Perkuliahan
telah berjalan pada semester keenam, itu artinya setiap jurusan perfakultas
harus menjalani PKLT (Praktek Kuliah Lapangan Terpadu). Dan hari ini jadwal keberangkatan kami dari
jurusan Pendidikan Matematika UIN STS Jambi. Di tahun 2017 tepatnya akhir bulan
Maret. Suatu kebanggaan sekaligus menjadi momen yang sangat sayang sekali kalau
tidak mengikuti kegiatan PKLT ini, karena jurusan kami selalu melaksanakan PKLT
di PPPPTK (Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Jogjakarta.
Aku
sendiri sama sekali tidak pernah berpikir akan melakukan perjalanan sejauh itu.
Dari kota Jambi menuju Jogjakarta tentu memakan waktu yang cukup banyak.
Persiapan jauh-jauh hari telah matang. Sampai hari keberangkatan kami berkumpul
di kampus untuk pelepasan yang dilakukan oleh Ketua Jurusan. Tak lupa berdoa
untuk keselamatan kami. Pukul delapan pagi kami berangkat dengan bus
pariwisata. Dua bus siap membawa rombongan kami dan para dosen pembimbing.
Suasana
sedih bercampur bahagia, sesaat kami meninggalkan kota kelahiran. Perjalanan
dari Jambi ke Jakarta memakan waktu sampai dua hari. Tepat siang hari kami
sampai di Jakarta, langsung menuju ke Pantai Ancol.
Sore
harinya kami bermaksud untuk mengunjugi Monas, tapi sayang rintik gerimis dan
hampir magrib menghalangi. Padahal salah satu impian bagi setiap pengunjung
yang datang ke Jakarta. Buspun melaju ke masjid yang paling tersohor di
Jakarta, yaitu masjid Istiqlal. Sejenak kami melepas penat dan bersih-bersih
sekaligus shalat. Terharu rasanya bisa melaksanakan shalat di masjid Istiqlal. Setelah
melepas penat di masjid Istiqlal, kamipun melanjutkan perjalanan untuk besok ke
Jogjakarta.
Pagi
hari sebelum menuju ke hotel penginapan, kami melancong terlebih dulu ke Candi
Borobudur. Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia. Dibangun pada
abad ke-9, Candi Borobudur sekarang menjadi magnet yang mampu menarik jutaan
wisatawan setiap tahun. Candi Borobudur memang seperti wisata wajib bagi
wisatawan di Jogja. Meskipun letaknya di Magelang, Candi Borobudur bisa
dijangkau dalam 1,5 jam saja dengan kendaraan pribadi/sewaan dari pusat Kota
Jogja.
Sedikit
yang diketahui tentang hal lainnya, termasuk siapa arsitek bangunan yang
tersusun dari 2 juta balok (55.000 m3) batuan andesit yang saling
mengunci bagaikan sebuah puzzle raksasa ini. Sebuah legenda Jawa
bercerita tentang Gunadarma yang berbaring memandang Candi Borobudur sampai
tertidur dan tubuhnya berubah menjadi perbukitan Menoreh. Gunadarma kemudian
dianggap sebagai arsitek Candi Borobudur meskipun tidak ada prasasti bersejarah
tentang hal itu.
Setelah
dari Candi Borobudur, bus membawa kami ke Candi Prambanan. Candi Prambanan adalah candi Hindu
terbesar di Indonesia sekaligus salah satu candi yang terindah di Asia
Tenggara. Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada masa
pemerintahan Rakai Pikatan (pertengahan abad ke-9) dari Kerajaan Mataram Kuno.
Namun, oleh sebab yang masih
misterius, pusat kerajaan pindah ke Jawa Timur di akhir abad ke-10. Candi yang
megah ini pun terbengkalai dan sebagian tertimbun material letusan Gunung
Merapi. Perlahan-lahan, wilayah Prambanan menjadi hutan lebat. Beratus-ratus tahun kemudian
barulah reruntuhan candi ini ditemukan kembali. Pada saat itu belum diketahui
sejarah candi ini sehingga terciptalah legenda Roro Jonggrang yang diceritakan
turun temurun. Upaya
pemugaran candi secara serius dimulai sejak 1930-an dan pemugaran candi utama
baru rampung tahun 1953.
Menjelang
sore, menapaki senja. Kami sampai di Pantai Parangtritis. Parangtritis merupakan
objek wisata yang paling terkenal di Yogyakarta. Parangtritis mempunyai
pemandangan unik yang tidak ditemukan pada objek wisata lainnya yaitu gumuk
pasir yaitu gunung-gunung pasir di sekitar pantai. Gumuk ini dikatakan sebagai
satu-satunya gurun pasir di Asia Tenggara.
Selanjutnya,
ada satu mitos pantai parangtritis yang telah berkembang bahkan sampai saat ini
masih dipercaya dan dijaga. Yakni cerita tentang Nyai Roro Kidul yang amat
menyukai benda-benda berwarna hijau. Sehingga berlakulah saran tetapi mengarah
pada larangan di pantai parangtritis untuk wisatawan agar tidak memakai pakaian
atau benda-benda yang berwarna hijau saat berada di sana. Hal ini dikarenakan,
konon, jika sampai Nyai Roro Kidul tertarik, anda dapat diseret ke laut untuk
diajak gabung atau menjadi prajuritnya bila sampai beneran membawa warna hijau.
Terlepas dari semua mitos yang ada, Pengunjung Pantai Parangtritis tetap harus
hati-hati karena ombak di sana bisa dibilang sangat besar.
Baru
selepas dari Pantai Parang Tritis kami menuju tempat penginapan. Bersiap untuk
besok pagi memulai kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum hanya berlangsung
tiga hari. Dari pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Berbagai materi
praktikum aku lahap dengan kondisi tubuh yang di paksakan untuk tetap kuat.
Sepulang
kegiatan praktikum, kami meyempatkan untuk mampir ke pusat perbelanjaan yang
selama ini sangat aku impikan dapat berkunjung ke sana. Malioboro.
Jalan Malioboro
adalah nama salah satu kawasan jalan
dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogjakarta hingga
ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan
Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo. Jalan Malioboro sangat
terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja
dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg. Jogja serta
terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan
kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantonim,
dan lain-lain di sepanjang jalan ini.
Hari
terakhir praktikum kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan ke Bali. Entah
mimpi apa aku bisa menginjakkan kaki di tanah Bali. Tempat wisata yang kami
kunjungi di Bali yaitu: Pantai Pandawa, Kuta, Tanah Lot dan Bedugul. Tak lupa
kami singgah juga di Joger.
Pantai
Pandawa ini terletak di Desa Kutuh yang menjadi bagian dari Kecamatan Kuta
Selatan, Kabupaten Badung. Pantai ini berjarak kurang lebih 18 kilometer dari
Bandara Internasional Ngurah Rai. Pada saat memasuki Pantai Pandawa, para
pengunjung akan disambut dengan keberadaan patung Pandawa Lima. Patung-patung
itu dibuat sebagai representasi dari anggota Pandawa Lima yang ada dalam cerita
Mahabarata. Lima tokoh Pandawa Lima itu adalah Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula
serta Sadewa. Tak hanya mempunyai tebing yang indah, Pantai Pandawa juga
memiliki hamparan pasir putih yang luas. Pantai ini juga dikenal mempunyai
ombak yang tenang. Cocok untuk lokasi berenang.
Pura Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di
sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas
bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu.
Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot
merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal
sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam.
Danau Beratan Bedugul
merupakan sebuah danau yang berada di Bali yang dikelilingi oleh bukit dan
memiliki udara sejuk. Danau Beratan berada di kawasan Bedugul yang terletak di
dataran tinggi dan alamnya masih asri. Danau Beratan Bedugul termasuk dari
sekian banyak wisata Bali yang terkenal. Sehingga tak heran wisata Danau
Beratan tak pernah sepi pengunjung, terlebih jika memasuki hari libur. Di
tengah Danau Beratan Bedugul terdapat sebuah pura yakni Pura Ulun Danu yang
memiliki stupa budha, menggambarkan keharmonisan umat agama hindu dan budha
sejak zaman dulu. Stupa budha dan pura selalu dijaga dan mendapat pemeliharaan
rutin sehingga kebersihannya terjaga. Pura Ulun Danu merupakan tempat pemujaan
terhadap Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan.
Dan
kunjungan wisata kami yang terakhir sebelum kembali lagi ke Jambi yaitu
Bandung. Di sana kami mengunjungi Tangkuban Perahu. Gunung Tangkuban Parahu adalah salah satu gunung yang terletak di
Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung,
dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung
Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Asal usul Gunung
Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh
cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi/Rarasati. Untuk menggagalkan niat anaknya
menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat sebuah
telaga dan sebuah perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang
marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu
inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.
Sebelas
hari mengelilingi berbagai kota dan tempat wisata sungguh pengalaman yang
sangat luar biasa bagiku. Belajar sekaligus menikmati pariwisata. Selepas dari
bandung, kamipun kembali ke kota kelahiran Jambi.











Kak Ayu yg cerita, aq yg ngos-ngosan bayangin gimana capeknya😶, auto tepar
BalasHapusBeh capeknya bukan main
HapusWaw ... Baca aja udah cuapek , bagaimana rasanya saat selesai perjalanan? 😊👍👍
BalasHapusTeparr mbak
HapusWow cape nya kayaknya aku nggak bakalan kuat deh he he
BalasHapusTapi rasa capeknya hilang kalo liburan gtu
HapusAsyik uy bedugul...
BalasHapusIya dung hehe
Hapus