Halaman

Sabtu, 26 Oktober 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah_End??


Part 6
Selang beberapa hari, Fatimah beraktifitas seperti biasa. Mengajar di waktu siang dengan anak-anak yang super aktif. Sungguh menguras emosi dan butuh kesabaran ekstra. Bagi mereka yang aktif belajar bisa saja melesat jauh pemikirannya. Namun untuk anak yang perlu bimbingan, perlu ketelatenan dalam memprosesnya.
Tetapi dari mereka Fatimah banyak belajar. Bagaimana mengatur emosi, cara memotivasi mereka, dan yang paling penting adalah perhatian yang adil. Kelak Fatimah juga akan menjadi seorang ibu, tentu harus banyak belajar dari sekarang. Cara mendidik anak yang berkarakter baik sesuai agama.
Sementara di rumah Fatimah. Empat orang sedang asyik mengobrol. Kedua orang tuanya, kakaknya dan satu lagi teman satu kerja kakak Fatimah. Abdullah. Iya, sepulang kerja tadi kakak Fatimah mampir ke rumah dengan membawa Abdullah. Kebetulan hari Sabtu jam kerjanya hanya sampai pukul dua.
“Jadi langsung saja, Pak, Bu. Maksud kedatangan saya ke sini yang pertama, untuk bersilahturahim dengan keluarga Bapak. Karena saya sudah lama mengenal Putra selaku teman kerja saya. Maka ingin pula saya mengenal Bapak dan Ibuk. Yang ke dua, saya bermaksud meminta izin kepada Bapak, untuk berta’aruf dengan Fatimah, putri Bapak.”
Akhirnya kalimat itu terucap juga. Susah payah Abdullah menyiapkan agar tidak salah ucap. Debaran jantungnya yang tadi berpacu hebat, kini mulai bisa di kontrol. Tangan Abdullah berkeringat dingin menahan gerogi. Hanya beberapa kata namun sulit jika sudah berurusan dengan perasaan.
Selama ini sudah berbagai ikhtiar dijalani, menitipkan Cv ta’ruf kepada ustaznya. Dan yang paling penting, Abdullah tidak pernah menutup diri jika ada perempuan yang mengajukan ta’ruf padanya. Lewat email, meminta menemui abinya, bahkan ada yang ibunya menelepon Abdullah menawarkan anaknya. Namun belum ada yang cocok bagi Abdullah.
Bukan tanpa alasan mengapa Abdullah seberani itu. Hanya sosok Fatimah yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Hati terus membuncah, apa lagi ingat pertemuannya dengan Fatimah Ahad kemarin. Ingin rasa berucap langsung pada Fatimah, namun lidah terasa kelu. Maka dari itu dia menyampaikan lewat Putra, kakak Fatimah.
“Nak Abdullah sudah lama mengenal  Fatimah?”
“Belum, Pak. Saya hanya mengenal sedikit dari sosial media, yang ternyata Fatimah adalah adik Putra. Saya juga mendengar tentang Fatimah melalui Putra.”
Menepuk pundak anaknya, Putra.
“Kamu kok ndak cerita-cerita le, ada yang ingin dekat dengan adikmu.”
“Biar jadi kejutan, Pak. sahut Putra sambil senyum sumringah.
 “Memang aku sudah kenal lama dengan Abdullah. Sekitar setahun yang lalu saat dia pindah kerja dari Pekanbaru ke Jambi. Tetapi baru-baru minggu lalu tahu, kalau dia kenal juga dengan Fatimah, Pak.” Lanjut Putra menjelaskan.
“Oalah ... ngono to Nduk? Alhamdulillah, kita di pertemukan oleh Allah dengan cara yang indah.” Ibunya Putra ikut berbicara.
Enggih, Bu Alhamdulillah. Tapi maaf saya baru sekarang main ke sini” jawab Abdullah tersipu malu.
“Ya nggak masalah bagi kami ya kan, Pak?” Ibunya Putra melirik ke suaminya.
Wong membawa niat baik-baik kok di tolak. Pamalih itu.” sambung Ayahnya Putra.
“Insya Allah aku akan jadi Kakak iparmu. Ha hah. Putra menyikut Abdullah.
“Alhamdulillah jika Bapak dan Ibu menerima kedatangan saya, dan insya Allah rekan kerja saya ini akan berubah menjadi Kakak ipar saya.” Menjawab omomgan kedua orang tua Putra dan melirik sebentar ke Putra melayangkan candaannya.
Ketegangan berubah menghangat. Abdullah bersyukur keluarga Fatimah begitu ramah mau menerima niat baiknya.
 “Abdullah ini selepas acara bakti sosial Ahad kemarin cerita kalau ingin mengajukan ta’aruf dengan Fatimah. Jelas aku kaget sekaligus seneng, karena diam-diam selama ini Abdullah tertarik dengan Fatimah. Jadi mumpung ada waktu luang juga, aku bawa di ke rumah, Pak.” Kembali Putra menjelaskan pada orang tuanya.
“Kalau Bapak sama Ibu setuju-setuju saja, ya kan Bu.” Ayah Putra meminta persetujuan istrinya.
“Iya Nak Abdullah. Kami seneng akhirnya putri bungsu kami ada yang ingin berniat serius.” Ibunya Putra juga menyetujui niat baik Abdullah.
“Tapi ya semuanya tergantung bagaimana Fatimah. Karena dia yang akan menjalankannya nanti. Berhubung Fatimah belum pulang dari mengajar, sore dia baru pulang. Atau Nak Abdullah mau menjalin komunikasi dulu dengan Fatimah?” ujar ayah Fatimah menawarkan.
“Emm ... sepertinya Fatimah bakal malu Pak kalau chattingan dengan Abdullah. Biar lewat aku saja bagaimana keputusan Fatimah.”
“Ya sudah, bagaimana baiknya saja. Nanti kalau sudah pulang mengajar akan Bapak sampaikan ke Fatimah. Biar dia kabari lewat Putra.”
“Ayo monngo Nak di minum lagi tehnya sama itu ada kue jangan di anggurin.” Ibunya Fatimah mempersilahkan.
Enggih, Bu.” Abdullah mengambil segelas teh yang sedari tadi hanya terminum sedikit untuk menetralkan perasaanya.
Bercengkrama sebentar lalu Abdullah izin pamit, begitu juga Putra. Dia pulang ke rumah mertuanya bersama Abdullah. Tergopoh-gopoh ibunya Putra membawa dua kresek putih berisi pisang. Satu di serahkan pada Putra dan satu lagi untuk Abdullah. Abdullah yang menerima itu tersanjung sekali.
Pukul setengah lima sore Fatimah telah sampai di rumah. Memarkirkan motornya dan masuk ke rumah sambil mengucap salam. Terlihat kedua orang tuanya duduk santai di ruang tamu sambil bercengkrama. Fatimah menghampiri dan mencium takzim tangan kedua orang tuanya.
 Setelah mandi badan Fatimah terasa segar, beban pikiran hari ini pudar. Dia ingin menyampaikan sesuatu kepada orang tuanya. Bagaimana hasilnya nanti pasrah lillahita’ala. Ini sudah keputusan yang di ambilnya. Meski berat memilih harus merelakan satu di antara lelaki yang selama ini dia suka.
“Pak, Bu.” Fatimah menyapa dan duduk di seblah ibunya.
“Tadi Kakakmu ke sini loh, Nduk.” Belum sempat Fatimah mengutaran, ibunya sudah membahas kedatangan kakaknya.
“Iya ... tapi sama temennya.” sambung bapaknya.
“Siapa, Pak? tanya Fatimah.
“Abdullah, Nduk.” Ibunya yang menjawab.
“Loh kok tumben Kakak bawa temennya ke rumah, Bu?” Kening Fatimah berkerut penasaran.
“Itu dia mau berta’aruf sama kamu, Nduk.” Ujar bapaknya menjelaskan.
Fatimah tercekat, kaget bukan main. Nafas seakan berat dia hembuskan. Terjebak kebingungan, lantaran dia akan menyampaikan bahwa telah menerima tawaran ta’aruf dengan seseorang. Sekarang Abdullah muncul di saat dia telah menerima tawaran itu. Meski telah mempertimbangkan mana yang dia pilih. Tetap saja ada desiran tak enak di hatinya.
“Bagaimana menurutmu, Nduk? Pertanyaan ibunya membuyarkan lamunannya.
“Tapi ... maaf Pak, Bu ... aku sudah terlanjur menerima tawaran ta’aruf lebih dulu dari lelaki lain. Besok mau bersilahturahim ke sini. Dia sepupu Rifa, temanku. Lelaki itu namanya Al - Fariz. Tadinya aku mau menyampaikan itu sama Bapak dan Ibu. Dan maaf baru memberi tahu soal ini.” Fatimah tertunduk, melilin ujung jilbabnya.
Yo wis ndak masalah, Nduk. Bapak ikuti saja mana yang menurut hatimu sreg.” Ucapan bapaknya menenangkan.
“Ibu juga ndak masalah, Nduk. Selama itu baik dan membahagiakanmu, Ibu juga akan ikut bahagia.” Ibunya mengelus pucuk kepala Fatimah.
“Kasih kabar Kakakmu, Nduk. Jelaskan sama dia kalau kamu sudah menerima tawaran ta’aruf laki-laki lain. Nanti Kakakmu yang akan menyampaikan sama Abdullah.”
“Terima kasih, Pak Bu ... selalu mendukung untuk kebahagianku.” Mata Fatimah berkaca-kaca.
“Iyo, Nduk.” jawab ibunya sambil tersenyum begitu juga bapaknya.
Usai menelepon sang kakak di hadapan kedua orang tuanya, Fatimah izin ke kamar. Menghempaskan tubuh mungilnya ke ranjang menatap nanar langit-langit kamar. Sejak tadi dia bendung air yang ingin menganak sungai di matanya. Kini tak kuat lagi bendungan itu, tumpah bebas ke pipi. Hatinya di antara bahagia sekaligus sedikit sesal menyeruap.
Mungkin sedikit lebih cepat saja Abdullah mengajukan ta’aruf kepada Fatimah, pasti sudah dia terima tanpa mempertimbangankan yang lain. Atau jika saja Fatimah tidak bertemu Rifa, dia tidak akan menerima Cv ta’aruf itu. Qadarullah. Sebuah jalan yang telah Allah tunjukan pada Fatimah untuk bertemu jodohnya.
“Jika kamu mencintai dua orang dalam waktu yang sama, pilihlah yang kedua. Karena jika kamu memilih yang pertama, kamu tidak akan jatuh cinta pada yang kedua.”
Fatimah bergumam membaca quotes yang tertera pada layar ponselnya. Berawal dari pertemuan dengan Abdullah dan di susul oleh kemunculan lelaki yang telah lama dia pendam rasanya, Fariz. Debaran hebat hati Fatimah telah menunjukkan ke mana arah yag dituju.
Dia telah memilih Fariz untuk menjadi kepingan hatinya. Kepingan hati yang telah lama hilang kini kembali pada Fatimah. Sekeping hati untuk Fatimah telah terpaut dalam untaian doa dan harapan. Bahagia menyelimuti di sekeping  hati, smpai akhir hayat memisahkan diri.


_End??

2 komentar: