Sebuah perjalanan makhluk hidup tak lepas dari takdir-Nya. Entah itu di ciptakan sebagai manusia, hewan, ataupun tumbuhan. Setelah di ciptakan pun, kita harus menerima segala aral rintangan hidup. Semua kita tentu mengalami begitu banyak kisah serta peristiwa dalam kehidupan. Rangkaian hidup manusia sesungguhnya merupakan suatu proses menuju peoses yang lain. Kesusahan, kesenangan, ataupun pencapaian itu adalah bentuk dari proses.
Proses hidup manusia yang di jalani dengan suka duka. Setelah lahir lalu beranjak dewasa, menemukan pasangan hidup dan menikah. Pada akhirnya melahirkan untuk mencari genersi penerus. Dan begitulah secara terus menerus sampai nanti Dia menghentikan kehidupan di dunia. Pernahkah berpikir sejak kapan kita tersadar bahwa kita hidup? Kita ada terlahir di dunia untuk menjani kehidupan.
Aku pun baru menyadari bahwa aku ada di dunia ini saat berumur sekitar 5 tahun. Sebelum itu, aku bagaikan amnesia tak satupun aku ingat peristiwa mulai dari kelahiranku. Aku hanya bisa mendengar dari cerita orang-orang tentang kehidupanku setelah lahir ke dunia. Terutama dari kedua orang tuaku.
Miris. Satu kata yang sampai sekarang masih menjadi kekuatanku untuk menjalani hidup. Yang jelas kuasa-Nya lebih dari segala-galanya. Tidak ada yang bisa melawan takdir jika Dia telah berkehendak. Dan Dia mentakdirkanku untuk hidup di dunia ini. Mengapa ku bilang seperti itu?
Pertama. Dia telah menjadikanku pemenang untuk menuju rahim ibuku dari sekian banyak yang ingin menembusnya hanya aku yang bisa mencapainya.
Kedua. Dia telah menjaga aku selama 9 bulan di kandungan ibuku. Tidak jarang bukan seorang ibu mengandung selamat sampai melahirkan. Lagi. Itu adalah kuasa-Nya.
Ketiga. Setelah Dia menjadikanku pemenang dan menjagaku, Dia juga mentakdirkanku untuk lahir ke dunia dengan selamat. Walaupun ada kata “miris” jika aku tidak di selamatkan-Nya. Itulah Allah Maha memberi perlindungan dan keselamatan bagi setiap makhluk ciptaan-Nya.
Sekarang akan aku jelaskan mengapa ada kata “miris” saat kelahiranku.
“Kamu itu dulu hampir saja tidak tertolong nyawanya saat di lahirkan.” Ibu mengawali cerita kelahiranku saat itu.
Bergemuruh rasa hati saat Ibu berkata seperti itu, dalam pikiranku banyak sekali tanda tanya.
“Memang apa yang terjadi padaku saat itu Bu?” tanya ku pada Ibu.
“Dulu itu masih minim sekali yang namanya Bidan Desa, sehingga kebanyakan para Ibu yang akan melahirkan masih menggunakan jasa dukun beranak.” Ibu terlihat menerawang jauh ke masa dia berjuang melahirkanku.
Sedang aku masih termenung dan mendengarkan seksama cerita ibu.
“Untunglah saat itu ada Bidan yang sedang bertugas di Desa ini, sehingga bisa membantu proses melahirkanmu, kamu lahir dengan selamat ke dunia, begitu bahagianya kami kala itu. Tapi .... “ Ucapan Ibu mengantung, raut wajahnya berubah menjadi sedih.
“Tapi kenapa Bu?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Kamu terlahir tanpa ada tangisan layaknya bayi pada umumnya, membuatk kami menjadi panik.” Terlihat mata Ibu mulai mengembun.
“Dengan sigap Ibu Bidan memberikanmu pertolongan, entah apa yang di lakukannya, Ibu dan Bapak tak putus untuk mendoakanmu, kuasa Allah untukmu nak, selang beberapa saat Ibu Bidan memberikan pertolongan, kaupun menangis dengan kencangnya, sampai memerah seperti jantung pisang dan tentu kami menangis dengan tangisan kebahagiaan.” Segaris senyum mulai tampak di bibir Ibu.
Aku yang mendengar cerita Ibu sunnguh merasa bahwa pertolongan dan kuasa Allah begitu besar untukku. Allah kirimkan pertolongan melalui Bidan yang membantu Ibu melahirkan aku.
“Lalu apa yang sebenarnya terjadi padaku Bu?” tanyaku masih penasaran.
“Kata Ibu Bidan saluran pernapasanmu tersumbat oleh lendir, maka dari itu Ibu Bidan melakukan pengisapan cairan dari mulut dan hidungmu menggunakan pipa isap kecil untuk membersihkan sumbatan dan memastikan kedua lubang hidungmu terbuka dengan penuh.” Ibu menjelaskan keadaanku saat itu berdasarkan keterangan dari Ibu Bidan.
