Halaman

Sabtu, 05 Oktober 2019

Pangeran Tidur dan Dayang Buruk Rupa


Alkisah, terdapat sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang Raja dan Ratu yang adil serta bijaksana. Kehidupan rakyat yang dipimpinnya sejahtera, makmur dan aman. Namun dibalik semua itu, Raja dan Ratu masih dirundung kesedihan. Bertahun-tahun berumah tangga belum juga dikaruniai seorang anak. Tak luput mereka berdoa memohon untuk segera diberi keturunan.

Dikeheningan malam, saat semua rakyat terlelap termasuk Raja dan Ratu. Hanya menyisakan suara-suara binatang malam. Sang Ratu terjaga dari tidurnya, ia bermimpi bahwa bertemu seorang Kakek Tua berjubah putih. Dalam mimpi tersebut Kakek Tua berkata kalau sebentar lagi mereka akan dikaruniai keturunan. Pagi harinya Ratu menceritakan mimpinya kepada sang Raja, suaminya.

Hari-hari berlalu, meninggalkan bayangan mimpi yang dialami oleh sang Ratu. Hingga di suatu siang, Raja mengumumkan kepada seluruh rakyat bahwa sang ratu mengandung. Betapa bahagia mereka saat itu, begitu juga kebahagiaan dirasakan oleh para rakyat. Waktu berlalu begitu cepatnya. Tak terasa kandungan Ratu memasuki bulan terakhir. Raja yang selalu siaga tak sabar menunggu kelahiran anaknya.

Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba. Sang Ratu melahirkan seorang anak lelaki yang tampan. Raja dan Ratu sangat bahagia, mereka mengadakan pesta dan mengundang kerajaan sahabat serta seluruh rakyatnya. Pesta ini diselenggarakan dengan segala macam keindahan. Mereka juga mengundang enam penyihir baik untuk memberikan mantera baiknya. Yang bertujuan untuk kebaikan anaknya kelak.

“Jadilah engkau Pangeran yang baik hati,” kata penyihir pertama.

“Jadilah engkau Pangeran yang tampan,” kata penyihir kedua.

“Jadilah engkau Pangeran yang jujur dan amanah,” kata penyihir ketiga.

“Jadilah engkau Pangeran yang pandai bela diri,” kata penyihir keempat.

“Jadilah engkau Pangeran yang pandai memimpin rakyat,” kata penyihir kelima.

Sebelum penyihir keenam memberikan mantranya, tiba-tiba pintu Istana terbuka.

“Mengapa aku tidak diundang ke pesta ini!” Sang penyihir jahat masuk sambil berteriak.

Penyihir terakhir yang belum sempat memberikan mantranya sempat bersembunyi dibalik tirai.
“Karena aku tidak diundang, aku akan mengutuk anakmu. Penyihir tua yang jahat segera mendekati tempat tidur sang Pangeran sambil berkata,”Sang Pangeran akan mati tertusuk pedang saat belajar bela diri, ha ha ha ha…..”. Si penyihir jahat segera pergi setelah mengeluarkan kutukannya.

Para undangan terkejut mendengar kutukan penyihir jahat tersebut. Begitu juga Sang Raja dan Ratu, sangat sedih dan terpukul sekali dengan kejadian ini. Selang beberapa saat, penyihir keenam keluar dari balik tirai. “Jangan khawatir, aku bisa meringankan kutukan penyihir jahat. Sang Pangeran tidak akan wafat, ia hanya akan tertidur selama 100  tahun setelah tertusuk pedang saat belajar bela diri, dan ia akan terbangun kembali setelah seorang Dayang mampu menjaga saat ia tertidur,” ujar penyihir keenam.

Setelah kejadian itu, Raja segera memerintahkan agar semua alat peperangan khusunya pedang yang ada di negerinya segera dikumpulkan dan dibakar.

Tujuh belas tahun kemudian, sang Pangeran telah tumbuh menjadi seorang lelaki yang tampan dan baik hati. Suatu ketika Raja dan Ratu sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Hanya sang Pangeran yang tinggal di Istana. Ia berjalan-jalan merasa bebas dan berkeliling di sekitar Istana. Sampai ia menemukan sebuah gudang dan masuk ke dalamnya. Di dalam gudang tersebut ada sebuah ruang bawah tanah.

