Halaman

Senin, 21 Oktober 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah




Part 1

Awan kelabu masih berarak serentak dengan jatuh rintiknya. Mega biru secerah mentari yang menemani. Seulas senyum keikhlasan membalut perih hati seorang gadis, yang sedari tadi hanya duduk terpaku, menunduk. Menahan agar rintik di kelopak matanya tak ikut jatuh. Cuaca hari ini sama persis dengan apa yang dia rasa. Gerimis, panas,  mendung, namun masih ada mentari yang menyinari.
Satu tarikan nafas mengucap janji suci telah tunai. Lelaki itu kini telah sah menjadi seorang suami. Uluran tangan untuk menyambut salam takzim dari wanita sahnya. Kecupan hangat mendarat di pucuk kepala, menguarkan desir panas di hati. Sekelabat adegan itu tertangkap oleh ekor mata yang sedari tadi tak ingin bersitatap. Bulir hangat tak terasa telah merayapi pipi.
Fatimah. Dialah kini seorang diri yang menanggung rasa perih itu. Bertahun-tahun lelaki itu bersamanya, namun bukan dia yang berjabat tangan dengan ayahnya. Ada tembok yang amat kokoh sehingga Fatimah tak bisa menghancurkannya. Meski sama-sama berkorban merelakan perpisahan terjadi. Hanya Fatimah yang benar-benar merasa kepingan hatinya hancur.
Aris. Lelaki itu tak bisa dia miliki seutuhnya. Keputusan yang amat berat saat Aris berucap orang tuanya  memilih wanita itu di banding dia. Wanita yang kini akan mengantikan posisi Fatimah, memiliki Aris seumur hidupnya. Inilah badai terdasyat bagi Fatimah. Senyum kebahagiaan mengembang dari pasangan itu. Usai acara Fatimah menguatkan hati dan raga, serta senyum di bibir untuk mendorong kata selamat keluar dari mulutnya.
Setidaknya Fatimah bisa berdamai dengan hatinya yang bergejolak menahan semua sesak yang di rasa. Tak terhitung berapa kali dia harus berkata pada hatinya untuk selalu kuat dan sabar. Takdir telah berpihak untuk tidak mengizinkan Aris menjadi miliknya. Maka hanya pasrah lillahita’ala yang bisa di perbuat. Akan ada yang lebih baik selepas kehilangan. Kebahagian yang sesungguhnya telah menanti untuk di jemput.

4 komentar:

  1. Sabar ya Fatimah, bukan jodoh berarti

    BalasHapus
  2. Eh, kog kebayangan spt cerita di ikan terbang😅🙏
    Diksinya mengalir syahdu😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal gk ada terinspirasi dari sana loh hehe

      Hapus