Aku Riri Apriani teman-temanku biasa
memanggilku Riri, aku anak kedua dari dua bersaudara, hidupku yang sederhana,
kepribadianku yang kadang manja, cuek, bawel, dan sok dewasa ya itulah aku, aku
sekarang duduk disalah satu Universitas Islam Negeri di kotaku, aku tersadar
ketika aku masih memakai putih abu-abu aku memiliki mimpi bisa menduduki bangku
perkuliahan dan sekarang Tuhan telah mewujudkan mimpiku.
Memasuki semester dua sekarang jadwal kuliahku
begitu padat, banyak kegiatan dan tentu tiada hari tanpa tugas. Oh ya aku
memiliki sahabat namanya Astuti, kami memiliki sifat yang hampir sama mungkin
dikarenakan kami terlahir dibulan yang sama, tapi bedanya aku feminim dan dia
tomboy.
Nah itulah sedikit cerita tentang kehidupanku dan
bicara tentang cowok hmmm sampai saat ini aku belum terpikir untuk memilikinya,
dan kalau ditanya mengapa tentu ku jawab “aku ingin fokus kuliah” dan terlebih
ada alasan lain yaitu masih ada seseorang yang sampai saat ini melekat dihatiku
entah sampai kapan juga aku bisa berpaling darinya, mengenai hal ini jangan
ditanya ya pasti tahu deh.
Sejenak kita lupakan hal itu dan seperti yang ku
bilang tadi hari ini aku disibukkan dengan kegiatan ARITMATIKA, kegiatan itu
hanya diadakan oleh jurusan kami yaitu Matematika, ya kalian tahu aku kuliah
dengan latar belakang pendidikan Matematika yang sering dikatakan bahwa
Matematika itu lebih seram daripada hantu. Tapi bagiku itu adalah keputusanku
yang sudah yakin aku ambil dan sekarang aku hanya menjalani sewajarnya seorang
Mahasiswi.
“Ri kamu liat deh cowok yang memakai baju kaos
hitam merah bergaris-garis itu," Tuti menunjuk kearah cowok yang
dimaksudnya.
“Memangnya kenapa Ti?" sahutku.
“Dia itu yang menjadi kakak voluntirku waktu
ospek," jawab Tuti memberi penjelasan.
“Terus apa hubungannya denganmu?" Aku
penasaran apa yang dimaksud sahabatku itu.
“Dia keren kan?" manis lagi hehe aku suka
melihatnya."
Sejenak aku melirik sosok lelaki yang diceritakan
Tuti, benar apa yang Tuti bilang dia keren dengan gayanya yang cool.
“Hey kamu kenapa melamun Ri?" Suara Tuti
mengagetkanku.
“Oh emm tidak apa-apa kok."
“Kamu pasti suka juga sama cowok itu?"
“Sekadar suka dan kagum saja." jawabku
sambil tersenyum.
“Tidak lebih dari itu?"
“Sudalah seperti tidak tahu aku saja kamu Ti.”
Itulah awalnya aku mengenal dia dari sahabatku
Tuti, ya memang benar apa yang dibilang Tuti, dia keren, berwibawa, santai dan
tentu banyak kaum hawa yang terpikat dengannya.
“Eh kalian ngomongin apa si?" Tiba-tiba
suara Via sahabatku dan Tuti mengagetkan kami yang sedari tadi tidak lepas
pandangannya melihat sosok cowok misterius itu.
“Cowok itu siapa namanya Vi?" tanya Tuti kepada
Via.
“Oh itu? Itu kak Upi namanya", jawab Via.
“Upi? Nama lengkapnya siapa?" sambungku
penasaran.
“Aku tidak tahu tapi aku tahu nama facebooknya,
kalian mau?"
“Tentu dong!” jawab kami semangat.
Via memberi tahu apa nama facebook kak Upi dan
langsung saja aku membuka facebookku dan mencari namanya, tidak membutuhkan
waktu yang lama untuk mencari namanya tentu saja aku langsung mengirim
pertemananku kepadanya, ternyata eh ternyata saat aku melihat nama lengkapnya
yang tertera dalam profilnya nama lengkap dia yaitu Jupri, hah? Masa iya aku
setengah tidak percaya.
“Kamu kenapa Ri?" tanya Tuti.
“Kamu lihat deh Ti, cowok yang kamu maksud itu
nama lengkapnya Jupri” aku memperlihatkan ponselku pada Tuti dan menujukkan
nama cowok yang kami maksud.
“Hah? Ganteng-genteng kok namanya Jupri si? Tidak
sesuai dengan orangnya tuh ....
“Eh kamu tidak boleh berbicara seperti itu
Ti" tegurku.
“Ya ya maaf Ri, habisnya aku tidak percaya."
“Hmmm pantas saja nama samarannya Upi,"
sahutku.
Sejak mengenal namanya aku semakin penasaran
dengannya, setiap kali aku bertemu dengannya aku tidak pernah menyapanya,
begitupun dia, aku mengenalnya tapi dia tidak dan tidak jarang aku melihatnya
duduk-duduk dit depan kelas bersama teman-temannya dan setiap hari pula tidak
lepas perbincanganku dengan Tuti mengenai cowok yang benama Upi.
“Tadi aku bertemu dengannya Ri," Belum
sampai Tuti duduk dibangkunya dengan semangat dia menceritakan kejadian yang
baru dialami.
“Siapa Ti?" tanyaku penasaran.
“Ya itu kak Upi.”
“Oh si Upin Ipin ya?" lanjutku.
“Upi Riri bukan Upin Ipin, gerutu Tuti kesal
dengan apa yag ku ucapkan.
“Hehe tidak ada salahnya kan aku memanggilnya
dengan gelar Upin Ipin? Toh tidak ada yang tahu kalau kita sedang membahas dia,
apalagi dengan gelar seperti itu.”
“Bener juga ya apa kata kamu Ri, biar yang lain
tidak ada yang tahu kalau kita sedang membahas dia hehe.”
“Oh ya sampai sekarang belum diterima
pertemananku difacebook Ti.”
“Hmm kamu mainnya di facebook, temuin langsung
dong ajak dia kenalan.”
“Ah kamu, aku bukan tipe cewek seperti itu, kamu
saja sana Ti.”
“Aku juga tidak mau, karena aku sudah ada yang
punya.”
“Iya kamu enak, kan cuma kenalan doang apa
hubungannya kamu sudah ada yang punya?"
“Nanti malah dia yang tertarik denganku hehe mau
dikemanain princesku.”
“Dasar kamu Ti ... Ti ....
“Ayo dong semangat mengejar cinta Upin Ipin, kamu
pasti bisa Ri."Aku hanya tersenyum saat Tuti mengatakan mengejar cinta
Upin Ipin.
“ Ada-ada saja kamu Ti, baiklah akan ku kejar
Cinta Upin Ipinku dengan tetap menantinya dalam diam.”
“Yang benar saja kamu Ri? Memangnya bisa
ya?"
“Ya bisa kalau Tuhan berkehendak,” jawabanku
membuat sahabatku Tuti terdiam tidak bisa lagi menyanggah ucapanku.
Hari demi hari berlalu, sesaat aku sudah lupa
dengan Upi, tapi setiap kali aku melihatnya harapan itu selalu saja muncul,
harapan untuk bisa mengenalnya lebih jauh dan tidak sekedar bertatap muka tapi
tidak pernah berucap. Untuk mengejar cintanya kusurutkan niat itu, aku tidak
berani menyapanya apalagi untuk memulai berkenalan dengannya dan mungkin saja
dia tidak pernah tahu bahkan mungkin dia tidak perduli ada aku disini yang
selalu memperhatikannya walau hanya dari jauh, jauh dari pandangan mataku.
Tersadar dengan apa yang kurasa sekarang bukanlah
perasaan cinta yang sebenarnya, aku hanya sekedar kagum, dan tentu mustahil
seorang hawa tidak memiliki rasa suka terhadap lawan jenisnya. Mulai sekarang
ku batasi perasaan ini, karena ku yakin suatu saat jika Tuhan mengizinkan, aku
pasti bisa mengenalnya lebih dekat.
Tenang saja aku tidak akan mengusik hidupmu, akan
kubiarkan waktu yang membuatmu sadar ada aku yang menantimu disini, aku
mengejar cintamu dalam diam. Tentu tidak wajar bagaimana akan sampai dikatakan
mengejar, tapi aku tetap diam menanti, tapi harapan demi harapan yang
kucurahkan untukmu itulah yang mengejar cintamu beriringan dengan doa.
End...
Cerpen pertamaku, mohon koreksinya.