Karena penasaran Pangeran menyelusuri dan masuk ke dalam ruang bawah tanah itu, ia melihat sebuah pedang yang tersimpan dalam sebuah lemari kaca tua. Semur hidup belum pernah ia melihat sebuah pedang begitu amat tajam dan berkilau. Ia membuka pintu lemari dan mengambil pedang tersebut. Namun tanpa sepengetahuan Pangeran tiba—tiba dari arah belakang muncul kepulan asap hitam yang berubah menjadi seorang lelaki separuh baya.

“Siapa kamu? Pangeran terkejut saat ia membalikkan badan.

“Panggil saja Paman, aku orang suruhan Raja untuk mengajarimu bela diri hari ini. Ternyata Pangeran di sini setelah kucari di dalam Istana tidak ada.” Dengan senyum penuh arti lelaki tersebut menjelaskan kedatangannya.

“Oh baiklah Paman, ayo segera ajari aku bela diri. Selama hidup, aku belum pernah menyentuh pedang.”

“Ayo Pangeran, karena sekaranglah waktu yang tepat itu untukmu.”

Pangeran menurut apa yang dikatakan lelaki yang dipanggil paman itu, tanpa ada curiga sedikitpun. Paman begitu lihai mengajari Pangeran bela diri dengan pedang. Namun Pangeran yang masih pemula sulit menyesuikan pedang yang dipegangnya. Karena tidak hati-hati saat berusaha melawan, pedang yang seharusnya mengenai paman malah membalik melukai perut Pangeran sendiri. Tak ayal Pangeran langsung jatuh tersungkur dengan pedang yang masih menancam perutnya.

“Hi… hi…hi… tamatlah riwayatmu!” kata paman  yang ternyata adalah si penyihir jahat.

Penyihir jahat telah merubah wujudnya menjadi seorang laki-laki untuk mengelabui Pangeran. Dan pedang yang tersimpan dalam lemari kaca itu juga adalah siasat untuk menarik perhatian Pangeran. Lebih parahnya lagi, pedang yang dipakai Pangeran ternyata telah diberi lumuran racun yang amat mematikan. Sesuai dengan yang dikatakan oleh penyihir sewaktu Pangeran masih bayi, Pangeran akan mati tertusuk pedang.

Seluruh Istana gempar dan cemas mengetahui Pangeran tidak ada di tempat. Raja dan Ratu bingung saat mereka kembali ke Istana mengetahui Pangerannya hilang. Karena rasa cemas dan takutnya, sang Raja memerintahkan seluruh rakyat untuk mencari pangeran.

“Wahai rakyat-rakyatku, tolong cari Pangeran sampai ditemukan, cari keseluruh penjuru istana dan negeri ini.” Titah Raja kepada rakyatnya.

“Kanda, bagaimana ini? Ke mana Pangeran kita? Aku cemas sekali Kanda.” Ratu menangis berurai air mata.

“Sabar Dinda, Pangeran kita pasti baik-baik saja, dan pasti ditemukan. Aku yakin dia anak yang baik.” ujar Raja menenangkan istrinya.

“Tapi bagaimana kalau Pangeran bertemu penyihir jahat itu Kanda?”

“Aku juga cemas akan hal itu, semoga saja tidak terjadi hal-hal buruk terhadap pangeran, Dinda.”

Gurat kesedihan mulai terlihat lagi setelah sekian tahun lalu kesedihan itu sirna karena mereka akan dikaruniai keturunan. Namun sekarang, kesedihan, rasa cemas dan takut menyelimuti mereka.

Sedangkan para rakyat berpencar mencari Pangeran ke seluruh penjuru. Tak sejengkal pun terlewati, dengan sangat sigap dan teliti mereka mencari keberadaan Pangeran. Pada akhirnya, Pangeran ditemukan dalam ruang bawah tanah, tetapi ia dalam keadaan tak sadarkan diri. Segera ia dibopong dan di bawa ke istana.

“Anakku ... malang sekali nasibmu…” kata Raja.

“Bagaimana ini bisa terjadi padamu, Nak.” Ratu tak kuasa untuk terus menangis, memeluk Pangeran.

