Halaman

Selasa, 22 Oktober 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah_2


Part 2


Beberapa bulan setelah kisah cinta Fatimah kandas bersama Aris. Fatimah mulai bangit dari keterpurukan, butuh waktu untuk menghilangkan rasa perihnya. Berangsur-angsur pulih meski masih membekas. Masih ada bayang-bayang masa lalu yang kerap menggelayuti pikirannya. Fatimah mencoba menepis semua itu, membiarkan pudar seiring berjalannya waktu.
Fatimah kini menyibukkan diri dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Di samping mengajar Madrasah Diniyah, dia juga mulai sering mengikuti kajian-kajian setiap minggunya. Kecintaan akan dunia tulis pun disalurkan lewat komunitas menulis. Gejolak hatinya benar-benar mereda dari yang dulu amat menyesakkan. Tak ada lagi senyum yang dipaksakan untuk kisah masa lalu itu.
Drrtt... Dering ponsel milik Fatimah nyaring terdengar.
“Assalamu’alaikum, Dek.” Suara Putra, Kakak Fatimah.
“Waalaikumussalam, ada apa Kak? sahut Fatimah.
“Nanti ba’da zuhur kamu ikut Kakak ya ke panti asuhan untuk acara bakti sosial.”
“Insyaa Allah, iya Kak.” 
Pada hari Ahad tanggal 20 Oktober 2019 SMAN 1 Jambi, tempat kakak Fatimah bekerja akan berkunjungan ke Panti Asuhan Yatim Piatu Darul 'Aitam di kawasan 16, kota Jambi. Kegiatan ini merupakan acara tahunan SMAN 1 Jambi untuk mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penyelenggaraan bakti sosial ini akan dilaksankan pada pukul 13.30 – 15.00 WIB.
Ahad ini Fatimah tidak ada jadwal apapun sehingga dia menerima ajakan kakaknya. Percakapan lewat telepon itu tidak lama, hanya sepuluh menit, saling bertanya kabar, kesibukkan masing-masing dan kesepakatan untuk nanti bertemu jam berapa. Putra adalah kakak satu-satunya Fatimah, dia sekarang telah menikah dan tinggal bersama keluarga istri. Hanya jika ada waktu luang menyempatkan bertandang untuk menjenguk orang tuanya.
“Siapa tadi yang meneleponmu, Nduk? Ibu Fatimah bertanya
“Kakak, Bu. Dia minta ditemani ke panti asuhan ba’da zuhur nanti.”
“Oh ya sudah, bilang nanti ke Kakakmu, kalau sempat mampir ke sini.”
“Iya nanti Fatimah sampaikan, Bu.”
Tepat pukul satu siang Fatimah telah sampai ke tempat yang di maksud kakaknya. Sesaat setelah menunggu, kakak Fatimah datang. Namun tidak sendirian, kakaknya datang dengan seorang lelaki.
“Sudah lama kamu menunggu, Dek? tanya Putra setelah sampai di dekat Fatimah.
“Baru beberapa menit yang lalu, Kak.”
“Oh iya ini Abdullah, teman satu kerja Kakak.” Putra mengenalkan Abdullah pada Fatimah.
Lelaki itu, Abdullah tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Fatimah pun membalas senyum Abdullah. Yang sebenarnya Fatimah sudah mengenal Abdullah, lelaki yang selama ini dia kagumi diam-diam. Hanya berteman lewat sosial media, namun hanya Fatimah yang mengenal Abdullah sebelumnya, dan tahu tentang aktifitasnya menjadi seorang penulis.
“Ayo masuk, acara bakti sosialnya sebentar lagi di mulai.” Putra mengjak mereka untuk segera masuk.
Mereka bertiga masuk menyelusuri lorong panti asuhan untuk sampai di ruang acara penyambutan. Sepanjang lorong hanya Putra dan Abdullah yang banyak bercerita, sesekali membicarakan masalah pekerjaan. Sedang Fatimah, sibuk menenangkan debaran hatinya yang sedari tadi membuncah saat pertama kali melihat Abdullah datang.
“Apa Fatimah sudah mempunyai calon, Putra? Tiba-tiba Abdullah menanyakan perihal itu ke kakaknya.
“Sepertinya belum, memang kenapa? sahut Putra.
“Aa ... akuuu ...”
Bruk!!!


 

_Bersambung

2 komentar: