung toh
namamu sudah terdaftar di link setoran. Masih ada harapan untuk beberapa hari
berikutnya. Setidaknya kau mampu berkelana bersama pikiranmu. Dan berharaplah semoga
kau mampu untuk terus berjuang sampai akhir nanti. Jauhkan kata kalah,
menyerah, gagal, tertinggal, jenuh, menjauh dan bosan. Hanya ada kata
perjuangan dan harapan untuk menuju kesuksesan.
Sejujurnya aku tak
begitu tahu jenis non-fiksi seperti apa yang kutulis ini. Aku menulis hanya
ingin meninggalkan jejak sejarah bagi pembacanya. Aku tak sebaik tulisanku, aku
belajar dari tulisanku sendiri. “Jangan hanya bisa memotivasi orang lain tapi
diri sendiri tak bisa termotivasi”. Itulah kalimat penyemangatku agar aku terus
belajar istiqomah dengan tulisan yang ku tulis ini.

8 komentar:
Semangat, yg ptg nulis dulu, blajar perlahan seiring waktuπ
Saya pun pernah semua itu
Kabut asep dimana-manaπ
Siap mbak nio π
Tetep semangat mbak πͺπ
Makin prah disini π’
Jadi kabar kabut kekmana?
Makin merajalela π
Posting Komentar