Tiba-tiba datanglah penyihir yang baik hati. Katanya, “Jangan khawatir, Pangeran hanya akan tertidur selama seratus tahun. Tapi, ia tidak akan sendirian. Aku akan memberi tujuh Dayang yang akan menemaninya selama tertidur. Dari ketujuh Dayang, jika salah satu diantaranya tetap setia menjaga Pangeran sampai terbangun. Maka Dayang tersebut berhak di nikahkan dengan Pangeran. Aku juga akan menidurkan kalian semua untuk menemani Pangeran tidur”, lanjutnya sambil menebarkan sihirnya ke seisi Istana.

Sang raja dan ratu tiba-tiba tertidur, seluruh pengadilan, kuda-kuda, pergi tidur di kandang, anjing di halaman, burung-burung merpati di atas atap, lalat di dinding, bahkan api yang menyala di perapian menjadi tenang dan tidur. Di sekeliling istana mulai tumbuh pagar duri, yang setiap tahun menjadi lebih tinggi, dan akhirnya tumbuh menutup seluruh istana, saking tingginya tanaman berduri itu menjadi seperti benteng yang menutupi, bahkan istana tidak dapat dilihat dari luar.

Kini muncullah tujuh Dayang yang akan menjaga selama Pangeran tidur. Keenam Dayang tersebut sangatlah cantik parasnya, putih juga bersih. Hanya satu di antara mereka yang memiliki paras yang amat buruk rupa, hitam kulitnya. Mereka dengan setia menunggui Pangeran tidur.

Selang beberapa tahun berlalu. Para Dayang mulai merasa bosan hanya duduk manis, bersantai di dekat pembaringan Pangeran. Mereka ingin sekali keluar istana. Menikmati udara segar untuk mengusir kejenuhan. Salah satu di antara mereka akhirnya menyerah untuk keluar Istana.

Keajaiban terjadi, seketika pagar berduri yang menutupi seluruh Istana hilang saat Dayang pertama melangkahkan kaki untuk keluar. Dengan amat girangnya akan suasana baru yang dilihat, Dayang tersebut lupa akan tugas yang seharusnya tetap menjaga Pangeran tidur. Seketika Dayang tersebut telah sampai di luar pagar Istana. Saat itu juga ia ingat akan tugasnya. Namun sayang. Pagar berduri nan tinggi tiba-tiba menutupi Istana lagi, membuat ia tak bisa masuk.

Begitulah seterusnya berulang, Dayang-dayang mulai berguguran untuk melaksanakan tugas. Mereka tidak sanggup jika bertahun-tahun hanya berada dalam Istana. Meskipun Pangeran sangat tampan, tidak menyurutkan niat para Dayang untuk tetap keluar Istana. Namun tidak untuk Dayang yang berparas buruk rupa. Ia tetap menjaga Pangeran walaupun keenam temannya telah memilih menyerah dan keluar Istana.

Bukan karena Pangeran yang tampan, bukan pula mengharap imbalan kelak jika Pangeran bangun. Sedikitpun tidak terlintas dibenaknya ingin meminta imbalan selama menjaga Pangeran tidur Dayang buruk rupa itu hanya ingin menuntaskan tugasnya, melaksanakan amanah yang telah diberikan penyihir baik hati kepadanya. Meski harus 100 tahun ia menjaga Pangeran, tidak pernah ia mengeluh atau beniat untuk keluar Istana.

Betapa tulusnya hati Dayang buruk rupa itu. Hingga sampailah tahun ke-100 Pangeran tidur. Kejaiban terjadi sang Pangeran yang telah tertidur selama 100 tahun tiba-tiba terjaga. Dayang buruk rupa kemudian menceritakan apa yang terjadi. Mereka berdua kemudian keluar dari Istana. Istana telah berubah, seketika pagar duri telah hilang, kembali seperti semula. Dan pada saat yang sama Raja dan Ratu juga telah terjaga dari tidur mereka termasuk semua pejabat istana yang saling memandang dengan takjub.
Dan kuda-kuda di halaman berdiri dan mengguncang diri, anjing-anjing melompat bangun dan mengibaskan ekor mereka, burung-burung merpati diatas atap membuka sayap dan mengeluarkan kepalanya, melihat sekitar kemudian terbang ke angkasa, lalat di dinding merayap lagi, istana itu kembali hidup bangun dari tidur panjang mereka. Raja, Ratu dan seluruh rakyat sangat berbahagia karena kutukan dari penyihir baik hati telah patah.

