Halaman

Jumat, 04 Oktober 2019

Bagaimana Akhirnya?


24 September 2019
"Mengingat, merasakan, dan ingin rasanya waktu kembali disaat aku tak mengenalnya, tapi aku bersyukur Tuhanlah yang mengatur semua ini, tapi kenapa harus dengannya? Kenapa rasa ini harus hadir untuk orang yang seharusnya ku anggap hanya sekedar Kakakku saja?. Ya rasa ini sudah berlebihan saat kata cinta dan sayang telah terucap takkan mungkin lagi terhapus.

Seperti kenangan ini, kenangan kita saat itu, saat kita masih diizinkan Tuhan untuk bersatu dengan cinta. Tapi sekarang apa kau tahu kapan kisah ini berakhir? Bagaimana akirnya? Aku tahu Tuhan telah merencanakan yang terbaik untuk kita. Cinta kita harus kandas disaat ada penghalang besar, dan itu tidak mungkin kita lewati.

Kenapa kita dipertemukan dengan keadaan yang seperti ini? Keadaan  yang tidak memungkinkan untuk kita bersatu, ya karena kita masih saudara? Suatu hal  bodoh jika masih memikirkan itu, cinta tidak mengenal itu karena cinta tidak memandang darimana dia berasal. Tapi apalah daya kita, tembok itu sangat kuat aku tidak ingin menghancurkannya begitupun kamu.

Sekarang kita sudah saling mengerti cinta kita tidak akan bisa bersatu, tapi bisakah hati kita terpisah? Jujur aku tidak pernah menginginkan kata perpisahan itu terucap lagi, walaupun pasti itu akan terjadi. aku bahagia, aku bersyukur Tuhan masih mengizinkan kita bersama saat ini. Yang aku ingin hanya menghabiskan waktuku bersamamu sampai semua ini benar-benar berakhir.

Kapan saat itu datang sedang kita sekarang masih bermain dengan perasaan kita, perasaan yang tidak akan pernah hilang sampi kapanpun. Canda, tawa, sedih, suka dukanya selalu kita lewati bersama. Kamu pernah mengatakan, akan selalu menyayangiku sama seperti saat dulu kita dipertsatukan dengan cinta, apa sekarang masih berlaku ucapan itu? Aku percaya kamu masih menyimpan kata-kata itu.

Terima kasih, selama ini kau banyak berkorban untukku, apapun yang terjadi kelak aku yakin kita pasti mampu untuk melawan rasa ini, kita jalani sekarang, biarkan Tuhan yang memisahkan kita. Dan disaat hatimu telah dimiliki yang lain saat itu juga aku akan pergi dari kehidupanmu, akan ku biarkan juga rasa ini hilang bersama kepergianku.

Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu agar mendapat pengganti yang lebih baik dariku, yang lebih dari segalanya. Saat kau temukan penggantiku buanglah jauh-jauh kenangan kita, aku rela dilupakan, karena yang ku ingin melihatmu bahagia tanpa aku. Anggap saja kita ini sepasang sepatu yang selalu bersama tapi tidak akan pernah bersatu."


Tangis pecah seketika merubah keheningan saat Ibu Sena membaca diary anaknya. Tulisan itu di tulis Sena saat  ia masih hidup. Saat ia masih menjalin cinta dengan Jahran. Namun sekarang, anak kesayangan mereka telah pergi selama-lamanya. Bahkan Jahran pun ikut Sena pergi. Begitu sejatinya cinta mereka.

Ibu Sena ingat nasihatnya kepada Sena mengenai hubungan Sena dan Jahran. Itu membuat Sena hancur, sedih dan tak tahu berbuat apa. Sehingga ia hanya bisa meluapkan melalui diary kesayangannya. Dan beberapa hari setelah kepergian Sena, Papa Sena menemukan diary tersebut di kamar Sena.

Layaknya nasi yang telah menjadi bubur, orang tua Sena hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa. Tak dapat dihindari maupun ditolak. Meski kesedihan dan kepiluan terus menyelimuti orang tua Sena, tapi itulah kehidupan. Ada yang datang pun ada juga yang pergi.

End....

11 komentar:

  1. Mungkin berlaku pepatah jodoh ditangan Tuhan, mencintai tak harus memiliki

    BalasHapus
  2. sipss ... ada tipo, Mbk.


    di tulis, harusnya ditulis.

    Semangatsss

    BalasHapus
  3. Ini Sena sama Jahran meninggal ya? Kok aku sedih ya😒 Jodohnya tidak di dunia

    BalasHapus
  4. Nasi sudah menjadi bubur, ...
    Taburi ayam suwir, bawang goreng, kecap, sambel, lapeeerrπŸ˜…πŸ™

    BalasHapus
  5. ...dan tinggalkan luka di hati...
    Namun ku yakin, suatu saat nanti,
    Kita kan bertemu lagi, di dunia, abadii.......

    BalasHapus
  6. Bukan jodoh di kehidupan ini πŸ˜‚πŸ‘

    BalasHapus