Halaman

Minggu, 29 September 2019

Tentang Kamu


Resensi Novel Tentang Kamu

Untuk tantangan pekan ke-3 di ODOP aku akan meresensi sebuah buku yang beberapa tahun telah kubaca. Ketertarikan pada novel ini karena blurb-nya menceritakan kisah yang hampir mirip dengan perasaanku saat itu. Rasa penasaranpun terjawab setelah aku selesai membaca novel ini.

Judul: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Tebal Buku: 524 + vi halaman
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Tahun Terbit: Oktober 2016

Tere Liye merupakan salah satu novelis terkenal di Indonesia, quotes-nya pun banyak bersliweran di media sosial. Novel yang diterbitkan selalu menjadi best seller dan tidak mengecewakan. Novel Tentang Kamu adalah salah satu dari 28 karyanya yang juga best seller.

Novel Tentang Kamu menceritakan tentang perjalanan seorang pengacara asal Indonesia yang bekerja di Thompson & Co bernama Zaman Zulkarnaen. Zaman ditugaskan untuk mencari ahli waris dari seorang perempuan bernama Sri Ningsih yang memiliki jumlah warisan yang sangat banyak. Untuk menyelesaikan tugasnya Zaman menelusuri kehidupan Sri Ningsih hanya berbekal alamat yang diketahui bahwa terakhir kali dia tinggal di sebuah panti jompo di Paris. Dari panti jompo tersebut dimulailah penelurusan kehidupan Sri Ningsih dengan sebuah buku diary yang dia peroleh dari petugas panti jompo.

Perjalanan Zaman di mulai dari mendatangi tempat Sri Ningsih kecil, Pulau Bungin. Kepulauan Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Terkuaklah awal kisah Sri Ningsih di masa kecil, Sri Ningsih yang ditinggalkan oleh ibunya, Rahayu ketika melahirkannya. Hingga ayahnya, Nugroho menikah lagi dan mempunyai satu orang anak. Sampai pada saat Nugroho pergi melaut dan tidak pernah kembali. Dalam sekejap Ibu tiri Sri Ningsih berubah drastis menjadi galak dan sering memukulnya. Kebaran menjadi insiden berakhirnya hidup Ibu tirinyaa, sampai dia dan adiknya harus tinggal di pondok pesantren, Surakarta.

Perjalanan kisah yang dialami Sri Ningsih banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Untuk menjadi seorang Sri Ningsih yang begitu luar biasa dia harus melewati kehidupan yang penuh dengan kesedihan, pengorbanan, keikhlasan, penghianatan, kesabaran, kerja keras, dan juga memaafkan, menerima semua kejadian dengan tanpa dendam sedikitpun.  Dan Paris, merupakan perjalanan terakhir bagi Sri Ningsih. Perjalanan panjang yang melelahkan hingga dia harus meninggalkan semuanya. Bersembunyi dan tinggal di panti jompo. Sebelum meninggal, Sri Ningsih meninggalkan surat wasiat dengan cara yang unik. Cara yang membuat Zaman bisa menelusuri kembali jejak-jejak kehidupannya.

Unsur Intrinsik Novel
1.        Tema: Perjalanan dan perjuangan seseorang untuk menelusuri kehidupan seorang wanita yang meninggalkan harta warisannya
2.        Latar Belakang : London, Paris, Jakarta, Surakarta Jawa Tengah, Pulau Bungin Sumbawa.
3.        Waktu : Dari pagi hingga malam
4.        Suasana : Semangat, sedih, bahagia, haru dan tegang.
5.        Alur : Novel ini menggunakan alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi flashback ke masa lalu dan kejadian masa datang.
6.        Sampul dan Judul: Novel ini bersampul coklat dengan gambar sepasang sepatu. Sepasang sepatu yang menggambarkan perjalanan hidup seseorang
7.        Gaya Bahasa : Menggunakan gaya bahasa sastra tinggi tetapi masih mudah dimengerti oleh para pembacanya.
8.        Amanat: Dalam perajalan hidup jangan pernah ada kata menyerah dan terus bersemangat. Tidak ada kata penyesalan, dendam dan benci untuk hal-hal yang sudah berlalu.
9.        Sudut Pandang : Penulis sebagai orang ketiga serba tahu.
10.    Penokohan:
a)      Sri Ningsih : Sosok perempuan yang mempunyai semangat tinggi, kuat dan tegar, keinginannya untuk mandiri sejak muda membawanya menjadi perempuan yang luar biasa meski dengan kisah hidup yang sangat menyakitkan.
b)       Zaman Zulkarnaen: Pengacara muda, cerdas dan jujur yang bekerja di sebuah firma hukum Thompson & Co di London. Zaman seorang yang bersemangat dan pantang menyerah.
c)      Sulastri : Seorang wanita yang pendendam, ambisius dan kejam. Tega melakukan apapun demi benci serta kecemburuannya pada Sri Ningsih terpuaskan.
11.    Perbandingan dengan buku lain: Novel ini merupakan sebuah teka-teki dan kepingan puzzle yang sulit ditebak akhir ceritanya.
12.    Kelebihan buku: Dari awal kisah pilihan dan susunan katanya sudah menarik para pembaca untuk menelusuri sampai akhir cerita dengan penggunaan bahasa Tere Liye sudah tidak diragukan lagi. Pesan moral dan amanat yang terkandung dalam cerita sangat bermanfaat sekali bagi pembacanya.
13.    Kekurangan buku: Pada bagian blurb kurang menggambarkan isi keseluruhan cerita. Pandangan pembaca akan salah jika hanya melihat dari sinopsisnya, setelah membacanya tentu inti ceritanya bukan itu.
14.    Qoutes: Beberapa qoutes yag terdapat dalam novel ini di antaranya
“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.”

“Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.”

 “Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru.”

10 komentar:

  1. Mantap. Dapat esensinya. Lumayan lengkap resensinya mbak ayu ni.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah 😇 terima kasih mas 😊

    BalasHapus
  3. cukup lengkap, Mbk ...
    tpi menurut saya lebih baik sih dijadikan dalam bentuk narasi saja.

    BalasHapus
  4. Wahh penggemarnya tere liye juga ya 😂

    BalasHapus
  5. 🙈 maaf, Kak
    Aq nemu beberapa typo
    Tp selebihnya bagus n lengkap 😉

    BalasHapus
  6. Belum pernah baca, tapi pas baca ini jd pen baca🤗

    BalasHapus