Alkisah, terdapat sebuah
negeri yang dipimpin oleh seorang Raja dan Ratu yang adil serta bijaksana.
Kehidupan rakyat yang dipimpinnya sejahtera, makmur dan aman. Namun dibalik
semua itu, Raja dan Ratu masih dirundung kesedihan. Bertahun-tahun berumah
tangga belum juga dikaruniai seorang anak. Tak luput mereka berdoa memohon
untuk segera diberi keturunan.
Dikeheningan malam, saat semua
rakyat terlelap termasuk Raja dan Ratu. Hanya menyisakan suara-suara binatang
malam. Sang Ratu terjaga dari tidurnya, ia bermimpi bahwa bertemu seorang Kakek
Tua berjubah putih. Dalam mimpi tersebut Kakek Tua berkata kalau sebentar lagi
mereka akan dikaruniai keturunan. Pagi harinya Ratu menceritakan mimpinya
kepada sang Raja, suaminya.
Hari-hari berlalu,
meninggalkan bayangan mimpi yang dialami oleh sang Ratu. Hingga di suatu siang,
Raja mengumumkan kepada seluruh rakyat bahwa sang ratu mengandung. Betapa
bahagia mereka saat itu, begitu juga kebahagiaan dirasakan oleh para rakyat.
Waktu berlalu begitu cepatnya. Tak terasa kandungan Ratu memasuki bulan
terakhir. Raja yang selalu siaga tak sabar menunggu kelahiran anaknya.
Akhirnya, saat yang ditunggu
pun tiba. Sang Ratu melahirkan seorang anak lelaki yang tampan. Raja dan Ratu
sangat bahagia, mereka mengadakan pesta dan mengundang kerajaan sahabat serta
seluruh rakyatnya. Pesta ini diselenggarakan dengan segala macam keindahan.
Mereka juga mengundang enam penyihir baik untuk memberikan mantera baiknya.
Yang bertujuan untuk kebaikan anaknya kelak.
“Jadilah engkau Pangeran yang
baik hati,” kata penyihir pertama.
“Jadilah engkau Pangeran yang
tampan,” kata penyihir kedua.
“Jadilah engkau Pangeran yang
jujur dan amanah,” kata penyihir ketiga.
“Jadilah engkau Pangeran yang
pandai bela diri,” kata penyihir keempat.
“Jadilah engkau Pangeran yang
pandai memimpin rakyat,” kata penyihir kelima.
Sebelum penyihir keenam
memberikan mantranya, tiba-tiba pintu Istana terbuka.
“Mengapa aku tidak diundang ke
pesta ini!” Sang penyihir jahat masuk sambil berteriak.
Penyihir terakhir yang belum
sempat memberikan mantranya sempat bersembunyi dibalik tirai.
“Karena aku tidak diundang,
aku akan mengutuk anakmu. Penyihir tua yang jahat segera mendekati tempat tidur
sang Pangeran sambil berkata,”Sang Pangeran akan mati tertusuk pedang saat
belajar bela diri, ha ha ha ha…..”. Si penyihir jahat segera pergi setelah mengeluarkan
kutukannya.
Para undangan terkejut
mendengar kutukan penyihir jahat tersebut. Begitu juga Sang Raja dan Ratu,
sangat sedih dan terpukul sekali dengan kejadian ini. Selang beberapa saat,
penyihir keenam keluar dari balik tirai. “Jangan khawatir, aku bisa meringankan
kutukan penyihir jahat. Sang Pangeran tidak akan wafat, ia hanya akan tertidur
selama 100 tahun setelah tertusuk pedang saat belajar bela diri, dan ia
akan terbangun kembali setelah seorang Dayang mampu menjaga saat ia tertidur,”
ujar penyihir keenam.
Setelah kejadian itu, Raja
segera memerintahkan agar semua alat peperangan khusunya pedang yang ada di
negerinya segera dikumpulkan dan dibakar.
Tujuh belas tahun kemudian,
sang Pangeran telah tumbuh menjadi seorang lelaki yang tampan dan baik hati.
Suatu ketika Raja dan Ratu sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Hanya
sang Pangeran yang tinggal di Istana. Ia berjalan-jalan merasa bebas dan
berkeliling di sekitar Istana. Sampai ia menemukan sebuah gudang dan masuk ke
dalamnya. Di dalam gudang tersebut ada sebuah ruang bawah tanah.
Karena penasaran Pangeran
menyelusuri dan masuk ke dalam ruang bawah tanah itu, ia melihat sebuah pedang
yang tersimpan dalam sebuah lemari kaca tua. Semur hidup belum pernah ia
melihat sebuah pedang begitu amat tajam dan berkilau. Ia membuka pintu lemari
dan mengambil pedang tersebut. Namun tanpa sepengetahuan Pangeran tiba—tiba
dari arah belakang muncul kepulan asap hitam yang berubah menjadi seorang
lelaki separuh baya.
“Siapa kamu? Pangeran terkejut
saat ia membalikkan badan.
“Panggil saja Paman, aku orang
suruhan Raja untuk mengajarimu bela diri hari ini. Ternyata Pangeran di sini
setelah kucari di dalam Istana tidak ada.” Dengan senyum penuh arti lelaki
tersebut menjelaskan kedatangannya.
“Oh baiklah Paman, ayo segera
ajari aku bela diri. Selama hidup, aku belum pernah menyentuh pedang.”
“Ayo Pangeran, karena
sekaranglah waktu yang tepat itu untukmu.”
Pangeran menurut apa yang
dikatakan lelaki yang dipanggil paman itu, tanpa ada curiga sedikitpun. Paman
begitu lihai mengajari Pangeran bela diri dengan pedang. Namun Pangeran yang
masih pemula sulit menyesuikan pedang yang dipegangnya. Karena tidak hati-hati
saat berusaha melawan, pedang yang seharusnya mengenai paman malah membalik melukai
perut Pangeran sendiri. Tak ayal Pangeran langsung jatuh tersungkur dengan
pedang yang masih menancam perutnya.
“Hi… hi…hi… tamatlah
riwayatmu!” kata paman yang ternyata adalah si penyihir jahat.
Penyihir jahat telah merubah
wujudnya menjadi seorang laki-laki untuk mengelabui Pangeran. Dan pedang yang
tersimpan dalam lemari kaca itu juga adalah siasat untuk menarik perhatian
Pangeran. Lebih parahnya lagi, pedang yang dipakai Pangeran ternyata telah
diberi lumuran racun yang amat mematikan. Sesuai dengan yang dikatakan oleh
penyihir sewaktu Pangeran masih bayi, Pangeran akan mati tertusuk pedang.
Seluruh Istana gempar dan
cemas mengetahui Pangeran tidak ada di tempat. Raja dan Ratu bingung saat
mereka kembali ke Istana mengetahui Pangerannya hilang. Karena rasa cemas dan
takutnya, sang Raja memerintahkan seluruh rakyat untuk mencari pangeran.
“Wahai rakyat-rakyatku, tolong
cari Pangeran sampai ditemukan, cari keseluruh penjuru istana dan negeri ini.”
Titah Raja kepada rakyatnya.
“Kanda, bagaimana ini? Ke mana
Pangeran kita? Aku cemas sekali Kanda.” Ratu menangis berurai air mata.
“Sabar Dinda, Pangeran kita
pasti baik-baik saja, dan pasti ditemukan. Aku yakin dia anak yang baik.” ujar
Raja menenangkan istrinya.
“Tapi bagaimana kalau Pangeran
bertemu penyihir jahat itu Kanda?”
“Aku juga cemas akan hal itu,
semoga saja tidak terjadi hal-hal buruk terhadap pangeran, Dinda.”
Gurat kesedihan mulai terlihat
lagi setelah sekian tahun lalu kesedihan itu sirna karena mereka akan
dikaruniai keturunan. Namun sekarang, kesedihan, rasa cemas dan takut
menyelimuti mereka.
Sedangkan para rakyat
berpencar mencari Pangeran ke seluruh penjuru. Tak sejengkal pun terlewati,
dengan sangat sigap dan teliti mereka mencari keberadaan Pangeran. Pada
akhirnya, Pangeran ditemukan dalam ruang bawah tanah, tetapi ia dalam keadaan
tak sadarkan diri. Segera ia dibopong dan di bawa ke istana.
“Anakku ... malang sekali
nasibmu…” kata Raja.
“Bagaimana ini bisa terjadi
padamu, Nak.” Ratu tak kuasa untuk terus menangis, memeluk Pangeran.
Tiba-tiba datanglah penyihir
yang baik hati. Katanya, “Jangan khawatir, Pangeran hanya akan tertidur selama
seratus tahun. Tapi, ia tidak akan sendirian. Aku akan memberi tujuh Dayang
yang akan menemaninya selama tertidur. Dari ketujuh Dayang, jika salah satu
diantaranya tetap setia menjaga Pangeran sampai terbangun. Maka Dayang tersebut
berhak di nikahkan dengan Pangeran. Aku juga akan menidurkan kalian semua untuk
menemani Pangeran tidur”, lanjutnya sambil menebarkan sihirnya ke seisi Istana.
Sang raja dan ratu tiba-tiba
tertidur, seluruh pengadilan, kuda-kuda, pergi tidur di kandang, anjing di
halaman, burung-burung merpati di atas atap, lalat di dinding, bahkan api yang
menyala di perapian menjadi tenang dan tidur. Di sekeliling istana mulai tumbuh
pagar duri, yang setiap tahun menjadi lebih tinggi, dan akhirnya tumbuh menutup
seluruh istana, saking tingginya tanaman berduri itu menjadi seperti benteng
yang menutupi, bahkan istana tidak dapat dilihat dari luar.
Kini muncullah tujuh Dayang
yang akan menjaga selama Pangeran tidur. Keenam Dayang tersebut sangatlah
cantik parasnya, putih juga bersih. Hanya satu di antara mereka yang memiliki
paras yang amat buruk rupa, hitam kulitnya. Mereka dengan setia menunggui
Pangeran tidur.
Selang beberapa tahun berlalu.
Para Dayang mulai merasa bosan hanya duduk manis, bersantai di dekat
pembaringan Pangeran. Mereka ingin sekali keluar istana. Menikmati udara segar untuk
mengusir kejenuhan. Salah satu di antara mereka akhirnya menyerah untuk keluar
Istana.
Keajaiban terjadi, seketika
pagar berduri yang menutupi seluruh Istana hilang saat Dayang pertama
melangkahkan kaki untuk keluar. Dengan amat girangnya akan suasana baru yang
dilihat, Dayang tersebut lupa akan tugas yang seharusnya tetap menjaga Pangeran
tidur. Seketika Dayang tersebut telah sampai di luar pagar Istana. Saat itu
juga ia ingat akan tugasnya. Namun sayang. Pagar berduri nan tinggi tiba-tiba
menutupi Istana lagi, membuat ia tak bisa masuk.
Begitulah seterusnya berulang,
Dayang-dayang mulai berguguran untuk melaksanakan tugas. Mereka tidak sanggup
jika bertahun-tahun hanya berada dalam Istana. Meskipun Pangeran sangat tampan,
tidak menyurutkan niat para Dayang untuk tetap keluar Istana. Namun tidak untuk
Dayang yang berparas buruk rupa. Ia tetap menjaga Pangeran walaupun keenam
temannya telah memilih menyerah dan keluar Istana.
Bukan karena Pangeran yang
tampan, bukan pula mengharap imbalan kelak jika Pangeran bangun. Sedikitpun
tidak terlintas dibenaknya ingin meminta imbalan selama menjaga Pangeran tidur
Dayang buruk rupa itu hanya ingin menuntaskan tugasnya, melaksanakan amanah
yang telah diberikan penyihir baik hati kepadanya. Meski harus 100 tahun ia
menjaga Pangeran, tidak pernah ia mengeluh atau beniat untuk keluar Istana.
Betapa tulusnya hati Dayang
buruk rupa itu. Hingga sampailah tahun ke-100 Pangeran tidur. Kejaiban terjadi
sang Pangeran yang telah tertidur selama 100 tahun tiba-tiba terjaga. Dayang
buruk rupa kemudian menceritakan apa yang terjadi. Mereka berdua kemudian
keluar dari Istana. Istana telah berubah, seketika pagar duri telah hilang,
kembali seperti semula. Dan pada saat yang sama Raja dan Ratu juga telah
terjaga dari tidur mereka termasuk semua pejabat istana yang saling memandang
dengan takjub.
Dan kuda-kuda di halaman
berdiri dan mengguncang diri, anjing-anjing melompat bangun dan mengibaskan
ekor mereka, burung-burung merpati diatas atap membuka sayap dan mengeluarkan
kepalanya, melihat sekitar kemudian terbang ke angkasa, lalat di dinding
merayap lagi, istana itu kembali hidup bangun dari tidur panjang mereka. Raja,
Ratu dan seluruh rakyat sangat berbahagia karena kutukan dari penyihir baik
hati telah patah.
“Akhirnya kau berhasil menjaga Pangeran, Dayang
buruk rupa. Kau pun akan terkena kutukan sihirku!” Penyihir jahat itu kembali.
Ia menghadang sang Pangeran.
“Hai Pangeran! jika kau ingin
tetap hidup kembali, kau harus mengalahkan aku terlebih dahulu!” teriak si
Penhyihir.
Dalam sekejap, ia merubah
dirinya menjadi seekor naga raksasa yang menakutkan. Ia menyemburkan api yang
panas. Pangeran menghindar dari semburan api itu. Ia menangkis sinar yang
terpancar dari mulut naga itu dengan pedangnya. Ketika mengenai pangkal pedang
yang berkilau, sinar itu memantul kembali dan mengenai mata sang naga raksasa.
Kemudian, dengan secepat kilat, Pangeran melemparkan pedangnya ke arah leher
sang naga.
“Aaaa….!” Naga itu jatuh
terkapar di tanah, dan kembali ke bentuk semula, lalu mati. Begitu tubuh
penyihir jahat itu lenyap, pagar berduri yang selama ini menutupi istana ikut
lenyap. Di halaman Istana, bunga-bunga mulai bermekaran dan burung-burung
berkicau riang. Pangeran terkesima melihat hal itu. Tiba-tiba penyihir yang
baik hati muncul di hadapan Pangeran.
“Dayang, engkau telah berhasil menghapus kutukan
atas Istana ini. Sekarang kau harus melaksnakan tugas selanjutnya.” katanya.
Dayang buruk rupa tidak mengerti maksud dari penyihir
baik. “Apakah tugas selanjutnya? Bukankah tugasku hanya menjaga Pangeran selama
tidur?”
“Tugasmu selanjutnya adalah, kau bersedia menikah
dengan Pangeran.” ujar penyihir baik hati.
“Tapi ... aku ini buruk rupa, apa Pangeran mau
menikahiku? Raja, Ratu serta para rakyat apa mau menerima aku? kata Dayang
buruk rupa merendahkan diri.
“Aku akan tetap menikahkanmu dengan Pangeran,
Dayang.” Tidak perlu merendahkan diri.
“Benar apa yang dikatakan suamiku, kami semua akan
menerimamu sebagai menantu serta Putri Istana ini.” Sang Raja turut angkat
bicara.
“Dan aku tidak mempermasalahkan parasmu, Dayang.
Selama ini kau selalu setia menjagaku hingga terbangun. Menikahlah denganku, kita
akan hidup bahagia. Percayalah.” Pangeran tampan berujar serta mengajak Dayang
buruk rupa menikah.
“Taa-“ ucapan Dayang buruk rupa terpotong.
“Terimalah pinangan Pangeran, Dayang. Nanti kau
akan melihat sendiri keajaibannya.” ujar penyihir baik hati.
“Baiklah ... aku bersedia menikah dengan
Pangeran.”
Keajaiban benar-benar terjadi.
Selepas Dayang buruk rupa menerima pinangan Pangeran. Ia berubah menjadi
seorang Putri yang cantik jelita dengan pipi semerah mawar yang merekah. Karena
sang Pangeran dan sang Putri saling jatuh cinta. Semua rakyat ikut bahagia
mendengar hal itu mereka akan melangsungkan pernikahan megah yang
diselenggarakan di seluruh penjuru Istana.
. Hari pernikahan sang
Pangeran dan Putri pun tiba. Rakyat berbondong-bondong datang dari seluruh
penjuru negeri untuk mengucapkan selamat. Enam penyihir yang baik juga datang
dengan membawa hadiah. Pada akhirnya Pangeran tidur dan Putri cantik hidup
bahagia sampai akhir hayat mereka.
End....
Pesan Moral: Amanah itu berat, harus ikhlas dan sabar dalam menjalaninya. Kelak akan mendapatkan sendiri imbalannya dengan cara dan jalan yang lebih indah dari yang dibayangkan.
Untuk memenuhi tantangan ODOP pekan ke-4 aku mengadaptasi dari cerita Putri Tidur dengan alur yang sedikit berbeda dari cerita sebenarnya.

Sa aeeeee caqevvvv
BalasHapusIy duung hehe
HapusWah kereenππ
BalasHapusTetAp semangat untuk tantangan selanjutnya ya kakak
BalasHapusAasshiaaapp
Hapusππ seperti putri tidur, tp mirip juga pangeran kodok π π
BalasHapusPangeran kodok dan putri keong π
HapusNice
BalasHapusπ
HapusAhahhaha mixmax inih, jd pen tidur
BalasHapusSelamat tdur π
Hapus