“Sungguh luar biasa jasa Ibu Bidan untuk menyelamatkanku saat itu.” Gumamku
“Kamu dulu hanya sebesar ini.” kata Bapak yang tiba-tiba muncul sepulang dari kerja sambil membawa sebotol air mineral berukuran dua liter.
“Apa benar Bu?” tanyaku pada Ibu meminta penjelasan.
“Iya benar nak, kau terlahir mungil sekali, hanya seberat 2,2 kg.” Bapak yang menjawab pertanyaanku.
“Apa aku terlahir prematur Pak?” tanyaku
“Tidak, kau terlahir tepat usia kandungan Ibumu sembilan bulan, mungkin karena dulu Bapak kurang memberi asupan gizi pada Ibu saat mengandungmu makanya kau terlahir seperti bayi prematur.” Dari raut wajah Bapak terlihat ada penyesalan.
“Sudahlah Pak semua terjadi atas kehendak Allah, aku bersyukur masih bisa bertahan hidup sampai dewasa seperti sekarang ini.” kataku memberi semangat diri.
Meski ku tahu, tidak semudah itu bagi mereka membesarkan aku, penuh kesabaran, keteguhan hati dan keikhlasan. Yang ku dengar bukan hanya cerita kelahiranku saja, masih banyak cerita tentangku di masa kecil.
Mereka bilang, beberapa bulan setelah kelahiranku aku sudah terserang sakit, berbagai macam pengobatan yang di lakukan untuk menyembuhkan sakitku. Aku terserang paru-paru basah saat usiaku menginjak kurang dari dua tahun. Setiap kali aku batuk, kata Ibu napasku memburu seperti orang habis berlari. Syukurlah orang tuaku segera memeriksakan aku agar aku diberi penanganan yang cepat oleh dokter. Dan untuk pencegahan aku harus imunisasi PCV, serta memperbaiki gaya hidup yang sehat agar terhindar dari virus.
Aku sadar, saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar absensiku penuh dengan keterangan sakit. Ya, aku masih sering sakit walau sudah menginjak usia sekolah. Lagi-lagi batuk masih menyerangku, meski tak separah dulu. Tapi butuh waktu hampir dua minggu untuk masa penyembuhan. Tubuh yang mungil ini semakin mungkin karena terus saja di hinggapi penyakit. Tapi rasa syukur tak pernah hilang dari benak ini, memuji kekuasaan Allah yang Maha Penyelamat.
Orang tuaku juga bercerita kalau sebelum ada aku Ibu pernah dua kali melahirkan. Ya itu kakak-kakakku yang kedua dan ketiga. Kakakku yang pertama lahir dengan selamat dan sekarang tumbuh menjadi lelaki dewasa serta telah menpunyai tanggung jawab sendiri untuk keluarganya. Sedangkan dua kakakku yang lain, mereka lahir dengan selamat tanpa mengalami kajadian seperti yang aku alami. Namun, Allah berkehendak lain. Selang beberapa jam mereka di lahirkan, Allah mengambil mereka dari dekapan Ibu. Allah ingin kakak-kakakku kembali kepangkuan-Nya.
Semenjak itu aku berpikir. Apa aku akan ada di dunia ini jika saja Allah mengizinkan kedua kakakku hidup? Apa aku akan terlahir juga seperti mereka? Atau jika kedua kakakku hidup, apa aku tidak akan ada di dunia ini? Entahlah.... semua menjadi tanda tanya besar dalam benakku, sampai sekarangpun aku belum menemukan jawabannya.
Suatu waktu aku bertanya pada Ibuku. “Bu ... apa aku akan terlahir juga kalau saja kedua kakakku hidup?”
Ibu saat itu hanya melukis senyum di bibirnya. Dia berkata, “Semua ada yang mengaturnya nak, Ibu juga tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Yang jelas akan ada pengganti yang lebih baik di saat Allah mengambil seseorang yang kita cintai. Allah punya maksud dan tujuan untuk seseorang yang Dia ciptakan ke dunia ini. Yaitu untuk menjadi hamba yang baik di mata Allah. Maka dari itu, Ibu dan Bapak berharap besar padamu nak, jadilah anak yang sholeha agar nanti bisa membawa kami ke syurga-Nya.”
“Kau dan kakakmu sekarang adalah titipan dari-Nya, sebisa mungkin kami akan menjaga kalian hingga nanti waktu kita habis untuk hidup di dunia ini,” sambung Bapak menimpali.
“Ya Rab ... hamba adalah hamba yang ingin selalu bersyukur pada-Mu, karena Engkau ya Rab, atas izin-Mu hamba ada di dunia ini. Hamba sadar hamba di lahirkan ke dunia ini untuk menjadi penghibur kedua orang tua hamba, menjadi pengganti untuk yang pergi meninggalkan. Meski hamba tidak tahu apa yang terjadi kalau kedua kakakku hidup. Semua atas kehendak-Mu ya Rab. Izinkan hamba bahagiakan kedua orang tua hamba dan menjadi anak yang sholeha agar bisa membawa mereka ke syurga-Mu.”

Mantaps... Semangay nulis yang selanjutnya ya kak
BalasHapusKa, ko nggak ada paragraphnya yah 🥺
BalasHapus