Judul buku: Tiga Sandera Terakhir
Penulis: Brahmanto Anindito
Penyunting: Hermawan Aksan, Miranda Harlan
Penata aksara: Aksin Makruf
Desainer sampul: Oesman
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: Mei 2015
Tebal buku: 316 halaman
ISBN: 9786020989471
Hari Terakhir
Suara napas memburu bersamaan dengan suara ranting
terpijak patah di atas dedauanan kering. Wajah lelah dengan peluh membanjiri
tubuh. Kaki telanjangnya berhenti berlari dan singgah di salah satu pohon
pinus. Hutan pinus sore itu tampak menyuguhkan pemandangan sinar matahari yang
menerobos celah-celah pepohonan.
Kini tubuhnya meringkuk, kedua tangan menutup kedua
telinga. Seakan terganggu bunyi-bunyian yang mememakkan telingga. “Anak yatim... Siapa Bapakmu, heh! Ibumu
pasti wanita pelacur! Hahaha...” Siapa yang tak bosan tiap kali bertemu
dengan teman sebayanya dihujani kalimat-kalimat menyakitkan itu.
Hutan pinus adalah tempat pelariannya dari semua yang
menyakitkan. Di tempat itu dirinya merasa puas bisa meluapkan kekesalan yang
dirasakan. Berteriak sekencangnya, sampai pohon-pohon yang tak bersalah itu
menjadi sasaran amukannya. Seperti sekarang, tangannya terkepal kuat siap
meninju pohon yang tadi ia gunakan berteduh.
Baru saja melayangkan tinju itu sebelum tepat sasaran,
ia mengaduh dan mengusap kepalanya. Kerikil sebesar kelereng tepat mengenai
kepalanya. “Hey.. Siapa yang macam-macam padaku!” serunya melayangkan pandang
kesekitar. Namun nihil, hanya suara serangga hutan yang menyaut.
“Menyebalkan! Selalu saja ada yang menganggu,”
gerutunya sambil melangkah pergi. “Aaww!” ia mengaduh kedua kalinya. Serangan
seperti tadi lagi, ia cepat membalikkan badan. Terlihat beberapa meter di
depannya laki-laki sebayanya mememang ketapel dan kerikil yang siap diluncurkan
lagi.
“Hihihi... Takkan kuulangi lagi,” ucap laki-laki itu
sembari menurunkan ketapelnya. “Aku Bone, bolehkah berteman denganmu?
Langkahnya panjang menuju yang ditanyai.
“Kau mau apa? tanyanya dengan wajah sinis.
“Aku hanya ingin berkenalan, dan siapa tahu jodoh,”
Yang ditanya balas menjawab dengan senyum sumringah.
“Aku tak ingin mengenal dan berteman denganmu,” ia
malah melangkah pergi.
“Tunggu, Mad! Tangan Bone meraih.
“Kau kenal aku? Kenapa tadi sok tanya namaku kalau
sudah tahu! Menyentakkan tangan yang dipegang.
“Hehe.. Aku bergurau,” memain-mainkan ketapelnya. “Kau
Mamad kan? Yang tinggal di desa sebelah.”
“Iya,” jawabnya singkat.
Tak butuh waktu lama, kedua anak itu sekarang terlihat
akrab. Sesekali obrolan mereka mengundang tawa. Kehadiran teman barunya itu
kini mengubah raut wajahnya yang suram menjadi ceria. Meski terlihat jelas juga
perbedaan di antara keduanya. Warna kulit, postur tubuh, serta rambut mereka.
Mamad mempunyai postur tubuh lebih tinggi dan berisi
dibanding Bone, kulitnya yang putih kontars dengan Bone yang berkulit hitam,
berambut lurus berlawanan dengan rambut Bone yang keriting. Kesamaan mereka
hanya tampak pada bola mata yang bulat dan hidung pesek.
“Aku turut bersedih dengan nasibmu, Mad,” Merangkul
Mamad dengan kasih.
“Kau satu-satunya teman yang peduli denganku, terima
kasih.” Wajahnya yang basah air mata tersandar di pundak Bone.
“Sudahlah, jangan menangis lagi. Kau kan laki-laki.
Haha.”
Merekapun tertawa lagi, hingga tersadar waktu telah
beranjak semakin sore. Senja remang-remang menampakkan diri. Usai berjabat
tangan, mereka berpisah arah untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. Besok
berjanji bertemu lagi di tempat itu dengan cerita-cerita baru tentunya.
***
"Baru pulang, Nak?" tanyanya melihat Mamad sedang meneguk
segelas air putih.
"Iya." sahutnya pendek.
"Kamu kenapa murung seperti itu?" Melihat anaknya masuk kamar
dengan raut wajah murung si ibu langsing menghampiri.
"Aku kesal, Bu! Aku selalu saja dicibir anak yatim," katanya
dengan nada kesal.
"Mungkin sudah saatnya kam tahu."
"Maksud, Ibu?"
Ibunya mendekat pada Mamad, raut wajahnya sendu, matanya menerawang seakan
sedang mengingat masa-masa sulit yang menyedihkan.
"Ayo cerita, Bu," Tangannya menguncang-guncang badan ibunya.
"Waktu itu kamu masih berusia 9 bulan, ayahmu sedang menjalani tugas
di Papua. Namun sayang, di sana ia menjadi korban penyanderaan oleh OPM
(Organisasi Papua Merdeka). Namun, OPM sendiri ternyata menyangkalnya. Kata
mereka, pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara seperti itu demi
perjuangan kemerdekaan Papua Barat." Suaranya serak menahan tangis.
"Jadi aku punya Ayah, Bu? Kenapa Ibu tak pernah cerita padaku?"
"Ibu ingin memendam kisah itu karena terlalu menyedihkan untuk di
ingat kembali. Tapi memang sudah sepantasnya kamu tahu ini, Nak."
"Lalu bagaimana dengan Ayah, Bu? Matanya kini mulai berembun.
"Ayahmu tidak selamat, penyanderaan itu melenyapkan nyawa
Ayahmu," Ibunya tergugu memeluk Mamad.
Mereka saling berpelukan dan menangis."Ibu tahu siapa orang yang telah
menyadera Ayah?"
"Dia bernama Ode Lalut!" Bibirnya bergetar menyebut nama itu.
"Aku sangat membencinya, Bu! Mamad tak kalah geram mendengar orang
yang telah membunuh Ayahnya.
"Ya sudah, sekarang lupakan semua itu. Kita harus hidup damai dan
bahagia meski tanpa Ayah. Buktiya Ibu bisa membesarkanmu sampai sekarang."
"Terima kasih, Bu."
***
Siang hari Mamad menepati janjinya kemarin untuk bertemu lagi dengan Bone
di hutan pinus. Sekarang ia tengah menunggu Bone sambil duduk di bawah pohon
kemarin. Tak beberapa lama muncul Bone dengan senyum sumringah. Ketapelnya
dikalungkan ke leher.
"Hai, Mad! sapanya saat sampai di depan Mamad.
"Hai.. jawabnya dengan wajah lesu.
"Kau kenapa, Mad? Ada anak yang mengejekmu lagi?"
"Tidak. Aku sudah tahu, bahwa aku sebenarnya punya Ayah, tapi ayahhku
meninggal karena korban penyanderaan." masih tertunduk lesu.
"Siapa yang memberi tahumu? tanyanya kemudian.
"Ibuku."
"Sabarlah, Mad. Kau bisa menganggap Bapakku sebagai Bapakmu,"
Bone merasa iba atas apa yang dialami temannya itu.
"Benarkah?" Wajahnya kini sudah berubah cerah.
"Iya, benar. Panggil saja Pak Ode jika nanti kuperkenalkan."
"Ode? Ode siapa? Keningnya berkerut seakan mengingat sesuatu.
"Ode Lalut," jawab Bone.
"Kamu! Dasar pembunuh.. Aku benci kamu! Mamad segera mungkin menjauh
dari Bone dan berlari sekuat tenaga.
"Mad...!"
Bone mengejar Mamad yang telah jauh berlari di depannya. Ia heran kenapa
sikpa Mamad berubah setelah mendengar nama bapaknya disebut. Sedang Mamad,
berlari terus tanpa peduli lagi dengan Bone. Perasaannya tak bisa lagi
disembunyikan, melihat wajah Bone mungkin seperti melihat wajah orang yang
telah membubuh Ayahnya.
"Aaaaaarrggghhhh!!!"
Suara teriakan menggema memecah kesunyian hutan saat itu. Hari itu menjadi
hari terakhir petemuannya dengan temannya.


