Halaman

Senin, 28 Oktober 2019

Bisikan Membawa Maut_1




Part: Penyidikan

Garis polisi melintang di depan rumah bergaya klasik itu. Dua orang polisi berpostur tegap berjaga-jaga di luar garis. Empat rekannya berada dalam rumah untuk olah tempat kejadian perkara. Mereka juga membawa detektif untuk kasus kali ini. Seorang wanita bertubuh langsing dan berkaca mata.
Jenazah telah di usung ke rumah sakit terdekat untuk otopsi. Pecahan kaca, sisa makanan, dan jejak kaki yang mengecap pada bekas genangan darah korban. Menjadi barang bukti untuk sementara. Salah satu polisi mengambil selembar foto dan menyerahkan pada komandannya.
“Keluarga bahagia.” Gumam komandan polisi.
“Terpampang di foto ada kedua orang tua dan putra putrinya. Mereka berfoto dengan latar belakang rumah. Nampaknya baru pindahan, terlihat kardus-kardus serta barang pindahan masih berserakan di sekitar mereka.” ungkap detektif yang berpawakan tinggi dan tegap itu.
“Setelah olah TKP tadi, korban di temukan tewas bersimbah darah. Tertusuk pecahan kaca pada bagian lambung. Mirisnya, tersangka tega mencungkil kedua bola mata korban dan mengambilnya.” Jelas polisi bertubuh agak gempal.
“Korban berjenis kelamin laki-laki, tubuh tegap, rambut sebahu dan mempunyai tanda lahir pada bagian punuknya.” Terangnya lagi.
“Sayang, kita belum tahu persis siapa tersangka di balik semua ini. Dan apa motif pembunuhan dengan cara mengenaskan serta mengambil kedua bola mata korban.” ujar komandan polisi sambil mengusap wajahnya.
“Maaf, Pak. Menurut keterangan tetangga sekitar sebelum kejadian, korban sempat membawa masuk wanita aneh seperti orang gila ke rumah ini.”
“Apa mereka mengenal wanita itu? tanya detektif kepada polisi yang memberi keterangan.
“Wanita itu tidak tinggal di daerah sini, Pak.”
“Baik, terima kasih atas keterangannya. Kita istirahat sejenak, nanti di lanjutkan lagi. Aku akan berdiskusi dengan Tuan Alex.” Komandan memberi arahan kepada anak buahnya. Lalu dia mengajak Alex, detektif yang akan membantu penyidikan kasus ini.
“Siap komandan!”
Komandan polisi mengajak Alex duduk di sebuah kursi yang ada pada ruang tamu rumah itu. Melihat barang-barang bukti dan mengamati foto yang sejak tadi dia pegang.
“Ini kejadian paling aneh yang pernah aku temui selama menjadi seorang polisi.” Komandan polisi membuka obrolan,
“Pasti ada maksud tersembunyi di balik semua ini, Tuan Thomson.” Alex menanggapi rekan bicaranya.
“Dan foto laki itu persisi dengan korban. Kemungkinan korban selanjutnya orang tua atau si wanita yang bisa jadi adiknya.” Komandan polisi yang diketahui bernama Thomson itu menyerahkan selembar foto pada Alex.
“Benar, jika mereka masih hidup, pasti akan menjadi incaran selanjutnya oleh tersangka.” Alex menyetujui pendapat Thomson.
“Kita harus bergerak cepat sebelum korban selanjutnya berjatuhan.” Thomson memberi pendapat.
“Langkah yang pertama, menemui keluarga korban. Setelah ini, suruh anak buahmu memeriksa berkas atau dokumen penting yang menyangkut indentitas korban.” Alex masih mengamati foto yang di terimanya.
Selang beberapa saat, Thomson komandan polisi itu memerintah anak buahnya untuk menyeluri setiap isi rumah untuk mencari berkas atau dokumen penting milik korban.
                                                 ***
“Hey! Kau kenapa masih melototiku? Apa aku terlalu cantik hingga matamu tak berkedip barang satu detikpun?” Wanita itu mengamati dua buah bola mata yang terkurung dalam sebotol kaca.
“Ini baru koleksiku yang pertama, dan selanjutnya ... kau!!” Anak panah meluncur tepat mengenai kepala pada foto yang tertempel di dinding.

_Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar