Halaman

Minggu, 15 September 2019

Musim Telah Berganti




Musim telah berganti
Merubah lebih indahnya hari
Tak dapat kupungkiri
Musim gugur lebih indah dari musim semi

Bukan tanpa alasan gugurnya dedaunan ditengah kemarau musim panjang. Daun tak pernah menyalahkan siapapun. Hanya diam dan membisu disaat sepasang kaki menginjaknya bahkan hancur sekalipun daun tetap membisu lalu hilang menjadi bulir-bulir debu.

Daun kering mengajarkan beragam makna kehidupan, meski banyak yang menganggapnya hanya sekedar sampah berserakan serta menganggu pemandangan. Daun tetap bisa terurai dan melebur bersama tanah.

Dibalik itu semua nyatanya daun kering tak pernah membalas perlakuan buruk yang dilontarkan padanya. Daun tetap memberi manfaaat untuk makhluk hidup disekitarnya. Gugurnya daun tak melulu menimbulkan bencana justru sebaliknya.

Ditengah kemarau panjang daun dengan sengaja menggugurkan dirinya. Agar bisa mempertahankan cadangan air yang bisa menguap melalui daun menjadikan akar pohon tetap lembab dan basah. Dengan demikian pohon bisa bertahan hidup meski kemarau panjang.

Hal ini dilakukan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Lingkungan yang biasa penuh sampah plastik yang tak bisa terurai menimbulkan bau yang tak sedap. Belum lagi polusi udara yang tercemar diakibatkan oleh banyaknya kendaraan yang berlalu lalang dan macet.

Begitulah manusia harus pintar beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Pohon ditinggalkan oleh daun yang gugur tapi pohon tetap berdiri tegar dan kokoh tertiup angin. Meski daun telah gugur ia tetap ada untuk kehidupan pohon dimasa datang.

Layaknya musim yang terus berganti, hidup penuh dengan rasa ikhlas dan sabar. Disaat yang dicintai pergi meninggalkan atau harus pergi meninggalkan yang dicintai. Intinya saling merelakan rasa demi kehidupan yang lebih baik dimasa datang.

Walau merasa bahagiamu adalah bersamanya namun takdir hidup tak mengizinkan kau membersamianya. Meski begitu, kita harus tetap teguh pada pendirian, iman yang kuat. Pola pikir yang positif agar menuju hidup yang lebih baik kedepannya.

  

15 komentar:

  1. Manis banget, Mbak. Heart touching 😢

    BalasHapus
  2. Nulisnya sambil nangis nggak kak?

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah air mataku gk smpe turun kya ujan hehe

    BalasHapus
  4. Luae biasa falsafahnya. Aku harap di ujung sana kita akan menemukan cabang-csbang pohon kehidupan yang lainnya. Aa

    BalasHapus
  5. 😥😥😭😭😭😭

    BalasHapus
  6. Keep strong de' Gendhuk 🤗

    BalasHapus
  7. Cabang2 pohon yg bermanfaat untuk sesama 💪😊

    BalasHapus