“Akhirnya kau berhasil menjaga Pangeran, Dayang buruk rupa. Kau pun akan terkena kutukan sihirku!” Penyihir jahat itu kembali. Ia menghadang sang Pangeran.

“Hai Pangeran! jika kau ingin tetap hidup kembali, kau harus mengalahkan aku terlebih dahulu!” teriak si Penhyihir.

Dalam sekejap, ia merubah dirinya menjadi seekor naga raksasa yang menakutkan. Ia menyemburkan api yang panas. Pangeran menghindar dari semburan api itu. Ia menangkis sinar yang terpancar dari mulut naga itu dengan pedangnya. Ketika mengenai pangkal pedang yang berkilau, sinar itu memantul kembali dan mengenai mata sang naga raksasa. Kemudian, dengan secepat kilat, Pangeran melemparkan pedangnya ke arah leher sang naga.

“Aaaa….!” Naga itu jatuh terkapar di tanah, dan kembali ke bentuk semula, lalu mati. Begitu tubuh penyihir jahat itu lenyap, pagar berduri yang selama ini menutupi istana ikut lenyap. Di halaman Istana, bunga-bunga mulai bermekaran dan burung-burung berkicau riang. Pangeran terkesima melihat hal itu. Tiba-tiba penyihir yang baik hati muncul di hadapan Pangeran.

“Dayang, engkau telah berhasil menghapus kutukan atas Istana ini. Sekarang kau harus melaksnakan tugas selanjutnya.” katanya.

Dayang buruk rupa tidak mengerti maksud dari penyihir baik. “Apakah tugas selanjutnya? Bukankah tugasku hanya menjaga Pangeran selama tidur?”

“Tugasmu selanjutnya adalah, kau bersedia menikah dengan Pangeran.” ujar penyihir baik hati.

“Tapi ... aku ini buruk rupa, apa Pangeran mau menikahiku? Raja, Ratu serta para rakyat apa mau menerima aku? kata Dayang buruk rupa merendahkan diri.

“Aku akan tetap menikahkanmu dengan Pangeran, Dayang.” Tidak perlu merendahkan diri.

“Benar apa yang dikatakan suamiku, kami semua akan menerimamu sebagai menantu serta Putri Istana ini.” Sang Raja turut angkat bicara.

“Dan aku tidak mempermasalahkan parasmu, Dayang. Selama ini kau selalu setia menjagaku hingga terbangun. Menikahlah denganku,  kita akan hidup bahagia. Percayalah.” Pangeran tampan berujar serta mengajak Dayang buruk rupa menikah.

“Taa-“ ucapan Dayang buruk rupa terpotong.

“Terimalah pinangan Pangeran, Dayang. Nanti kau akan melihat sendiri keajaibannya.” ujar penyihir baik hati.

“Baiklah ... aku bersedia menikah dengan Pangeran.”

Keajaiban benar-benar terjadi. Selepas Dayang buruk rupa menerima pinangan Pangeran. Ia berubah menjadi seorang Putri yang cantik jelita dengan pipi semerah mawar yang merekah. Karena sang Pangeran dan sang Putri saling jatuh cinta. Semua rakyat ikut bahagia mendengar hal itu mereka akan melangsungkan pernikahan megah yang diselenggarakan di seluruh penjuru Istana.

. Hari pernikahan sang Pangeran dan Putri pun tiba. Rakyat berbondong-bondong datang dari seluruh penjuru negeri untuk mengucapkan selamat. Enam penyihir yang baik juga datang dengan membawa hadiah. Pada akhirnya Pangeran tidur dan Putri cantik hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.

End....


Pesan Moral: Amanah itu berat, harus ikhlas dan sabar dalam menjalaninya. Kelak akan mendapatkan sendiri imbalannya dengan cara dan jalan yang lebih indah dari yang dibayangkan.


Untuk memenuhi tantangan ODOP pekan ke-4 aku mengadaptasi dari cerita Putri Tidur dengan alur yang sedikit berbeda dari cerita sebenarnya.

11 komentar: